Kecam Banser bakar bendera bertuliskan tauhid, ribuan orang demo di Medan

Jumat, 26 Oktober 2018 15:56 Reporter : Yan Muhardiansyah
Kecam Banser bakar bendera bertuliskan tauhid, ribuan orang demo di Medan Protes pembakaran bendera tauhid di Medan. ©2018 Merdeka.com/Yan Muhardiansyah

Merdeka.com - Ribuan orang berunjuk rasa di Medan, Jumat (26/10). Massa berunjuk rasa menentang pembakaran bendera bertulis kalimat tauhid di Garut, Jawa Barat yang dilakukan anggota Banses saat peringatan Hari Santri Nasional.

Pengunjuk rasa berkumpul di depan Masjid Raya Al Mashun, sekitar Jalan Masjid Raya, Medan. Usai salat Jumat, massa bergerak ke Mapolda Sumut, Jalan Sisingamangaraja, mengikuti truk yang dijadikan kendaraan komando.

Massa yang terdiri dari pria dan wanita menumpangi sepeda motor, mobil, becak, hingga berjalan kaki menyemut di Jalan Sisingamangaraja. Panjang kerumunan di sepanjang jalan lintas itu lebih dari 1 Km.

Pengunjuk rasa membawa banyak bendera putih, hitam dan hijau yang bertuliskan kalimat tauhid. Sebagian di antara mereka juga mengenakan ikat kepala dan topi bertuliskan kalimat serupa.

"Ini aksi solidaritas untuk menentang pembakaran kalimat tauhid di Jawa Barat beberapa waktu lalu. Aksi ini akan berlangaung damai," kata Ade Budiman, seorang peserta aksi.

Protes pembakaran bendera tauhid di Medan 2018 Merdeka.com/Yan Muhardiansyah



Selain melakukan aksi di Mapolda Sumut, massa berencana melaporkan pelaku pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di Garut ke polisi. "Kami berharap polisi memproses pelaku pembakar kalimat tauhid dengan seadil-adilnya, karena tindakan itu telah mencederai umat Islam. Polisi harus memberi respons yang positif. Kami meminta Kapolda memenuhi tuntutan umat muslim ini," harap Ade.

Sebelumnya saat menyampaikan rencana aksi hari ini, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Sumut mengecam keras pembakaran bendera berkalimat tauhid yang dilakukan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Garut, Jawa Barat, Senin (22/10). "Kita ingin menyampaikan kepada semua umat Islam di negeri ini supaya menolak keberadaan Banser di tempat-tempat mereka tinggal, karena dalam pandangan kita Banser ini seperti preman yang memakai bendera agama. Menurut kita seperti itu, tampak dari perilakunya," kata Ketua GNPF Ulama Sumut, Heriansyah.

Menurut Heriansyah, bendera yang dibakar Banser bukanlah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), melainkan Ar Roya, yang merupakan panji Rasulullah, yakni bendera hitam yang bertuliskan kalimat tauhid.

"Bahkan ketika ada HTI pun, bendera itu milik kita umat Islam. Bendera itu bukan bendera HTI. HTI memakai bendera itu karena mereka merasa mereka muslim, maka HTI memakai itu. Bukan karena bendera itu ada karena ada HTI. Ini harus diluruskan," ucapnya.

Heriansyah menilai Banser sengaja memperlihatkan kebenciannya kepada simbol-simbol suci agama. Tindakan pembakaran bendera berkalimat tauhid itu dinilai sebagai sebuah penistaan yang membangkitkan kemarahan. Apalagi, pembakaran bendera itu hanya satu dari rentetan panjang dari tindakan Banser yang dinilai merugikan agama Islam.

"Kita betul-betul marah, demi Allah kita marah. Dan gerakan kita ini, kita beri tagline Bubarkan Banser. Kalau kelompok ini masih tetap ada, peristiwa seperti ini akan terus berulang, kita akan terus dibenturkan seperti itu," ucap Heriansyah. [bal]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini