Kades tak diseret pembunuhan Salim Kancil, polisi disebut tak serius

Kamis, 1 Oktober 2015 01:25 Reporter : Dieqy Hasbi Widhana
Kades tak diseret pembunuhan Salim Kancil, polisi disebut tak serius Petani dibunuh di Lumajang. ©LBH Jakarta

Merdeka.com - Kepala Desa Selok Awar-awar, Hariyono, ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi selepas insiden penganiayaan dua petani, hingga menyebabkan salah satu di antaranya tewas yakni Salim Kancil. Namun, dia hanya dijerat tindak pidana penambangan liar, dan dianggap melanggar undang-undang Minerba.

Sampai saat ini, Hariyono belum diseret ke dalam delik dugaan dalang penganiayaan berat terhadap aktivis antitambang liar, Salim alias Kancil dan Tosan. Jika cuma disangka terlibat penambangan liar, Hariyono hanya dihukum sepuluh tahun penjara.

Menanggapi hal tersebut beberapa elemen masyarakat yang selama ini mengadvokasi kasus Salim dan Tosan geram. Penyidik yang terdiri dari Reskrim Polres Lumajang, Reskrim Polda Jawa Timur, dan Bareskrim Polri dianggap tidak serius mengungkap kasus ini.

"Ini menunjukkan ketidakseriusan polisi dalam mengungkap kasus pembunuhan Almarhum Salim Kancil. Karena berdasarkan keterangan saksi-saksi di lapangan justru diketahui Kepala Desa yang menggerakkan orang-orang tersebut untuk melakukan pembunuhan. Terlebih pembunuhan yang terjadi di Balai Desa menunjukkan ada keterlibatan Kepala Desa dengan peristiwa tersebut sendiri," kata Divisi Advokasi Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya KontraS, Mohamad Ananto Setiawan kepada merdeka.com, Rabu (30/10).

Menurut Ananto, penyidik mengabaikan beberapa fakta. Dirinya bertanya-tanya apakah pihak kepolisian turut terlibat dalam kasus ini.

"Hal ini kemudian menjadi tanda tanya baru bagi kami, atau justru polisi ikut bermain dalam kasus ini?" tegasnya.

Juru Bicara Tim Advokasi Tolak Tambang Pasir Lumajang, A'ak Abdullah Al-Kudus juga merasa kecewa dengan keputusan para penyidik. Menurutnya Hariyono kerap menebar teror pada warga anti pertambangan pasir Pesisir Watu Pecak.

"Kami dan warga merasa tidak puas dengan penetapan tersangka sebagai pelanggar penambangan. Selama ini kepala desa ini terlibat pengancaman. Tim 12 itu dulu adalah timses kepala desa. Ketika kepala desanya terpilih tim 12 sebagai bodyguard-nya pengancaman," jelas A'ak.

Menanggapi hasil penyidikan tersebut A'ak bersama sejumlah LSM di Surabaya hari ini akan mengadakan pertemuan dengan Komisi A DPRD Surabaya. Dalam pertemuan tersebut juga akan menghadirkan Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Anton Setiadji. Rencananya mereka akan mendesak pihak Kepolisian untuk menetapkan Hariyono sebagai tersangka pembunuhan.

"Kita ingin proses hukum ini dilakukan dengan baik dan cepat dan tidak menyisakan rasa tidak adil," tuturnya.

Selain itu Direktur LBH Arya Wiraraja Lumajang, Heru Suyanto mendesak Kepolisian agar segera mengungkap siapa dalang para penjagal aktivis tolak tambang di Lumajang. Bahkan dirinya mengakui sudah mengirim surat ke berbagai pihak mulai dari Kapolres sampai Kapolri.

"Yang melakukan bukan satu orang pasti ada aktornya. Tapi permasalahan di situ bukan sekadar pembunuhan. Faktor lingkungan dan manfaatnya bagi masyarakat juga. Ternyata secara PAD tambang tidak menguntungkan kepada masyarakat," pungkasnya.

Sejauh ini, menurutnya, LBH sudah turun ke lapangan mengadvokasi keluarga Almarhum Salim Kancil. Sebab dia mengetahui pasca peristiwa pembunuhan masih ada teror dan rasa takut. [dan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini