Kasus Pengemudi Ojek Online Pukul Bocah 14 Tahun di Tangerang Berakhir Damai

Jumat, 7 Mei 2021 17:07 Reporter : Kirom
Kasus Pengemudi Ojek Online Pukul Bocah 14 Tahun di Tangerang Berakhir Damai Kasus pemukulan anak kecil di Tangerang berakhir damai. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Fauzan Ari Sandi (43), akhirnya dapat menghela napas panjang, setelah Kejaksaan Negeri Kota Tangerang memberikan hak keadilan restoratif pada kasus pidana pemukulan yang dilakukannya terhadap ZH, anak usia 14 tahun. Aksi itu dipicu kekesalan pelaku terhadap korban yang bermain api dan mengumpat kata-kata tidak wajar terhadap pelaku saat itu.

Kepala Kejari Kota Tangerang I Dewa Gede Wirajana menerangkan, hak keadilan restoratif dalam kasus tersebut sesuai dengan Peraturan Kejaksaan RI No 15/2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif atau pengampunan hukuman.

"Restorative Justice sendiri adalah suatu pendekatan dalam memecahkan masalah pidana yang melibatkan korban, pelaku, serta elemen-elemen masyarakat demi terciptanya suatu keadilan," kata Kepala Kejari Kota Tangerang, I Dewa Gede Wirajana, Jumat (7/5).

Kebijakan itu juga terdapat dalam Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020 tentang Perkara Lewat Keadilan Restoratif Justice. Langkah tersebut, kata Wira, juga mendapat apresiasi dari Kepala Kejati Banten dan Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) RI.

Kajari Kota Tangerang, juga menegaskan bahwa hak hukum tersebut memakan waktu singkat. Setelah semua pihak berunding dan menyepakati perdamaian maka hak restoratif itu dijalankan.

"Jadi, menurut saya tidak begitu panjang, tapi ada tahapan-tahapan yang harus kita lakukan seperti tahapan harus berunding mengumpulkan para pihak. Tersangka dan korban untuk melakukan upaya perdamaian. Dari situ bisa disimpulkan upaya perdamaian," kata Wira.

Diterangkan Kasi Pidum Kejari Kota Tangerang, Dapot Dariarma bahwa kasus yang melibatkan Fauzan Ari Sandi ini sebelumnya disangkakan Pasal 80 Ayat 1 UU No 35/2014 tentang Perubahan Atas UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Tersangka melakukan pemukulan terhadap anak berusia 14 tahun di depan rumahnya di Kota Tangerang, beberapa waktu lalu. Pemukulan tersebut dilakukan setelah tersangka menegur korban untuk memadamkan api yang sengaja dinyalakan karena membakar sampah di depan rumah tersangka.

Karena merasa terganggu, sebab kepulan asap hasil pembakaran sampah tersebut masuk ke rumah pelaku, yang di dalamnya ada seorang bayi. Perselisihan kemudian terjadi, ketika korban mematikan api yang diminta pelaku, namun korban mengumpat dengan kata-kata tidak wajar.

"Setelah korban mematikan api, korban seperti melontarkan kata menantang, hingga membuat tersangka emosi dan menampar korban sebanyak dua kali, membuat korban lecet di bagian pelipis," jelas Dapot.

Atas kejadian kekerasan itu, orang tua korban melaporkan kejadian itu ke polisi dan berlanjut ke Kejari Tangerang. Namun kedua pihak antara keluarga korban dan pelaku disaksikan RT/RW dan kepala desa bersepakat melakukan upaya damai, maka Kejari Tangerang, menempuh jalur restoratif.

"Dalam kasus ini, tersangka bisa terpenuhi restoratifnya. Sebab, saat ekspose atau mengajukan ke Kejati dan Jam Pidum, ada syarat ketat yang harus ditempuh," ucap Dapot.

Dapot menerangkan bahwa hak restoratif tersebut, dapat terpenuhi karena memang sudah ada kesepakatan perdamaian kedua belah pihak dan terpenuhinya syarat lain seperti, tersangka belum pernah melakukan tindak pidana sebelumnya.

"Kemudian ancaman pidananya di bawah 5 tahun, serta kerugian atas kasus yang dilakukan dibawah Rp 2.5 juta. Syarat itu semua dipenuhi dalam kasus ini, hingga akhirnya kasus bisa selesai sebelum masuk ke peradilan," ucap Dapot Dariarma. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini