Kapolda Aceh Didesak untuk Menjerat Pelaku Pengancaman Wartawan dengan UU Pers

Kamis, 9 Januari 2020 15:35 Reporter : Afif
Kapolda Aceh Didesak untuk Menjerat Pelaku Pengancaman Wartawan dengan UU Pers Puluhan wartawan demo di depan Mapolda Aceh. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Puluhan jurnalis dari beberapa organisasi profesi di Banda Aceh menamakan diri Jurnalis Anti Kekerasan (Jantan) menggelar demonstrasi di depan Mapolda Aceh, Kamis (9/1). Aksi ini merespons atas dugaan pengancaman dan pembunuhan terhadap seorang jurnalis media daring bernama Aidil Firmansyah oleh direktur perusahaan pengangkut tiang pancang di Aceh Barat berinisial A.

Aksi berlangsung pada pukul 10.00 WIB. Selain berorasi, mereka juga membawa sejumlah poster. Di antaranya bertulis "Stop!!! Kekerasan Terhadap Jurnalis".

Wartawan meminta Kapolda Aceh agar pelaku dijerat dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Karena sekarang penyidik masih menggunakan Pasal 335 KUHPidana tentang perbuatan tidak menyenangkan.

"Kalau pasal ini (335) digunakan, sangat ringan, bias saja nanti Tipiring," kata Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh, Misdarul Ihsan.

Undang-undang Pers merupakan Lex Specialist atau berlaku khusus. Dalam UU itu, mengancam bunuh jurnalis adalah tindakan membungkam kemerdekaan pers sebagaimana diatur pada Pasal 4, dan bagian dari upaya menghalang-halangi tugas jurnalistik seperti diatur pada Pasal 18 ayat (1).

Oleh sebab itu, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Aceh, Munir Noer menyebutkan, pengancaman ini jelas-jelas karena berita yang ditulis oleh Aidil. Penyidik semestinya harus menggunakan UU Pers yang berlaku khusus dan dapat dijounctokan dengan KUHPidana.

"Penanganan perkara ini harus dilakukan oleh bidang pidana khusus (pidsus) bukan pidana umum (Pidum)," ungkapnya.

Sementara itu Ketua Advokasi AJI Banda Aceh, Juli Amin meminta kepada Kapolda Aceh untuk memerintahkan penyidik Polres Aceh Barat agar pelakunya dijerat dengan UU No.40 tahun 1999 tentang pers. Termasuk mengalihkan dari Pidana Umum ke Pidana Khusus. "Mengingat pengancaman itu berkaitan dengan pemberitaan," sebutnya.

Juli Amin juga meminta Kapolda untuk terus memantau langsung perkembangan pengungkapan kasus tersebut. Bila penyidik Polres Aceh Barat tidak mampu menyelesaikan, maka Ditkrimsus Polda Aceh agar segera mengambil alih proses pengungkapannya.

"Jaksa juga kita minta agar menolak berkas perkara bila tidak dijerat dengan UU Pers," pintanya.

Peristiwa pengancaman ini bermula Aidil meliput ada mobil pengangkut tiang pancang PLTU 3 dan 4 Nagan Raya diadang warga. Diduga pemilik angkutan ini tidak membayar kompensasi kepada warga sebagaimana yang telah dijanjikan.

Bermula dari pemberitaan itu, Aidil kemudian pada Minggu, 5 Januari 2020 dini hari dipanggil oleh A. Aidil tiba di kantor A pagi sekira pukul 01.00 WIB.

Aidil mengaku saat itu dia dijemput oleh dua orang yang diutus oleh A yang sudah menunggu di kantor. Mulanya Aidil sempat menolak. Dia takut akan terjadi yang dapat mengancam jiwanya.

Namun salah seorang di antara penjemput Aidil dikenalnya di warung kopi di Aceh Barat bernama Suyatno menjamin keselamatannya.

Karena sudah ada jaminan, Aidil bersama rekannya berangkat ke Kantor Fortil (Forum Tiga Wilayah) Gampong Suak Ribee, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, tempat kejadian perkara (TKP).

"Di kantor itulah saya diancam, bahkan diancam bunuh, karena gara-gara berita itu bisa berpengaruh terhadap pekerjaannya," ungkap Aidil.

Bahkan, kata Aidil, A membuat surat dan diminta untuk tanda tangan untuk duel berdua. Siapapun yang kalah maupun menang, perkara ini selesai. Selain itu juga disuruh minta maaf ke tiga media karena sudah membuat berita bohong.

Ada sekitar lebih kurang 2 jam Aidil mendapat ancaman dan intimidasi di kantor tersebut. Bahkan Aidil mengaku, A sempat mengambil suatu benda mirip senjata laras pendek dari laci meja.

Lantas Suyatno merebut benda itu dari tangan A. Saat itu Aidil langsung menunduk.

"Tiba-tiba dia (A) bilang, dengan itu aku habiskan nanti kamu," kata Aidil meniru kalimat A malam itu menggunakan bahasa Aceh.

Ironinya, atas pengancaman yang turut memperlihatkan mirip senjata api jenis pistol ini, penyidik hanya menjerat pelaku dengan Pasal 335 KUHPidana tentang perbuatan tidak menyenangkan.

Sedangkan senjata yang digunakan dan diakui asli oleh pelaku pada beberapa pemberitaan media, terakhir berubah wujud menjadi korek api atau mancis berbentuk pistol.

"Saya berharap dia (A) dijerat dengan UU Pers," tutupnya. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini