Kasus anak SMP nyatakan cinta pada anak SD bikin geleng-geleng

Selasa, 27 Januari 2015 09:24 Reporter : Laurencius Simanjuntak
Kasus anak SMP nyatakan cinta pada anak SD bikin geleng-geleng Siswa SMP pacaran dengan siswa SD. ©facebook.com

Merdeka.com - Media sosial kembali dibuat heboh. Kali ini disebabkan foto mesra siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD). Saat sang putra yang berseragam putih biru memberikan kado kepada siswa putri yang disebut sebagai pacarnya.

Foto mesra keduanya itu beredar dengan cepat di media sosial seperti Facebook, Path, Twitter hingga Instagram. Dalam foto tersebut, terdapat sembilan foto yang digabung menjadi satu bingkai.

Pantauan merdeka.com, Senin (26/1), sang pelajar putra SMP memberi kejutan kepada pelajar SD yang berulang tahun ke-11 dengan membawakan kue ulang tahun. Dalam foto tersebut, pelajar putra juga memberikan kado boneka tokoh kartu Snitch dan menyuapi siswa SD tersebut.

Dari sembilan foto tersebut, terdapat satu yang menghebohkan netizen, saat siswa SMP merangkul siswa SD. Banyak yang prihatin dengan apa yang dibuat kedua siswa tersebut. Sampai saat ini merdeka.com belum mengetahui berasal dari sekolah mana kedua siswa tersebut dan kapan foto ini diambil.

Berikut cerita soal foto mesra tersebut yang dirangkum merdeka.com:

1 dari 3 halaman

Komnas PA sebut anak korban sinetron

Arist Merdeka Sirait. ©2013 Merdeka.com

Respons prihatin bermunculan terkait kemunculan foto mesra siswa SMP dan SD. Termasuk dari Ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait.

Dia prihatin, kisah percintaan sepasang kekasih sudah merambah ke usia bocah-bocah cilik.
"Ini salah satu yang perlu disikapi, anak-anak sekarang ini punya pengetahuan tentang percintaan," katanya, saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (26/1).

Dia yakin tindakan tak patut itu karena pengaruh lingkungan tak memberikan pendidikan edukatif yang tepat. Tak hanya itu, tayangan yang disajikan saat ini tak jauh dari seputar percintaan, pertengkaran dan kekerasan.

"Itu yang ditiru dari orang di sekitarnya, bisa orang dewasa, bisa juga terinspirasi tayangan di TV. Lihat saja kualitas sinetron kita, Youtube, kaya di Trans TV itu ada anak bertindak kasar," tambahnya.

Dia berharap seiring perkembangan zaman, hendaknya orangtua memberikan kontribusi yang baik. Termasuk memberikan pelajar tentang alat reproduksi.

"Sebab, anak itu kan meniru dan mendaur ulang ulang apa yang dia lihat dan dengar. Karena itulah, mulailah memberikan pendidikan pada anak dari rumah, tentang kesehatan reproduksi dan seks, karena itu bukan hal tabu, harus berikan informasi yang cukup untuk mereka," jelasnya,

"Sebab bila bapak dan ibu enggak jawab jadinya dia dapat info dari google. Kalau dari rumah udah bagus, pastinya kalau temannya kasih sesuatu bukan hal aneh lagi buatnya. Tapi cuma di rumah sekolah pun harus melakukan hal yang sama," pungkasnya.

2 dari 3 halaman

Kak Seto salahkan orang tua

Kak Seto. ©2012 Merdeka.com

Psikolog anak Seto Mulyadi mengaku prihatin dengan beredarnya foto siswa SMP yang menyatakan cinta ke siswi SD. Menurutnya, hal tersebut merupakan sebuah bentuk psikoseksual yang akan menimbulkan permasalahan bagi keduanya.

"Hal ini terjadi karena mudahnya informasi yang diperoleh kedua siswa dari media sosial dan dunia maya. Mereka dengan mudah berselancar di dunia maya mendapatkan informasi yang belum layak mereka dapatkan, istilahnya dikarbitkan. Matang sebelum waktunya," ujar pria yang akrab disapa Kak Seto saat dihubungi merdeka.com, Senin (26/1).

Kejadian ini, jelas Kak Seto merupakan dampak dari kurangnya komunikasi dan lemahnya pengawasan orang tua terhadap peralatan elektronik anak mereka, seperti handphone, komputer, dan laptop. Jika hal ini dibiarkan, akan berdampak pada psikologi anak.

"Orang tua jangan lepas tanggung jawab dengan hanya membelikan gadget yang diminta anak mereka. Jika dibiarkan, hal ini akan berpengaruh kepada tumbuh kembang anak-anak. Hal ini yang kemudian menimbulkan adanya kasus seks bebas, geng motor, kekerasan di anak didik," ujarnya.

Kepada orang tua, Kas Seto menganjurkan untuk mendampingi anak saat mereka berselancar di dunia maya. Jika diperlukan, mereka harus mem-block situs-situs yang dianggap tidak layak untuk dikunjungi oleh anak-anak.

Anggota Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) ini menambahkan, tugas mengawasi situs-situs internet yang dikunjungi anak-anak tidak hanya tugas orang tua di rumah. Pihak sekolah juga ikut berperan dalam memberikan pengarahan.

"Pihak sekolah juga jangan hanya berhenti pada kegiatan mengajar. Mereka juga harus mampu menjadi kawan dan mampu berkomunikasi secara ramah dengan anak didik," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Psikolog: Foto anak SMP nyatakan cinta ke siswa SD, berani sekali

Siswa SMP pacaran dengan siswa SD. ©facebook.com

Psikolog Ike R. Sugianto, menilai di luar kasus ini sebenarnya fenomena pacar-pacaran di kalangan anak-anak sudah sejak lama terjadi. Tapi dulu, tidak tampil di media sosial seperti sekarang ini.

"Suka dengan lawan jenis pada pra-remaja itu wajar, karena mereka sedang mulai menumbuhkan ketertarikan pada lawan jenis, tapi biasanya masih dikerjakan dengan malu-malu dan belum berani diwujudkan dengan nyatakan sejauh ini, apalagi di depan teman-teman," kata Ike saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (25/1).

Perkembangan zaman yang terjadi memang sulit membendung apa yang diserap pada anak. Tapi melihat foto yang tersebar itu, Ike menilai pasangan bocah kecil ini sudah berani.

"Sebenarnya fenomena pacaran seperti ini banyak tapi enggak tampil di socmed, Tapi ini berani sekali, ini terang-terangan. Meskipun menurut saya, tidak perlu dianggap itu pelanggaran besar, saya tidak mau bebani pada dua orang ini dan orang tua mereka, karena fenomena nya ada dari dulu."

"Tapi bentuk ekspresinya beda, kalau sukanya malu-malu, masih bisik-bisik, tapi sekarang kenapa berani sekali. Ini jelas karena tontonan sekarang lihat saja, tentang pacar-pacaran, cerita sekolah juga bumbu percintaan," tambahnya.

Dia menambahkan, tayangan di televisi jadi faktor utama yang membentuk perilaku anak. Apalagi di usia-usia seperti itu.

"Semua asalnya dari apa yang mereka lihat, tonton, itu jadi masuk sistem norma dari mereka, apa yang lazim dan tidak, mereka dapat dari seperti itu. Padahal mereka sendiri belum berpikir panjang soal ketertarikan dengan lawan jenis, mereka juga punya definisi pacaran beda-beda. Gandengan tangan dan pergi ke mal bareng kadang disebut pacaran," beber Ike.

"Kemudian dikhawatirkan kalau pacaran belum ngerti akhirnya jadi terjadi isolasi mainnya sama dia doang," ungkap wanita berambut panjang ini.

Dia berharap orangtua dan semuanya belajar dari kasus ini. Ini satu pengingat bahwa orangtua itu harus harus sebagai teman bukan mendikte.

"Satu pengingat untuk kita semua, termasuk sebagai orangtua untuk mulai bicarakan soal pacaran itu apa, kapan mulai boleh pacaran, seperti apa isi pacaran itu."

"Jadi lihat positifnya, kalau orangtua jangan cepat marahi anak, dari pada nggak ketahuan, lebih baik kelihatan gini kan bisa cari solusi, kita akomodasi mereka, daripada dia lakukan di belakang kita," pungkas Ike. [ren]

Baca juga:
Psikolog: Foto anak SMP nyatakan cinta ke siswa SD, berani sekali
Siswa SMP nyatakan cinta ke siswa SD, Kak Seto salahkan orang tua
Anak SMP nyatakan cinta ke siswi SD, korban sinetron & orang dewasa
Heboh foto anak SMP nyatakan cinta pada siswi SD pakai kue & boneka

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini