Kakek Kamad Ikhlaskan Dua Kaki Demi NKRI

Senin, 19 Agustus 2019 05:30 Reporter : Darmadi Sasongko
Kakek Kamad Ikhlaskan Dua Kaki Demi NKRI kakek kamad. ©2019 Merdeka.com/darmadi

Merdeka.com - Saat berusaha berdiri, tangan kakek Kamad mencengkeram kuat lengan saya. Namun merasa tak zaman, memilih memeluk pundak, sambil bergerak berlahan menuruni teras berundak, menuju sepeda motor yang sudah menunggu.

Kakek Kamad selesai mengikuti acara Peringatan HUT Legium Veteran Republik Indonesia (LVRI) ke-64 di Gedung Pancasila Balaikota Among Tani Kota Batu, yang dihadiri Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Selasa (13/8). Ia sejenak duduk di lantai teras, lantaran keponakannya Dedik yang menjemputnya harus mengambil sepeda motor di area parkir.

Sayangnya saat itu juga tidak tersedia kursi roda untuk memudahkan orang dengan kondisi seperti kakek Kamad. Sehingga terpaksa, harus duduk di undagan lantai yang membuatnya sedikit sulit, terutama saat hendak bangkit dari duduk.

"Biasa, namanya tentara seperti kita. Inilah risiko perjuangan," kata kakek Kamad tersenyum terkekeh, saat merdeka.com bertanya tentang kedua kakinya.

Ya, saya menyaksikan kedua kaki kakek Kamad tersambung kaki palsu dari mulai pangkal paha. Kondisi itu yang membuat geraknya sedikit berat, seiring usianya yang sudah 82 tahun.

Saya pun berkesempatan ngobrol lebih panjang dengan Kakek Samad yang didampingi istrinya, Aisyah (70) di kediamannya, Jalan Suropati Kota Batu, Jumat (16/8) petang. Keduanya menempati sebuah rumah bernuansa zaman Belanda dengan dikeliling rumah-rumah sanak saudara. Anak perempuannya, yang tinggal di Kota Malang, nyaris setiap hari mengunjunginya.

Kesan pertama saya, kakek dua cucu ini memiliki ingatan tajam dan cerdas. Ia bisa mengingat berbagai peralatan perang, dan peristiwa demi peristiwa yang dilalui, bahkan selalu mengikuti perkembangan informasi terkini.

Kakek satu anak ini fasih bercerita tentang operasi penumpasan pemberontakan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) tahun 1957. Ia adalah salah satu saksi peristiwa tenggelamnya Kapal Hang Tuang yang diserang pesawat B-26 Invander yang dipiloti Allen Lawrence Pop dan kawan-kawan.

Masih teringat oleh Kakek Samad, saat kapal yang ditumpanginya dibombardir dari udara di Selat Makassar. Akibatnya banyak pejuang negeri yang mempertahankan NKRI menjadi korban.

"Serangannya pagi, searah dengan matahari. Sehingga tidak kelihatan. Berrr, kederangannya seperti petir tetapi tidak ada kilatnya," kisahnya dalam campuran bahasa Jawa khas Malangan.

Akibat serangan itu, kapal dalam kondisi terbakar, sebelum kemudian berlahan-lahan miring dan tenggelam. Sebagian pasukan meninggal dunia karena serangan udara tersebut.

"Kita tinggalkan kapal yang akhirnya tenggelam. Kita berenang pakai sekoci, sementara kapalnya selamat tinggal," katanya.

©2019 Merdeka.com/darmadi

Pesawat Allen Pop beberapa waktu kemudian menyerang kembali di Amurang, Sulawesi Utara. Tetapi pesawat itu berhasil ditembak dan jatuh di kawasan Gunung Dua Saudara. Allen Pop pun ditangkap dan diadili.

Kakek Samad juga pernah ditugaskan menjadi bagian dari Kapal Rakata dalam operasi Trikora (1961-1962) untuk menyatukan Irian Barat (Papua) ke Indonesia. Kapalnya bertugas menyuplai kebutuhan BBM dan air bagi bagi KRI Matjan Tutul, Matjan Kumbang dan Harimau.

"Kapal saya (Rakata) sangat besar, bisa memuat BBM sampai 350 Ton. Sanggup mengarungi dunia dalam sekali jalan," tegasnya.

Ia masih mengingat saat terakhir kapal-kapal tersebut mengisi bahan bakar, sebelum kemudian pecah peristiwa di Laut Aru yang menenggelamkan KRI Mantjan Tutul bersama kaptennya, Komodor Yos Sudarso.

KRI Mantjan Tutul, Kumbang, Harimau diceritakan merapat di lambung kapal, sebelum kemudian berangkat melanjutkan perjalanan.

"Setelah mengisi BBM berangkat beriringan, pukul 4 sore. Kapal saya mengikuti di belakang," kisahnya.

Serangan kapal perang Neptune dan Frely Belanda membuat Matjan Tutul tenggelam. Komodor Yos Sudarso berhasil menarik perhatian musuh dengan maksud memberi kesempatan kapal lain berlari menghindar dari serangan. Peristiwa itu menjadi sangat heroik dan terkenal hingga saat sekarang ini.

Pasca kejadian itu, Kakek Samad juga yang menarik Kapal Singa, karena kandas di atas karang. Kapal Rakata menariknya dari Kepulauan Aru ke Surabaya selama seminggu.

"Kapal sempat istirahat di Buton, berjalan terus, namun di Selat Bali tali penghubungnya putus. Karena anginnya sangat besar, dua kali putus lagi," kisahnya.

Kakek Samad sendiri adalah putra asli Kota Batu, keturunan dari pasangan Sarmun dan Rasminah, pengusaha kaya dan pejuang di zamannya. Tanahnya banyak ditanami tebu untuk usaha gula merah, selain juga menjadi seorang kusir dokar.

Namun ayah Kakek Samad ditangkap dan ditahan Belanda, tetapi saat disuruh mencuci tank berhasil melarikan diri ke kawasan Pujon. Tetapi saat pelarian di sekitar Petungsewu, Kabupaten Malang sempat tidur di rumah petinggi, sebelum kemudian digerebek Belanda dan ditembak.

Tidak Nikah Kalau Perjuangan Belum Tuntas

Cerita perjalanan terus mengalir dari Kakek Samad yang sesekali diselingi tawa. Cerita masa lalunya penuh pertaruhan untuk pengabdian kepada negara.

"Kita selalu terlibat setiap NKRI memiliki gawe, dari Trikora, Dwikora dan Mandala. Biasanya 2,5 bulan, ngisi bahan bakar balik lagi," ungkapnya.

Bahkan Samad muda berkomitmen tidak akan menikah terlebih dahulu, bila perjuangan menyatukan NKRI belum benar-benar tuntas. Karena memang saat itu negara dalam kondisi genting dengan ancaman perpecahan dan disintegrasi.

"Kalau belum masuk ke pangkuan Indonesia, berkomitmen tidak nikah dulu. Kasihan istri saya nanti, kalau gugur di medan perang. Karena itu saya menikah baru 1963 dan punya anak tahun 1965," ungkapnya.

Pesan Generasi Muda

Kakek Samad pun berpesan kepada generasi muda sebagai pelanjut masa depan, untuk waspada terhadap ancaman bagi keutuhan NKRI. Kakek Samad pun menyinggung tentang sekelompok orang yang ingin mengubah dasar negara dari Pancasila.

"Sebagai generasi muda, pupuklah jiwa nasionalisme. Indonesia ini rawan radikalisme, ada yang tidak setuju Pancasila maunya membuat negara syariah. Pancasila ini sudah dasar negara. Kalau nggak setuju dengan Pancasila keluar saja. Pancasila itu sila pertamanya sudah menunjukkan Indonesia negara beragama," ceritanya.

Karena itu, jiwa dan semangat 1945 yang tanpa pamrih harus terus dipupuk. Perjuangan tanpa pamrih, saling membantu dan gotong royong dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Indonesia masih menghadapi ancaman terorisme, narkoba, berita hoaks dan lain sebagainya.

©2019 Merdeka.com/darmadi

Indonesia itu dalam pembangunannya sempat tertinggal 350 tahun karena penjajahan. Sehingga harus merapatkan barisan untuk terus membangun bersaing dengan negara-negara lain.

"Milenial harus tetap memegang jiwa '45, jangan golongan, kelompok dan partai. Jangan sampai dipecah belah. Generasi muda merapatkan barisan untuk membangun negara. Tanpa pamrih saling membantu, gotong royong Indonesia," kata Kakek Samad yang membuat saya kaget lantaran mendengar istilah milenial.

Ayah Dian Surandari ini menegaskan, lencana di dada berangka 8 tahun, 16 tahun, 24 tahun menunjukkan perjalanannya mengabdikan diri pada negara. Sebagai orang tua, Kakek Samad mengaku hanya bisa berpesan untuk melanjutkan astafet pembangunan. Ia telah mempertaruhkan jiwa dan raga untuk negara ini, termasuk pengorbanan kedua kakinya.

"Gimana sih namanya tentara. Ini bagian dari perjuangan. Ini peristiwa Aru dan Timor-Timur," katanya menoleh pada kedua kakinya.

Kaki kiri Kakek Samad sempat di-pen saat bertugas dari Kepulauan Aru, tetapi waktu dalam operasi Seroja di Timor Timur, kaki kanannya harus diamputasi. Ia mengalami kecelakaan dalam menjalankan tugas negara.

Jelang pulang lantaran waktu mulai malam, saya memberanikan diri bertanya tentang pengorbanan kedua kakinya demi bangsa dan negara. Kakek Mamad pun tegas, bahwa kakinya telah diikhlaskan sebagai wujud putra bangsa untuk negara.

"Ikhlas. Bahkan saya dikasih imbalan umur panjang. Masih diberi kemurahan, mau ditangisi apa kembali kakinya? Ya inilah, risiko, orang bekerja harus berkeringat. Jiwa 1945, rela berkorban harus ikhlas. Jiwa dan raga taruhannya. Bukan minta dihargai, tidak pernah," pungkasnya. [rnd]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini