Kepala BKN Lempar ke TNI AD & BNPT Soal Hasil TWK KPK Disebut Rahasia Negara

Selasa, 22 Juni 2021 20:13 Reporter : Bachtiarudin Alam
Kepala BKN Lempar ke TNI AD & BNPT Soal Hasil TWK KPK Disebut Rahasia Negara Kepala BKN Bima Haria Wibisana. ©2020 Merdeka.com/Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana menyebut bahwa pihaknya sudah tidak memang hasil tes wawasan kebangsaan (TWK), karena semua berkas instrumen telah diserahkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Jadi BKN menerima hasil TWK, hasilnya kumulatif ya bukan orang perorang. Hasil ini dalam bentuk dokumen yang tersegel. Ini kami sudah serahkan semuanya ke KPK. BKN saat ini tidak pegang dokumen apa-apa," katanya di Kantor KomnasHAM, Jakarta, Selasa (22/6).

Lantas apabila ada pihak yang masih meminta instrumen dokumen tersebut, jawab Bima, pihaknya telah mencoba meminta ke Dinas Psikologi Angkatan Darat. Akan tetapi berdasarkan instruksi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dokumen instrumental TWK tersebut dinyatakan rahasia.

"Nah sekarang ketika,saya ditanya kalau diminta bagaimana? Saya enggak tahu saya sudah tanya ke Dinas psikologi Angkatan Darat berdasarkan instruksi Panglima TNI itu rahasia," ujarnya.

Termasuk, lanjut Bima, terkait hasil profailing pegawai KPK yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Hasil tes tersebut juga dinyatakan sebagai dokumen rahasia negara.

"Saya tanya BNPT, ini kalau profailing bisa engga diminta. Ini adalah, profailing ini didapatkan dari suatu aktivitas intelejen. Sehingga menjadi rahasia negara," katanya.

"Jadi saya saya sampaikan, ini menurut Dinas Psikologi Angkatan Darat dan BNPT rahasia, jadi bukan saya yang menetapkan rahasia. Tapi pemilik informasi itu," tambahnya.

Sehingga, Bima menjelaskan jika status rahasia dokumen tersebut semuanya bergantung kepada para pemilik dokumen dalam hal ini Dinas Psikologi Angkatan Darat dan BNPT. Oleh sebab itu, BKN tidak memiliki kapasitas dan kewenangan dalam membuka dokumen tersebut, terkecuali ada keputusan dari pengadilan barulah dokumen tersebut bisa ditunjukan.

"Saya sebagai assesor kan punya aturan etik, kalau saya menyampaikan pada sifatnya rahasia jabatan saya. Saya kena pidana. Tapi kalau berdasarkan putusan pengadilan kalau itu boleh, ya boleh. Jadi supaya enak, dan tidak orang lain melanggar aturan bisa diselesaikan seperti itu," tegasnya.

"Ya tapi kalau mereka berubah aturan ya silakan saja, dia kan pemilik informasi. Tersimpannya informasi kan tidak di kami. Jadi itu yang saya sampaikan. Jadi seperti itu. Jadi BKN mah boleh-boleh saja, tapi pemilik informasi bukan ada di kami. Dan ada di instansi lain," tutup Bima.

Untuk diketahui jika KomnasHAM telah menerima laporan dari pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dinonaktifkan pasca tak lulus tes wawasan kebangsaan (TWK), Senin (24/5) lalu di Kantor KomnasHAM, Jakarta Pusat. Dalam laporan itu, setidaknya ada delapan hal yang dinilai sebagai bentuk dugaan pelanggaran HAM. [fik]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini