Kapolri Ungkap Fakta-Fakta Penting Penyebab Kerusuhan Papua

Selasa, 3 September 2019 06:15 Reporter : Syifa Hanifah
Kapolri Ungkap Fakta-Fakta Penting Penyebab Kerusuhan Papua Panglima TNI-Kapolri di Papua. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Beberapa wilayah di Papua bergejolak, seperti di Manokwari, Jayapura sampai kerusuhan yang terjadi di Deiyai, Papua. Kerusuhan ini menyebabkan beberapa fasilitas umum rusak, hingga korban jiwa berjatuhan.

Meski demikian, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan situasi Papua kini sudah kondusif dan aman. Kapolri pun membeberkan fakta-fakta penting penyebab kerusuhan Papua. Berikut ulasannya:

1 dari 3 halaman

Kerusuhan Manokwari Papua Dipicu Kabar Hoaks

Kerusuhan di Papua pertama kali pecah di Manokwari, Papua Barat, Senin (19/8). Jenderal Tito Karnavian mengakui jika kerusuhan yang terjadi di Manokwari Papua, dipicu dari hoaks yang sengaja dikembangkan oleh pihak-pihak tertentu. Kapolri menjelaskan, aksi massa di Papua ini di-'triger' dari adanya kejadian di Jawa Timur, khususnya Surabaya dan Malang. Menurutnya, ada kesalahpahaman yang terjadi saat itu.

"Malam itu sebetulnya hanya peristiwa kecil, yang sebetulnya sudah dilokalisir, dan diselesaikan oleh muspida setempat baik ibu Gubernur, Kapolda maupun Pangdam, sudah dinetralisir tapi kemudian muncul hoaks. Kemarin memang ketriger gara-gara ada kesalapahaman dan membuat kata-kata yang kurang nyaman. Sehingga sahabat-sahabat kita yang ada di Papua merasa terusik dengan bahasa-bahasa seperti itu, dan ada pihak-pihak yang mengembangkan kejadian yang ada di Surabaya dan Malang," ujarnya, Senin (19/8) lalu.

Tito menambahkan, persoalan itu sebenarnya sudah dilokalisir oleh muspida setempat. Namun, ada kesimpangsiuran informasi atau kesalahpahaman, sehingga membuat warga Papua merasa terusik.

"Ada kesimpangsiuran informasi, kemudian mungkin ada yang membuat kata-kata yang kurang nyaman sehingga saudara kita yang ada di Papua mungkin merasa terusik dengan bahasa seperti itu dan ada pihak-pihak yang mengembangkan informasi seperti itu untuk kepentingan mereka sendiri," tambahnya.

Dia menambahkan, munculnya hoaks mengenai kata yang kurang etis dan ada juga hoaks gambar seolah-olah warga dari Papua yang meninggal, menjadi berkembang dan dikembangkan oleh oknum tertentu, sehingga membuat mobilisasi massa membuat kerusuhan.

2 dari 3 halaman

Penyerangan TNI-Polri di Deiyai Dilakukan Kelompok Paniai

Kerusuhan juga terjadi di halaman kantor bupati Deiyai, Papua, Rabu (28/8) lalu. Kerusuhan berawal saat ada unjuk rasa yang dilakukan 100 orang di depan kantor bupati Deiyai berlangsung aman. Tiba-tiba ada 1.000 orang membawa panah, tombak dan parang datang bergabung dengan para pendemo. Kelompok ini melakukan tarian, melemparkan batu kepada aparat dan meneriakkan kata-kata provokasi.

Kemudian massa menyerang salah seorang TNI yang bertugas. Aparat lainnya berusaha menghentikan penyerangan tersebut, namun tidak diindahkan. Massa malah melawan menggunakan senjata tajam dan batu terhadap TNI-Polri. Akibat kejadian itu satu anggota TNI meninggal dunia, lima TNI-Polri luka terkena panah.

Tito Karnavian menduga penyerang bukanlah massa demonstran, namun kelompok asal Paniai yang menunggangi demonstrasi. "Ini kelompok yang berasal dari Paniai. Rupanya mereka sembunyi di balik massa ini dan menyerang petugas," kata Tito.

Dalam peristiwa itu juga menewaskan seorang pelaku penyerangan akibat terkena panah. Tito menegaskan kematian pelaku penyerangan tersebut, bukan karena polisi dan TNI yang bertugas di lokasi.

"TNI dan Polri tidak pernah menggunakan panah. Panah ini berasal dari kelompok penyerang sendiri sehingga kami menduga dia meninggal karena terkena panah dari kelompoknya," ujar Tito.

3 dari 3 halaman

Dugaan Keterlibatan Pihak Asing

Jenderal Tito Karnavian mengakui ada keterlibatan pihak asing dalam serangkaian kerusuhan di Papua dan Papua Barat. Oleh karena itu, Polri saat ini tengah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk menangani masalah tersebut.

"Ada. Kita sama-sama tahu dari kelompok-kelompok ini ada hubungannya dengan network di internasional," kata Jenderal Tito di acara Hari Jadi Ke-71 Polwan, di Jakarta, Minggu (1/9).

Menurut dia, pihak-pihak yang diduga menggerakan kericuhan di Papua sudah diketahui. "Pihak-pihak yang diduga menggerakkan sudah dipetakan dan sedang didalami. Kalau misal terbukti (terlibat), akan ditindak secara hukum," ucapnya.

Saat ini kondisi di Papua dan Papua Barat sudah terkendali. "Sudah relatif aman ya," ujarnya.

Pernyataan Tito diamini Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Mantan Panglima TNI itu menyebut tokoh Papua, Benny Wenda, menjadi aktor intelektual kerusuhan Papua.

"Ya jelas toh. Jelas Benny Wenda itu. Dia mobilisasi diplomatik, mobilisasi informasi yang missed, yang gak bener. Itu yang dia lakukan di Australia lah di Inggris lah," kata Moeldoko di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (2/8). [dan]

Baca juga:
Wiranto Janji Internet di Papua akan Dipulihkan dan Pasukan Ditarik
Hoaks-Hoaks yang Membuat Papua Memanas
Hingga Malam Ini, Mak Susi Korlap Aksi Asrama Mahasiswa Masih Diperiksa Polisi
Anggota DPR Minta Kapolri Buktikan Keterlibatan Asing dalam Kerusuhan di Papua
Bertemu Perwakilan AS, Moeldoko Bahas Laut China Selatan hingga Papua
Satu Tersangka Terkait Insiden di Asrama Mahasiswa Papua Berstatus ASN

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini