Kasus Vitamin Kedaluwarsa ke Ibu Hamil di Penjaringan Termasuk Malapraktik

Kamis, 22 Agustus 2019 11:44 Reporter : Hari Ariyanti
Kasus Vitamin Kedaluwarsa ke Ibu Hamil di Penjaringan Termasuk Malapraktik Rilis kasus peredaran obat-obatan tanpa izin edar. ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Pemberian obat kedaluwarsa kepada pasien disebut masuk kategori malapraktik. Belum lama ini, seorang ibu hamil, Novi (21) di Penjaringan, Jakarta Utara diberikan vitamin kedaluwarsa saat memeriksakan kandungan di Puskesmas Kamal Muara, Penjaringan. Dalam bungkus vitamin B6 untuk penguat janin itu, ada keterangan kedaluwarsa pada April 2019 yang telah dicoret.

"Ya aturannya namanya kedaluwarsa enggak boleh diberikan kepada siapapun entah hamil atau tidak, obat kedaluwarsa enggak boleh dikonsumsi-lah. Nah ketika dia diberikan kepada pasien itu jelas tindakan yang bisa dikatakan malapraktik," jelas Ketua YLKI, Tulus Abadi, saat dihubungi Kamis (22/8).

Namun apakah itu memang masuk kategori malapraktik harus diusut apakah itu bentuk kesengajaan atau kelalaian.

"Kesengajaan itu artinya dia sudah tahu tapi karena mungkin demi penghematan atau apa tapi diberikan. Atau kelalaian karena tidak tahu. Tapi ya kalaupun lalai ya fungsi kontrol Puskesmas itu menjadi tidak ada," jelasnya.

Dia pun menyayangkan lembaga kesehatan seperti Puskesmas tidak memperhatikan hal yang sifatnya prinsipil dalam pelayanan terhadap masyarakat tersebut. "Bagaimana mungkin lembaga kesehatan seperti Puskesmas kemudian tidak aware sesuatu yang sangat prinsipil di dalam pelayanannya yaitu masalah obat kepada pasiennya," ujarnya.

Terkait janji pihak puskesmas yang akan menanggung biaya persalinan Novi, menurutnya hal itu sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kompensasi dari puskesmas. Agar kejadian tak terulang, Tulus mengimbau Dinas Kesehatan segera mengeluarkan imbauan kepada puskesmas untuk mengevaluasi ulang dan melakukan peningkatan pengawasan terhadap fasilitas kesehatannya

Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Budhi Herdi Susianto telah memeriksa saksi-saksi guna mengungkap kasus tersebut. Saksi yang diperiksa salah satunya suami korban Bayu Randi Dwitara (19).

"Sampai saat ini kita sudah memeriksa terhadap beberapa orang saksi diantaranya suaminya kemudian pihak dari rumah sakit maupun dari puskesmas itu sendiri. Untuk korban sendiri sampai saat ini belum bersedia diambil keterangannya," kata Budhi saat dikonfirmasi, Rabu (21/8).

Dalam kasus ini, Polisi menduga adanya kelalaian yang dilakukan petugas Puskesmas dalam memberikan obat kepada pasien. Sebab, obat itu terbukti sudah kedaluwarsa.

"Obat itu diberikan pada korban ini adalah memang obat yang sudah kedaluwarsa dan akibat dari korban yang menggunakan atau konsumsi obat itu, membuat mual- mual yang dialami korban. Tapi kami masih menunggu hasil dari pemeriksaan resmi dari rumah sakit, apakah ada pengaruhnya dengan janin di kandungnya atau tidak," bebernya.

Sementara itu Kepala Puskesmas Kecamatan Penjaringan, Agus Ariyanto Haryoso mengaku adanya kelalaian petugas farmasi. Pihaknya meminta maaf atas peristiwa ini. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini