Kedubes Italia dukung kesetaraan gender di Lapas Indonesia

Sabtu, 10 Maret 2018 07:21 Reporter : Farah Fuadona
Kedubes Italia dukung kesetaraan gender di Lapas Indonesia Ilustrasi Penghuni Lapas Wanita. ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko

Merdeka.com - Memperingati Hari perempuan Se-dunia, pengusaha Evy Amir Syamsudin didukung Kedutaan Italia di Jakarta, bersama Italian Cultural Institute, Kementerian Hukum dan HAM serta United Nation Information Centre me-launching buku 'Made in Prison'. Buku yang dibuat kurang lebih sembilan bulan ini menceritakan mengenai talenta, kreativitas serta hasil produk yang dihasilkan para warga binaan di lapas Indonesia yang bernilai komersial.

"Karya saya persembahkan bagi wanita-wanita hebat yang mau berubah dalam keterbatasan mereka di dalam lapas," ujar Direktur Second Chance Foundation Evy saat ditemui di Jakarta, Jumat (9/3).

Evy mengakui masih banyak stigma buruk yang disematkan kepada para warga binaan. Stigma buruk yang diberikan terkadang membuat pribadi seseorang menjadi keras. Padahal jika diberi kesempatan mereka bisa menjadi orang yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Di bawah bendera Second Chance memberikan pembinaan yang berkesinambungan agar tercipta kreativitas dan produktifitas yang mempunyai nilai ekonomis berstandar internasional.

Berdasarkan data yang dimiliki terdapat 170 ribu warga binaan di lapas di seluruh Indonesia. Dengan jumlah sumber daya manusia yang begitu besar, warga binaan memiliki potensi mandiri yang begitu besar di berbagai sektor.

"Produk yang dihasilkan para warga binaan bukanlah produk biasa. Dukungan serta sinergitas kita bersama antara kekuatan sosial dan yang bernilai komersil menghasilkan produk-produk berkualitas berstandar internasional dan menembus pasar Eropa dan Asia, seperti sarung tangan bisbol dan furniture," ujar istri mantan Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsudin.

Duta Besar Italia untuk Indonesia Vittorio Sandalli melihat ini adalah kegiatan positif yang mendukung kemanusiaan serta kesetaraan gender di Indonesia. Terutama perempuan yang hidup di lapas. "Kita ini di mana saja, berbangsa apapun pada dasarnya adalah manusia biasa dan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi baik. Tak terkecuali bagi mereka yang saat ini tinggal di dalam penjara" ujar Sandalli.

Pihaknya memberi support untuk peran perempuan sebagai elemen kunci struktur sosial. Khususnya memusatkan banyak upaya untuk memperbaiki institusi pemasyarakatan perempuan. [eko]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini