Kasus Korupsi Aset Pemda, Mantan Wali Kota Kupang Ditahan Kejati NTT

Kamis, 22 Oktober 2020 19:52 Reporter : Ananias Petrus
Kasus Korupsi Aset Pemda, Mantan Wali Kota Kupang Ditahan Kejati NTT ilustrasi korupsi. ©2013 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Mantan Wali Kota Kupang Jonas Salean ditetapkan tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam kasus pengalihan aset tanah pemerintah Kota Kupang, Kamis (22/10). Penetapan tersangka setelah Jonas diperiksa selama lima jam.

Usai ditetapkan tersangka, anggota DPRD Nusa Tenggara Timur dari Partai Golkar itu dibawa ke Rutan Kelas IIB Kupang, untuk ditahan selama 20 hari ke depan.

Selain Jonas Salean, Kejati NTT juga menahan mantan kepala Badan Pertanahan Nasional Kota Kupang, Tomas More. Keduanya diketahui terbukti telah melakukan tindak pidana korupsi aset negara, dengan melakukan pengalihan dan pembagian tanah seluas 19.468 meter persegi, yang terdiri dari 40 kapling kepada sejumlah pejabat, anggota DPRD serta keluarga.

Kajati NTT Yulianto menjelaskan, dalam kasus ini negara mengalami kerugian sebesar Rp66 miliar lebih.

"Ini estimasi tahun 2016, jika harga tanah di tahun 2020 maka kerugiannya bisa mencapai Rp200 miliar," ujarnya.

Sementara itu kuasa hukum Jonas Salean, Yanto Ekon menjelaskan, tanah yang diduga dibagikan kepada 39 orang tersebut bukan milik Pemda. Sampai dengan penetapan tersangka hari ini, belum ada satu bukti permulaan yang dimiliki oleh penyidik, bahwa tanah tersebut barang milik daerah.

"Perlu ada pengujian apakah barang ini milik daerah atau barang bukan milik daerah, kalau bukan barang milik daerah maka dia bukan tindak pidana korupsi. Kalau alasan penyidik SK bupati itu belum final tahun 1994, maka tanah seluas 77.800 meter persegi harus disita semua karena dikatakan itu belum final," ujarnya.

Menurut Yanto Ekon, penentuan surat keputusan yang final atau belum merupakan pengadilan tata usaha negara bukan pidana. Pihaknya menghormati proses hukum yang berjalan, namun tidak sependapat dengan penyidik yang menyatakan mempunyai bukti permulaan yang cukup, bahwa tanah itu adalah barang milik daerah atau aset pemerintah Kota Kupang.

"Kami akan koordinasi dengan klien kami, karena baru saja ditetapkan sebagai tersangka sehingga langkah-langkah hukum yang akan diambil nanti kami disampaikan. Penangguhan, permohonan pengalihan, praperadilan dan lainnya sampai saat ini kami belum sampaikan langkah yang akan kami lakukan, tetapi intinya kami sudah menyatakan pendapat kami, bahwa sampai dengan saat ini penyidik itu tidak punya bukti permulaan bahwa tanah ini barang milik daerah atau bukan," ungkapnya. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Kasus Korupsi
  3. Kupang
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini