Kembangkan gudeg di Abu Dhabi, Esther kesulitan cari krecek

Selasa, 17 Maret 2015 06:28 Reporter : Sri Wiyanti
Kembangkan gudeg di Abu Dhabi, Esther kesulitan cari krecek Gudeg Abu Dhabi. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Masakan Indonesia terkenal kaya bumbu racikan, termasuk gudeg. Namun, RA Estherlita Suryoputro (57) mengaku tidak terlalu sulit mendapatkan bahan dasar gudeg, masakan khas Indonesia andalannya di Abu Dhabi.

Menurut Esther, nangka muda sebagai bahan dasar gudeg, mudah didapat di Uni Emirat Arab (UEA). Selain itu, tempe dan tahu serta gula merah cukup mudah diperoleh di negeri penghasil minyak bumi tersebut.

"Iya kebetulan nangka fresh itu mudah didapat di UAE, jadi saya semangat buat bikin gudeg. Bahan makanan Indonesia hampir mirip dengan Filipina dan India karena itu gak sulit dapetin bahan dan bumbunya. Tempe tahu mah gampang, banyak yang jual. Gula merah juga banyak. Laos, sereh, jahe, kunyit, daun jeruk, daun kunyit itu ada, bahkan pete pun ada," tutur Esther saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (12/3).

Namun, bahan gudeg yang tidak bisa didapatkan Esther di Abu Dhabi, krecek, kencur dan daun salam segar. Untuk krecek dan daun salam segar, Esther harus memboyongnya langsung dari Indonesia. Untuk Kencur, Esther mengaku harus menanam sendiri kencur di Abu Dhabi.

"Kalau krecek saya harus bawa dari Indonesia. Saya beli di Jakarta saja, yang masih mentah, dibawa mentah lalu digoreng di Abu Dhabi. Saya bawa 5 kg sekali mudik dan itu jadinya ampun lho banyak banget. Kalau gak keburu mudik krecek sudah habis, biasanya saya titip teman saja. Tapi setahun memang beberapa kali kiriman krecek. Daun salam bawa dari Indonesia dua macam, yang khusus untuk nasi uduk dan yang untuk masakan biasa. Bawa segar lalu masuk freezer, tetap segar walau setahun," papar Esther.

Esther juga melakukan modifikasi gudeg agar bisa diterima lidah WNI di Abu Dhabi yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. "Bagaimana supaya tetap hitam, tapi gak terlalu manis itu melalui proses panjang. Akhirnya saya menemukan caranya dan seneng banget ketika ada teman saya yang berasal dari Padang, mau pengajian kok pesennya gudeg, juga temen manado saya juga ketika akan kebaktian lha pesennya gudeg. karena mereka tau gudeg saya gak semanis seperti lazimnya yang kita jumpai di Yogya. Pesanan gudeg selalu membludak," ungkap Esther.

Untuk gudeg komplit dengan isian gudeg, krecek, opor ayam potong potong dan dua buah telur, Esther membanderol dengan harga 50 dirham UEA. "Itu cukup untuk 3 orang makan, sekali makan ke warung Indonesia bisa 25 dirham hingga 30 dirham," tutur Esther. [siw]

Baca juga:
Trik apik bisnis ternak jangkrik
Kulik laba dari kerupuk jangkrik
Karena jangkrik, Bambang jadi bos beromzet miliaran
Laris di Timteng, Bu Esther rambah bisnis presto ke Amerika Serikat
Kisah Bu Esther jualan gudeg di Abu Dhabi, obati kangen para WNI
Besarkan 'radja ketjil', Renaldo tinggalkan kursi bankir

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Bisnis Kuliner
  3. Wirausaha
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini