Kemenristek Bentuk Konsorsium Covid-19 Cari Vaksin Corona

Kamis, 26 Maret 2020 13:49 Reporter : Merdeka
Kemenristek Bentuk Konsorsium Covid-19 Cari Vaksin Corona Bambang Brodjonegoro. ©2020 Merdeka.com/Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) membentuk Konsorsium Covid-19 guna mencari alat deteksi virus Corona, obat sekaligus vaksinnya.

"Seluruh tim peneliti Kemenristek/BRIN sedang bekerja keras untuk membantu mencegah, mendeteksi, dan merespon secara sepat penyakit COVID-19 di antaranya dengan menemukan alat deteksi atau diagnosis, suplemen, obat, dan vaksin untuk pasien COVID-19. Ada target jangka pendek, menengah, dan panjang yang harus dicapai," papar Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro dalam video konferensi, Kamis (26/3/2020).

Menristek mengungkapkan akan ada tiga prioritas dari tim konsorsium ini. Pertama adalah prioritas jangka pendek yang berfokus pada penelitian dan kajian sistematik terhadap berbagai aspek dari Covid-19, termasuk di dalamnya penelitian terkait tanaman herbal yang berpotensi untuk mencegah Covid-19.

"Seperti jahe merah, meniran, sambiloto, echinaceae, temu lawak, lada hitam, serai, kunyit, kayu manis, seledri, cengkeh, kulit manggis, daun kelor, kulit jeruk, dan jambu biji. Penelitian terhadap jambu biji sudah memiliki hasil yang potensial untuk dilanjutkan pada uji klinis," kata Bambang.

Prioritas jangka pendek juga, ia melanjutkan akan mencakup pengembangan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker, hand sanitizer, sterilization chamber (tenda sterilisasi coronavirus) serta pengkajian terhadap sediaan bahan alami sebagai peningkat imun tubuh untuk mencegah COVID-19. Penelitian juga perlu dilakukan terhadap aspek sosial humaniora, termasuk ketahanan (resiliensi) dan perilaku masyarakat, perbandingan kebijakan dan manajemen Covid-19 di negara lain, analisis ekonomi makro dan mikro di Indonesia terkait Covid-19.

"Beberapa kajian lagi juga mencakup berbagai isu terkait Covid-19 di media sosial, public health modelling, serta proyeksi dan prediksi grafik dan peta spasial dari penyebaran Covid-19 di Indonesia," paparnya.

Sementara prioritas kedua dari Konsorsium Covid-19 adalah Prioritas jangka menengah yang berfokus pada pengembangan dan pengkajian Rapid Test Kit untuk COVID-19 baik untuk deteksi awal (early detection) maupun deteksi akhir (late detection); pengembangan suplemen, multivitamin, dan immune modulator dari berbagai tanaman Indonesia, salah satunya jambu biji; pengembangan robot layanan (service robot) untuk ruangan dengan infeksi coronavirus yang tinggi, smart infusion pump untuk memasukkan obat dalam tubuh pasien COVID-19 serta pengembangan lainnya.

"Prioritas ketiga dari Konsorsium COVID-19 adalah Prioritas Jangka Panjang yang berfokus pada pengkajian dan pengembangan obat dan vaksin, termasuk avigan, chloroquin, kina, dan sebagainya," ungkapan Bambang.

Menurut Menristek, target jangka pendek atau quick win dari menengah, dan panjang tersebut akan dicapai oleh Tim Konsorsium Covid-19 dengan pendanaan khusus dalam koordinasi Kemenristek/BRIN dengan beberapa lembaga negara non kementerian (LPNK), perguruan tinggi, dan industri yang nanti akan tergabung dalam tim tersebut.

Sebelum pembentukan Konsorsium COVID-19, Kemenristek/BRIN sudah mengkoordinasikan berbagai lembaga litbangjirap, termasuk dari lembaga pemerintah non kementerian (LPNK) mencakup Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), dan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman; Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan; perguruan tinggi mencakup Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Sepuluh November, dan Universitas Airlangga; industri farmasi mencakup PT Biofarma dan PT SOHO; serta para peneliti diaspora Indonesia di luar negeri untuk bekerja sama dan bersinergi dalam menghasilkan kajian dan inovasi yang bermanfaat dalam mencegah, mendeteksi, melakukan skrining, menunjang diagnosis, merespon serta mengobati Covid-19.

"Dari perguruan tinggi, sudah terdapat gabungan penelitian yang dapat dilanjutkan oleh Konsorsium Covid-19. Penelitian ini dilakukan oleh gabungan peneliti dari Fakultas Kedokteran UI, Fakultas Farmasi UI, Departemen Ilmu Komputer IPB, dan Pusat Studi Biofarmaka Tropika IPB dalam bidang bioinformatika untuk menemukan bahan herbal sebagai kandidat potensial untuk antivirus bagi coronavirus melalui analisis big data dan machine learning serta metode pemodelan molekuler," jelasnya.

Bambang mengungkapkan, dari hasil screening aktivitas terhadap ratusan protein dan ribuan senyawa herbal berkaitan dengan mekanisme kerja coronavirus, dihasilkan beberapa golongan senyawa yang berpotensi mencegah dan menghambat coronavirus, antara lain hesperidin, rhamnetin, kaempferol, kuersetin dan myricetin yang terkandung dalam jambu biji (daging buah merah muda), daun kelor, dan kulit jeruk.

"Kolaborasi riset dengan salah satu industri farmasi sedang dilakukan untuk menjadikan olahan farmasi dari jambu biji dapat segera diberikan bagi masyarakat maupun pasien Covid-19," ucapnya.

Bambang juga mengatakan bahwa selain di kegiatan litbangjirap, Kemenristek/BRIN juga akan berkontribusi membantu masyarakat dan instansi kesehatan (Rumah Sakit) melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai pimpinan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dengan memberikan bantuan berupa hand sanitizer produksi BPPT dan LIPI, penyemprotan disinfektan menggunakan drone untuk beberapa wilayah perumahan, serta pemberian prototype disinfectan/sterilization chamber di beberapa fasilitas umum. [ded]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini