Kasus Korupsi Era Bupati Jember Faida, Pejabat dan Pengusaha Jadi Tersangka

Selasa, 27 Juli 2021 20:15 Reporter : Muhammad Permana
Kasus Korupsi Era Bupati Jember Faida, Pejabat dan Pengusaha Jadi Tersangka Kasat Reskrim Polres Jember AKP Komang Yogi Arya Wiguna. ©2021 Merdeka.com/Muhammad Permana

Merdeka.com - Penanganan kasus korupsi proyek rehabilitasi pasar tradisional Pasar Balung Kulon memasuki babak baru. Satreskrim Polres Jember pada Selasa (27/7) mengumumkan telah menetapkan dua orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek rehabilitasi Pasar Balung Kulon.

"Sejak beberapa hari kita lakukan gelar perkara di Polda Jatim yang disusul dengan penetapan dua orang tersangka, yaitu DS selalu pejabat pembuat komitmen (PPK) Disperindag dan JN selaku kontraktor penggarap," ujar Kasat Reskrim Polres Jember AKP Komang Yogi Arya Wiguna, saat dikonfirmasi pada Selasa Sore (27/7).

Dari informasi yang dihimpun, DS merupakan Dedi Sucipto, yang saat ini menjabat sebagai Kasi Sarana Prasarana Disperindag Jember. Sedangkan JM adalah Junaedy yang merupakan Direktur PT Anugerah Mitra Kinasih (AMK), selaku penggarap rehab pasar tradisional.

Pengusutan proyek ini sebelumnya sempat berjalan alot. Polres Jember telah melakukan sejumlah penggeledahan dan sejak pertengahan tahun 2020 telah menaikkan statusnya dari penyelidikan menjadi penyidikan. Namun hingga berselang beberapa bulan, belum ada tersangka yang ditetapkan. Baru setelah ada pergantian Kapolres dan Kasat Reskrim, kasus ini "mendapatkan" tersangka.

"Keduanya kita jerat dengan Pasal 2 Ayat (1) dan Pasal 3 UU RI No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1 Jo Pasal 56 KUHP. Ancaman hukuman minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun dan denda paling sedikit 200 juta rupiah dan paling banyak 1 miliar rupiah," papar Komang.

Proyek rehab Pasar Balung Kulon bernilai sekitar Rp7,5 miliar. Namun, berdasarkan audit Badan Pemeriksaan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), terdapat kerugian negara akibat korupsi yang mencapai Rp 1,8 Miliar.

Menurut Komang, indikasi korupsi terlihat sejak dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan kontruksi kegiatan fisik Pasar Balung Kulon.

"Secara umum, modusnya ada dua, yakni pemalsuan dokumen dan mark-up," tutur mantan Kasat Reskrim Polres Malang ini.

Sebelum menetapkan tersangka, penyidik telah memeriksa 38 saksi dan menggelar sejumlah penggeledahan dan penyitaan. Penyidik juga telah mengantongi keterangan dari 4 saksi ahli yang meliputi ahli kontruksi bangunan, saksi ahli pidana korupsi, saksi ahli LKPP dan saksi ahli perhitungan kerugian negara dari BPKP selalu auditor.

"Dalam waktu dekat, segera kita lakukan pemeriksaan perdana sebagai tersangka, mungkin pekan ini," lanjut Komang.

Polisi menegaskan, tidak tertutup kemungkinan jumlah tersangka akan bertambah. "Kita lihat nanti. Penyidikan masih berjalan," pungkas Komang.

Kasus Kedua Korupsi Pasar

Rehabilitasi puluhan pasar tradisional menjadi salah satu dari mega proyek era kepemimpinan bupati Faida yang dikerjakan pada tahun anggaran 2018 dan 2019. Saat itu, Faida hendak memodernisasi seluruh pasar tradisional di Jember. Namun beberapa proyek kemudian bermasalah seperti mangkrak atau diusut aparat.

Dedi Sucipto yang menjadi tersangka dalam kasus rehab Pasar Balung Kulon, menjadi pejabat kedua di Disperindag Jember yang terseret perkara korupsi. Sebelumnya, terdapat Anas Maruf, mantan Kepala Disperindag Jember yang terseret perkara korupsi rehabilitasi pasar tradisional Pasar Manggisan. Proyek tersebut berjalan pada tahun anggaran 2018.

Pengadilan Tipikor Surabaya lantas memvonis Anas Maruf hukuman 4 tahun penjara tanpa uang pengganti. Sebab, Anas terbukti merugikan keuangan negara akibat kebijakannya membayarkan proyek, meski ia tidak menikmati sepeserpun uang korupsi. [bal]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Kasus Korupsi
  3. Jember
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini