Kasus Ibu Buang Bayi ke Sumur, Ini Perbedaan Baby Blues dan Depresi

Kamis, 31 Maret 2022 14:40 Reporter : Ya'cob Billiocta
Kasus Ibu Buang Bayi ke Sumur, Ini Perbedaan Baby Blues dan Depresi Pelaku pembuangan bayi ke dalam sumur. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Seorang ibu di Jember berinisial FN (25) nekat membuang bayinya yang baru berusia satu bulan ke dalam sumur. Pelaku depresi akibat ejekan tidak bisa memberikan air susu ibu (ASI) kepada buah hati.

FN dan suami, AM (28) selama ini tinggal di lingkungan keluarga besar sang suami yang ada di Kecamatan Ambulu, Jember.

Usai melahirkan, FN mengaku sering diejek oleh keluarga suaminya karena tidak mampu memberikan ASI kepada sang buah hati. Akibat hanya bisa memberikan susu formula kepada bayi, FN dianggap sebagai ibu yang tidak sempurna. Padahal ada kondisi kesehatan tertentu yang membuat FN tak mampu menghasilkan ASI.

"Selain itu, juga masih ada masalah lain yang menurut pengakuan tersangka, diterima dari keluarga sang suami," ujar Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo, Rabu (30/3).

Beberapa keluarga sang suami menganggap, FN dinikahi oleh AM karena status ekonominya. "FN diberitahu oleh keluarga suaminya, bahwa ia dinikahi karena motif ekonomi," lanjut Hery.

2 dari 4 halaman

Pasangan suami istri muda ini memang memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda. FN bekerja sebagai guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sedangkan suaminya bekerja sebagai petani. Namun polisi enggan menjelaskan secara rinci bentuk ejekan yang diterima dari keluarga mertua tersangka FN itu.

Dua bahan ejekan atau bullying yang diterima terus-menerus oleh FN itu yang pada akhirnya menimbulkan kebencian FN kepada buah hatinya sendiri. Kebencian kepada sang bayi itu terus terjadi meski ia bekerja di profesi yang terkait dengan anak kecil.

Dalam perkembangannya dugaan adanya gangguan kejiwaan baby blues syndrome pun semakin menguat. Untuk mendalaminya, polisi akan mendatangkan saksi ahli. "Kita akan bawa ke psikiater. Tetapi sejauh ini, dia masih cukup lancar diperiksa. Kooperatif dan mengakui perbuatannya," tutur Hery.

Baby blues merupakan sebuah gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu usai melahirkan. Kondisi ini akan membuat ibu mudah sedih, gelisah, lelah, marah, menangis tanpa alasan yang jelas dan sulit berkonsentrasi. Baby blues bisa dirasakan sejak minggu pertama usai melahirkan. Pada umumnya baby blues akan bertahan hingga dua minggu.

Keluhan memang tidak selalu dirasakan. Gejala atau keluhan tersebut akan hilang dan timbul dengan sendirinya. Meski begitu, keluhan-keluhan itu harus diatasi dengan baik dan benar. Agar tidak berkembang menjadi depresi pasca melahirkan (postpartum depression).

3 dari 4 halaman

Hingga saat ini, penyebab baby blues masih belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, terdapat beberapa hal yang mampu memicu terjadinya baby blues.

1. Perubahan Hormon

Usai melahirkan, para wanita akan mengalami perubahan kadar hormon yang cukup drastis. Hormon progesteron dan estrogen dalam tubuh akan menurun. Hal ini mampu menyebabkan perubahan kimia di otak serta dapat memicu terjadinya perubahan suasana hati atau mood swing.

2. Kesulitan Beradaptasi

Penyebab baby blues kedua yakni kesulitan beradaptasi. Terlebih pada perubahan dan tanggung jawab baru sebagai seorang ibu. Hal inilah yang terkadang memicu timbulnya baby blues. Banyak ibu baru yang merasa kerepotan atau kewalahan mengurus segalanya sendiri. Termasuk mengurus kebutuhan buah hati.

3. Kurang Tidur

Siklus tidur bayi baru lahir tentu belum teratur. Hal ini menyebabkan si ibu harus terjaga di malam hari dan tentu saja menyita banyak waktu tidur. Kurangnya waktu tidur yang terjadi terus menerus akan membuat sang ibu tidak nyaman dan kelelahan. Sehingga bisa memicu terjadinya baby blues.

4 dari 4 halaman

Baby Blues biasanya akan hilang dengan sendirinya. Namun kondisi tersebut tetap harus dikelola dengan baik saat ibu mengalaminya.

Hal yang perlu diwaspadai adalah apabila gejala baby blues belum kunjung membaik setelah dua minggu. Ada kemungkinan si ibu mengalami depresi pasca melahirkan.

Depresi pasca melahirkan mampu menyebabkan kekhawatiran yang cukup berat. Sehingga membuat ibu bisa merasa putus asa, tidak berharga, sedih hingga merasa tidak adanya ikatan dengan bayi (bonding).

Jika sudah begini, si ibu harus segera memeriksakan diri ke psikolog ataupun psikiater. Ikatan ibu dan anak bisa tidak terjalin dengan baik jika tidak segera ditangani. Bahkan, dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi berat di masa akan datang. [cob]

Baca juga:
Kasus Ibu di Jember Buang Bayi ke Sumur, Polisi akan Periksa Keluarga Suami Pelaku
Ibu yang Lempar Bayinya ke Sumur Ternyata Seorang Guru PAUD
Usai Buang Bayi ke Sumur, Ibu Muda Sempat Tidur Siang dan Pura-Pura Kaget Anak Hilang
Depresi Diejek Tak Bisa Beri ASI, Ibu Muda di Jember Buang Bayi 1 Bulan ke Sumur
Mayat Bayi Dalam Tas Dikira Boneka Ditemukan Warga Mengambang di Selokan
Cerita Kehebohan Warga Cari Jasad Bayi hingga Bikin Jembatan di Bireuen Putus
Janin Usia 5 Bulan Ditemukan dalam Saluran Air Hotel di Bogor

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini