Kampung Tablanusu, desa wisata berselimut batu koral yang elok

Jumat, 24 November 2017 13:43 Reporter : Hery H Winarno
Kampung Tablanusu, desa wisata berselimut batu koral yang elok Kampung Tablanusu. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Papua memang terkenal karena keindahan alamnya yang tak ada duanya. Bumi Cendrawasih ini memiliki banyak tempat eksotis untuk dikembangkan sebagai objek tujuan pariwisata.

Salah satu yang menarik adalah Kampung Tablanusu. Kampung ini terletakdi distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. Tablanusu adalah kampung nelayan yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura sebagai desa wisata.

Tak salah bila sejak tiga tahun lalu, Pemkab Jayapura menggelar Festival Bahari Tanah Merah di kampung ini. Kampung inisiap memanjakan wisatawan yang datang dengan aneka jenis wisata seperti wisata hutan, wisata pantai, wisata danau, wisata sejarah, dan wisata budaya.

Kampung Tablanusu 2017 Merdeka.com


Kampung 'Batu Menangis'

Kampung Tablanusu begitu unik, alami, asri, eksotis dan ramah. Begitulah kesan wisatawan ketika datang berkunjung ke kampung wisata ini. Salah satu yang menjadi keunikan di kampung ini adalah batu koral.

Bila pada umumnya desa nelayan akrab dengan hamparan pasir, sebagian besar wilayah Kampung Wisata Tablanusu justru diselimuti batu koral hitam.

Ke arah mana saja pandangan dilayangkan, hanya hamparan batu alam mengkilap yang terlihat. Begitu juga, ke mana pun kaki dilangkahkan, suara batu koral yang terinjak senantiasa terdengar.

Disebabkan gesekan batu yang terinjak menyerupai isak tangis, Kampung nelayan ini pun kemudian dijuluki dengan nama kampung 'Batu Menangis'. Batu-batu koral itu juga dapat digunakan sebagai tempat pijat refleksi alami.

"Dari mamah lahir sudah begitu (banyak batu koral). Dari orangtua mamah lahir pun sudah begitu," ujar Mamah Yohan, warga Kampung Tablanusu yang membuka warung kopi di rumahnya.

Kampung ini berada di teluk yang di kelilingi bukit dan hutan yang lebat. Di kampung ini juga ada danau dengan air jernih yang kaya ikan. Meskipun tergolong kampung kecil, kampung ini secara adat terbagi ke dalam sepuluh suku, yaitu Suku Sumile, Danya, Suwae, Apaserai, Serantow, Wambena, Semisu, Selli, Yufuwai, dan Yakurimlen.

Kampung Tablanusu 2017 Merdeka.com


Sambutan masyarakat yang hangat dan bersahabat dengan orang asing, kian mengukuhkan betapa spesialnya bertamasya ke Kampung Wisata Tablanusu. Mengakrabkan diri dengan masyarakat kampung ini terbilang mudah dan murah. Hanya dengan modal buah pinang, buah sirih dan kapur, wisatawan sudah dapat meleburkan diri dengan masyarakat setempat. Bagi yang tidak terbiasa pahit memang.

"Pahit, getir. Tapi kalau lama dan sudah terbiasa tidak. Ini bisa jadi semacam obat kumur antiseptik untuk mulut ala Papua," ujar seorang wisatawan Acan asal Makassar yang sudah 20 tahun tinggal di Jayapura.

Keunikan lain Kampung Tablanusu adalah tersedianya berbagai jenis objek wisata dalam satu tempat. Hal ini tentunya memberi ruang kepada para wisatawan untuk memilih jenis rekreasi yang sesuai dengan keinginannya di desa ini.

Bagi peminat wisata sejarah, misalnya, dapat melihat sisa-sisa peninggalan tentara sekutu pada Perang Dunia II. Apalagi, menurut sejarahnya, kampung ini pernah menjadi salah satu basis tentara sekutu di kawasan timur Indonesia.

Kampung Tablanusu 2017 Merdeka.com


Landasan meriam dan dermaga bekas pendaratan tentara sekutu adalah di antara sisa-sisa Perang Dunia II yang masih dapat dijumpai di sini. Objek wisata sejarah lainnya adalah sebuah makam di dekat gereja dan sebuah monumen salib.

Makam tersebut diyakini sebagai makam salah seorang tokoh masyarakat setempat dan sekaligus salah seorang pendiri gereja. Sedangkan prasasti salib didirikan untuk mengenang masuknya agama Kristen ke Desa Tablanusu di awal tahun 1900-an.

Bagi penyuka wisata alam, dapat mendatangi hutan desa bersama masyarakat setempat atau menikmati pesona Danau Dukumbo yang masih alami. Di dalam hutan, wisatawan dapat melihat berbagai jenis tumbuhan dan mendengarkan aneka kicauan burung.

Sedangkan di danau alamnya terdapat banyak ikan, terutama ikan bandeng (chanos chanos), ikan mujair (oreochromis mossambicus), dan ikan mas (cyprinus carpio). Bagi wisatawan yang ingin melihat bunga anggrek, dianjurkan untuk mengunjungi dua buah pulau yang letaknya tidak terlalu jauh dari desa wisata tersebut. Hanya dengan berperahu beberapa menit saja, wisatawan sudah dapat melihat secara langsung bunga anggrek endemik Papua itu.

Kampung Tablanusu 2017 Merdeka.com


Pada sore hari, dua pulau tersebut juga menjadi tempat persinggahan aneka jenis burung. Burung-burung itu hinggap berjejer di ranting pepohonan dan membentuk sebuah pemandangan yang indah menjelang matahari terbenam.

Sedangkan wisatawan yang ingin mencoba suasana lain, dapat mengunjungi daerah perairan. Panorama pantai nan rancak, laut bening dan tenang, serta angin laut yang bertiup sepoi-sepoi adalah di antara daya tarik daerah perairan ini.

Selain memancing, air lautnya yang bening juga dapat mengakomodir wisatawan yang ingin berenang atau menyelam. Ketika menyelam, wisatawan akan terpukau melihat kekayaan bawah lautnya, seperti terumbu karang yang masih terjaga kelestariannya dan aneka jenis ikan yang berenang secara bergerombolan.

Bila beruntung, di sini wisatawan dapat melihat ikan hiu. Selain itu, bagi wisatawan yang berhasrat mencari ikan bersama nelayan di daerah ini, datanglah ke Pantai Tablanusu pada malam hari. Sebagaimana nelayan pada umumnya, nelayan di sini juga pergi melaut pada malam hari, terutama pada saat langit gelap.

Sebab, pada waktu itulah ikan lebih mudah ditangkap. Selain mengandalkan kail dan tombak, nelayan di kawasan ini kerap pula mencari ikan dengan cara menyelam hingga ke dasar laut ditemani cahaya senter.

Bila sedang beruntung, anda dapat menyaksikan secara langsung perhelatan dan upacara khas masyarakat Kampung Wisata Tablanusu. Misalnya, peringatan hari masuknya Injil ke desa tersebut yang diperingati setiap tahun. Pada saat itu, masyarakat setempat akan berpawai mengelilingi desa yang diakhiri dengan menggelar Misa di gereja kecil mereka.

Selain itu, beberapa lokasi di perairan, terutama yang banyak terdapat terumbu karangnya, diruwat setahun atau setiap dua tahun sekali. Untuk memperoleh berkah laut dan sekaligus untuk melestarikan laut, masyarakat yang mendiami pantai utara Kabupaten Jayapura ini menggelar ritual adat.

Lokasi kampung Tablanusu bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam dari Bandara Sentani di Kabupaten Jayapura menuju Dermaga Depapre. Hanya saja akses jalan darat menuju lokasi sangat terjal. Hal ini disebabkan proses aspal dan pengecoran jalan belum sepenuhnya rampung.

Di Kampung Wisata Tablanusu terdapat berbagai fasilitas, seperti pemandu wisata, gereja, persewaan perahu, pasar ikan, dan warung yang menyediakan aneka makanan, minuman, dan souvenir khas masyarakat setempat.

Bagi wisatawan yang ingin menginap, di sini tersedia sebuah penginapan 'Suwae Resort' yang terdiri dari atau menyewa rumah penduduk setempat (homestay). [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Jayapura
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini