Kecurangan hingga kerusuhan warnai PON Jabar

Rabu, 21 September 2016 07:51 Reporter : Ya'cob Billiocta
Kecurangan hingga kerusuhan warnai PON Jabar Pembukaan PON 2016. ©2016 merdeka.com/andrian salam wiyono

Merdeka.com - Pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX di Jawa Barat mulai mendapat catatan merah. Salah satunya tudingan keberpihakan panitia kepada atlet tuan rumah. Ini diutarakan Ketua Umum Persatuan Olahraga Berkuda (Pordasi) DKI Jakarta Alex Asmasoebrata.

Dalam hal ini, Porsasi menyoroti fasilitas Wildcard yang didapat Jabar di cabang olahraga tersebut. Sebanyak sembilan kontingen menolak fasilitas Wildcard.

"Kami sembilan kontingen menyatakan menolak Wildcard," kata Alex di Hotel Petra Jasa, Bandung, Senin (19/9).

Sembilan kontingen yang menolak wildcard tersebut berasal dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Riau, Sumatera Barat, Sulawesi Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Mereka menyatakan keberatan dan tidak menyetujui aturan yang tertuang dalam Technical Hand Book (THB) Cabang Olahraga Berkuda. Tuan rumah mendapat dua Wildcard yang otomatis lolos ke babak final setiap kelasnya.

"Sehingga tuan rumah menempatkan 10 ekor kudanya di final tanpa melalui babak penyisihan," ucapnya.

THB tersebut dianggap tidak mengandung semangat sportivitas dan Fair Play yang harus dijunjung tinggi dalam olahraga.

Dia menambahkan, wildcard sendiri menjadikan ajang PON ini diskriminasi. "Filosofi olahraga adalah sportivitas, kejujuran, transparansi dan tidak saling menginjak demi mencapai juara, itu harusnya. Bukan diskriminasi," katanya.

Penolakan terhadap THB tersebut sebenarnya sudah muncul sejak awal 2016. Hasil Munas Pordasi 2015 di Solo, THB pacuan kuda seharusnya dibahas bersama dengan seluruh Pengprov Pordasi melalui tim lecil yang diusulkan dalam Rakernas Pordasi 2016.

Namun karena PP Pordasi tak kunjung membuat tim kecil, maka Pengurus Provinsi (Pengprov) Pordasi seluruh Indonesia menggelar Sarasehan Nasional Pordasi pada 27 Februari 2016. Sarasehan ini salah satunya membahas usulan THB PON XIX/2016 Jabar tentang pacuan kuda yang mencantumkan Wildcard untuk tuan rumah.

"Hasil sarasehan sudah disampaikan kepada Pengurus Pusat (PP) Pordasi. Pada setiap pertemuan dengan PP Pordasi penolakan terhadap Wildcard selalu disampaikan. Namun ternyata Wildcard tetap dipakai," ungkapnya.

Terpisah, Wakil Ketua III PON XIX/2016 Rudi Gandakusuma menegaskan, masalah Wildcard sudah diatur dalam THB Cabang Olahraga Berkuda Pacuan Khusus.

"Kan keputusan akhirnya di Technical Hand Book. Kalau memutuskan tidak, sudah jelas tidak bisa dipaksakan," ungkap Rudi.

Ia menambahkan, pihaknya tidak khawatir masalah Wildcard ini akan mencoreng Jawa Barat sebagai tuan rumah penyelenggaraan PON. "Tidak, tidak boleh dikatakan kecurangan, di THB sudah ada kok, kita tidak ada niat melakukan kecurangan," ucapnya.

Dugaan kecurangan juga terjadi di cabang olahraga judo. Protes keras dilancarkan tim Jawa Timur (Jatim) kepada panitia pelaksana (panpel) judo PON. Alhasil Jatim menuntut tiga medali emas untuk tuan rumah digugurkan.

Mereka menganggap wasit lah yang "memberi" hadiah kemenangan untuk tuan rumah Jabar. Wasit yang memimpin jalannya pertandingan tiga kelas mengambil keputusan yang merugikan pejudo lawan. Tiga kelas tersebut, kata 70 kg putri, nage no kata beregu putra dan putri.

"Tuntutan pencabutan tiga emas itu kita sertakan dalam surat resmi," kata manajer tim judo Jatim, Yoyok Subagiono, Senin (19/9) siang.

Masalah ini ternyata tak hanya dirasakan oleh tim Jatim, tapi juga atlet provinsi lain, seperti DI Yogyakarta, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan. Daerah-daerah ini mengikuti jejak Jatim untuk memboikot pertandingan berikutnya.

"Bayangkan DKI saja ikut boikot. Jatim tidak mau bertanding hari ini di nomor ju no kata beregu kata dan putri. Biarkan Jabar senang," jelasnya.

Minggu (18/9) malam, arena Judo memanas imbas lamanya keputusan wasit setelah pertandingan judo kelas nage no kata dan juno kata. Banyak daerah yang menilai keputusan wasit jauh dari nilai-nilai sportivitas. Penilaian seharusnya tidak berlangsung lama, karena penggunaan teknologi untuk menilai selama pertandingan judo sudah tersedia.

Setelah menunggu sekitar hampir 2.5 jam, keputusan dari wasit muncul. Dari hasil keputusan wasit, Tim Jabar menjadi juara pertama pada kelas na geno kata. Medali perak diraih oleh Jatim, sementara perunggu diraih tim Jateng. Di kelas juno, emas diraih tim Jateng, perak Jatim dan perunggu oleh Jabar. Saat memaparkan hasil, jumlah juri tidak lengkap dan segera pergi.

Masalah lainnya yaitu kericuhan di cabang olahraga polo air yang mempertandingkan tim dari Jawa Barat dan Sumatera Selatan. Atlet asal DKI Jakarta bahkan menjadi korban pemukulan yang dilakukan anggota TNI.

Kericuhan itu pecah di Kolam Renang Komplek Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Selasa (20/9) siang. Hal ini terekam dalam video dan menjadi viral di dunia maya.

Ketua Panpel Polo Air PON XIX Jabar Boyke Mulayana mengurai kronologis singkat versi panpel, bahwa kericuhan terjadi usai Jabar yang semula tertinggal skor 2-0 berhasil membalikkan keadaan.

"Ribut-ributnya di arena awalnya, akhirnya yang lain cukup bereaksi," kata Boyke saat dikonfirmasi merdeka.com, Selasa (20/9).

Kebetulan suporter DKI Jakarta yang menyaksikan di tribun juga seperti tersulut emosi. Di atas tribun keributan memang terjadi karena pertandingan agak keras. Keributan melibatkan anggota TNI.

Namun yang pasti kata dia dua tim yang berlaga dapat menyelesaikan masalah tersebut tidak lama setelah pertandingan selesai. Nasib pertandingan dilanjutkan di mana Jabar mampu melenggang ke final.

Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Hadi Prasojo menyebut video yang menampilkan pemukulan anggota TNI terhadap atlet polo air Jakarta tak utuh. Sehingga kronologi awal tak memperlihatkan adanya pelemparan hingga memantik emosi petugas keamanan. Tak hanya itu, dia juga menyalahkan sikap penonton yang tak menjunjung sportivitas.

"Video itu memang ada, hanya yang sesaat diambil. Kalau lihat keseluruhan aparat dilempar botol air minum duluan," kata Hadi Prasojo di Makodam III/Siliwangi, Kota Bandung.

Penggalan video saat aparat TNI memukul itulah yang kata dia membuat menarik dijadikan berita. Aparat TNI dalam video yang menyebar sejak kemarin malam tampak melakukan pemukulan di tribun penonton saat pertandingan polo air berlangsung.

"Ada kesalahan memang. Tapi ya penonton jangan lempar-lempar itu ke bawah. Ini sudah tidak benar. Kepancing dan kena botol. Jadi penonton tetap santunlah ya," terangnya. [eko]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini