Kembangkan penyidikan korupsi simulator SIM, KPK tunggu fakta baru

Selasa, 29 Maret 2016 03:03 Reporter : Yunita Amalia
Gedung KPK. ©2014 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak akan memanggil saksi untuk pemeriksaan perkara dugaan korupsi, atas permintaan seseorang. Penegasan itu merespon pernyataan Sukotjo Sastronegoro Bambang, tersangka kasus pengadaan alat simulator SIM Korlantas Mabes Polri yang menyindir KPK karena tidak memeriksa AKBP Teddy Rusmawan yang disebutnya sebagai pelaku utama korupsi simulator SIM.

"Intinya pengembangan perkara yang dilakukan KPK adalah murni hanya berdasarkan bukti, bukan dari permintaan seseorang," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Informasi KPK, Priharsa Nugraha di Jakarta, Senin (28/3).

Sukotjo menyebut nama AKBP Teddy Rusmawan sebagai pelaku utama dalam kasus Tindak Pidana Korupsi simulator SIM. "Saya sudah mengatakan Teddy Rusmawan pelaku utamannya. Tapi kenapa Teddy Rusmawan masih berada di luar hari ini," tegasnya.

Priharsa menegaskan proses penyelidikan masih terus berjalan. Meski AKBP Teddy Rusmawan, Direktur PT Citra Mandiri Metalindo Abadi Budi Susanto disebut-sebut terlibat dalam suap menyuap kasus ini, pihaknya masih membutuhkan fakta baru persidangan. Priharsa mengatakan tidak menutup kemungkinan pengembangan penyidikan dilakukan KPK jika menemukan fakta-fakta baru dalam persidangan.

"Proses penyelidikan masih berlangsung dan bukan tidak mungkin nanti bisa proses ini ada di persidangan akan terungkap fakta baru yang nanti akan menjadi pijakan KPK untuk mendalami perkara ini," katanya.

Seperti diketahui, dalam kasus ini, KPK menetapkan 4 orang tersangka diantaranya mantan Kakorlantas Polri Irjen Djoko Susilo, mantan wakil Kakorlantas Polri Brigjen Pol Didik Purnomo, Direktur PT Inovasi Teknologi Indonesia, Sukotjo Sastronegoro Bambang, dan Direktur Utama PT Citra Mandiri Metalindo Abadi, Budi Susanto.

Pengadilan Tipikor menjatuhkan vonis pidana 10 tahun penjara dan denda Rp 500 juta kepada Djoko Susilo. Hukuman Djoko diperberat menjadi 18 tahun penjara denda Rp 1 miliar dan uang pengganti Rp 32 miliar di tingkat Pengadilan Tinggi. Pada tingkat kasasi, majelis hakim pun menguatkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, dan kini Djoko sudah di eksekusi dan menjalani hukuman di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

Sementara Didik divonis pidana 5 tahun penjara denda Rp 250 juta subsidier 3 bulan kurungan penjara. Namun vonis yang dijatuhkan pengadilan Tipikor belum inkracht.

Untuk Sukotjo dan Budi masih dalam tahap penyidikan. Keduanya dijerat Pasal 2(1) dan atau Pasal 3 undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55(1) ke-1 jo Pasal 56 KUHP. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Kasus Simulator SIM
  2. KPK
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini