Kemerosotan moral di akhir Majapahit & lahirnya Wali Songo

Senin, 15 Juni 2015 15:41 Reporter : Moch. Andriansyah
Kemerosotan moral di akhir Majapahit & lahirnya Wali Songo Sunan Gresik. ©istimewa

Merdeka.com - Kerajaan Majapahit mencapai kejayaan di era Prabu Hayam Wuruk dengan Mahapatihnya yang tersohor, Patih Gajah Mada. Namun sejak kedua tokoh sentral itu wafat, kekuatan Majapahit berangsur-angsur surut dan melemah.

Perang saudara tak bisa dihindari. Bahkan kerajaan di bawah Majapahit berlomba melepaskan diri. Saat itu, kemerosotan moral tak terkendali. Ditambah wabah penyakit serta kemiskinan terjadi di sana-sini.

Kekacauan akibat politik di Majapahit ini lah, yang menjadi menjadi momentum awal peranan Wali Songo muncul.

Wali pertama yang mulai menyebarkan agama Islam di tanah Jawa adalah Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau lebih dikenal Sunan Gresik atau Kakek Bantal, yaitu sekitar Tahun 1392 hingga 1419.

"Ketika Syeikh Maulana Malik Ibrahim pertama datang, kondisi moral masyarakat Jawa sudah porak-poranda akibat perang di Majapahit. Kali pertama datang, beliau menetap di Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, untuk berdagang," terang pengurus sekaligus pemandu doa di Makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim, Abdul Wahab kepada merdeka.com, Rabu (3/6).

Pilihan wali asal Campa, Kamboja itu untuk menetap dan tinggal adalah di Desa Leran. Karena waktu itu, penganut Islam sudah cukup banyak di pesisir utara Kabupaten Gresik tersebut. "Ini dibuktikan dengan adanya makam Islam pertama di Indonesia, yaitu makam Fatimah binti Maimun," katanya.

Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang dikenal sebagai saudagar kaya raya, menganggap perlu memperbaiki kondisi moral sekaligus ekonomi masyarakat Jawa saat itu. "Sebagai saudagar kaya, Syeikh Maulana Malik Ibrahim menjual dagangannya dengan harga murah agar bisa ikut meringankan beban ekonomi masyarakat," sambungnya.

Sembari berdagang dengan harga-harga murah, Sunan Gresik mulai menanamkan pengaruhnya. Dia mulai menyisipkan ajaran Islam di sela berdagang. "Beliau butuh dua tahun untuk mempelajari adat istiadat, perilaku dan tradisi budaya setempat, agar bisa menancapkan ajaran Islam yang Rahmatan Lilalamin kepada masyarakat dengan mudah," ceritanya.

Selain mengajar ilmu agama di sela berdagang, Sunan Gresik juga mengajarkan masyarakat, yang waktu itu masih menganut ajaran Hindu dan Budha, tentang sistem bercocok tanam agar mendapat hasil yang baik.

Tak hanya itu, metode dakwah melalui sistem pengobatan serta pembangunan akhlak mulia juga ditanamkan oleh wali yang juga dikenal Kakek Bantal tersebut.

Selanjutnya, kedermawanan dan kewibawaan Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik alias Kakek Bantal ini, makin terkenal. Banyak masyarakat yang akhirnya berguru kepadanya. Sunan Gresik pun mendirikan Masjid Pasucinan di Desa Pasucinan, Leran, Kecamatan Manyar.

Lokasi masjid yang digunakan sebagai tempat menempa ilmu agama ini, berada di dekat Makam Fatimah binti Maimun dan kuburan dowo (makam panjang).

Syeikh Maulana Malik Ibrahim juga dikenal sebagai Wali Songo tertua dan orang yang pertama kali mendirikan padepokan atau pondok pesantren. Pondok pesantren diadopsi dari sistem pendidikan Hindu dan Buddha yang murid-muridnya dikenal dengan sebutan santri.

Syeikh Maulana Malik Ibrahim wafat pada 12 Robiul Awal Tahun 822 Hijriyah atau 9 April 1419. Belia disemayamkan di Gapuro Sukolilo, Kecamatan Kota Gresik, Kabupaten Gresik. [rep]

Topik berita Terkait:
  1. Wali Songo
  2. Jakarta
  3. Sejarah Indonesia
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini