Kehidupan Zohri si pelari cepat dunia asal NTB

Jumat, 13 Juli 2018 07:37 Reporter : Ali Dungga
Zohri. ©2018 Lehtikuva/Kalle Parkkinen via REUTERS

Merdeka.com - Lalu Muhammad Zohri (18) adalah anomali. Dia sosok yang mampu mencetak prestasi tingkat dunia dengan segala keterbatasan. Pemuda yatim piatu yang hidup di lingkungan keluarga miskin di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Namun prestasinya membuat dunia tercengang dengan menjadi yang tercepat di nomor 100 meter pada kejuaraan Dunia U20 IAAF, di Tampere, Finlandia, Rabu (11/07).

Pernah di salah satu event Kejurnas mewakili NTB, Zohri seorang diri memborong delapan medali sekaligus. Sebuah pencapaian yang sensasional. Apalagi di tingkat internasional, dalam dua kali even di Singapura dan Thailand, Zohri mampu menyumbang perak untuk Indonesia.

Nama Zohri dapat dikatakan mengikuti jejak pendahulunya, Sudirman Hadi atlet nasional asal Pemenang Barat- yang lebih dulu ditarik Pelatnas. Zohri patut menjadi inspirasi bagi anak-anak muda usia sekolah khususnya di KLU. Zohri berstatus yatim piatu. Semasa Sekolah Dasar, ibunya, Inaq Saerah, meninggal dunia. Sedangkan Ayahnya, L. Ahmad, menyusul meninggalkan Zohri pada Agustus 2017.

Zohri lahir dan dibesarkan dari keluarga kurang mampu. Itu tergambar jelas dari jejak kediaman orang tuanya di dusun Karang Pangsor. Tempat tinggal Zohri sebuah rumah berdiri di atas pondasi ukuran 6x4 meter, emperannya 1,5 meter.

Rumah keluarga Zohri terkategori kumuh. Lantai lapisan semen sudah rusak. Dindingnya bambu dengan penyangga kayu. Atap rumah dari genteng tanah liat yang sudah lapuk. Dari dalam, terlihat jelas matahari dengan mudahnya masuk dari celah dinding bambu.

"Pekerjaan orang tua Zohri sebagai nelayan. Kadang mengerjakan sawah orang lain dengan sistem bagi hasil," ungkap Fatoni, keluarga Zohri mengenang pekerjaan almarhum L. Ahmad.

Ditinggal seorang ibu kandung, cukup berat bagi Zohri dan kedua kakaknya. Sebagai anak bungsu, Zohri lebih banyak mendapat perhatian dari kakak sulung perempuan, Baiq Fazilah. Namun tidak semua waktu bisa dihabiskan bersama. Karena saat kedua kakaknya menikah, Zohri harus terbiasa tinggal bersama ayahnya sampai tamat kelas 3 SMP. Apalagi Zohri juga kerap ditinggal bekerja ke Gili Trawangan oleh kedua kakaknya.

"Saya dan Fazilah bekerja di Trawangan, dari Senin sampai Sabtu di sana, hari Minggu baru balik ke darat. Jadinya rumah ini sering kosong," kenang L. Ma'rif, kakak kandung Zohri.

Ma'rif sebenarnya pernah mengajak Zohri dan ayahnya semasih hidup untuk tinggal bersama di rumah yang cukup layak. Tetapi Zohri lebih memilih mendiami rumah bambu bersama ayahnya. Fatoni pernah menjabat sebagai Kepala Dusun Karang Pangsor. Rumah Zohri diupayakan dibantu melalui program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Tetapi sampai hari ini, bantuan belum kunjung turun.

"Saya menjabat sebagai kepala dusun sampai tahun 2014, saat itu saya usulkan dibantu kilometer listrik. Alhamdulillah Karang Pangsor dapat empat unit, dan satunya saya berikan kepada Ahmad (almarhum)," kenang mantan Kadus ini.

Sedangkan proposal rumah kumuh belum mendapat respon dari pemerintah. Bahkan Kadus baru yang menjabat pun mengusulkan hal serupa. Fatoni dan kedua saudara kandung Zohri sempat khawatir, kondisi yang memprihatinkan akan menyebabkan Zohri putus sekolah. Apalagi saat duduk di bangku SMP, Zohri pernah sekali tidak naik kelas. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini