Jubir Gugus Tugas Covid-19 Gambarkan Kondisi RS Darurat Wisma Atlet

Sabtu, 23 Mei 2020 18:16 Reporter : Merdeka
Jubir Gugus Tugas Covid-19 Gambarkan Kondisi RS Darurat Wisma Atlet Juru Bicara Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto berkesempatan mengunjungi Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta Pusat. Dia menceritakan pengalamannya mengunjungi rumah sakit karantina untuk pasien terjangkit virus Corona itu.

"Hari ini kami melihat langsung kondisi rumah sakit darurat Wisma Atlet, dan seluruh sistem sudah berjalan dengan baik dan sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku," katanya di Jakarta, Sabtu (23/5).

Wisma Atlet merupakan rumah sakit darurat yang dijadikan khusus untuk penanganan Covid-19, tentu saja berbeda dengan rumah sakit biasa. Di mana wilayah di lingkungan Wisma Atlet merupakan daerah karantina.

"Oleh karena itu tidak sama dengan rumah sakit biasa, yang mana orang lebih bebas untuk keluar masuk. Wisma Atlet merupakan wilayah karantina yang dibatasi dan itu mohon untuk dimaklumi bersama," ujarnya.

Rumah sakit darurat tersebut terbagi beberapa zona. Zona pertama untuk kegiatan pendukung umum dari pelaksanaan tugas rumah sakit darurat, termasuk urusan logistik maupun bantuan dari banyak pihak, sedangkan zona kedua untuk kegiatan administrasi.

Yurianto mengakui sumber daya manusia di zona itu memiliki kemampuan yang berbeda-beda karena sebagian besar merupakan para relawan, baik dari pemerintah, perguruan tinggi dan swasta.

"Para relawan tersebut telah diberikan sosialisasi dan pelatihan sebelum ditugaskan di rumah sakit ini, sehingga mengerti prosedur atau SOP nya," ujarnya.

Para relawan tersebut akan mengikuti pemeriksaan kesehatan setelah ditugaskan selama satu atau dua bulan di Wisma Atlet. Zona berikutnya, dia menjelaskan, untuk perawatan pasien.

1 dari 2 halaman

Yurianto mengatakan, sebagian besar pasien yang dirawat di rumah sakit itu merupakan pasien mandiri.

"Artinya mereka tidak dipasangin oksigen atau infus, namun mereka dibatasi pergerakannya pada lantai-lantai perawatannya," terangnya.

Saat ini, lanjut dia, terdapat sejumlah permasalahan psikologis pasien yang menjalani perawatan karena mereka tidak bisa bertemu dengan keluarganya menjelang Idul Fitri.

Kecemasan tidak bisa bertemu keluarga tersebut menjadi masalah psikologis tersendiri. Saat ini, sejumlah organisasi profesi telah turun tangan untuk menangani masalah tersebut.

"Oleh karena itu, kami melihat semuanya berjalan sesuai dengan prosedur. Kami juga melihat bahwa para tenaga kesehatan bekerja secara profesional sesuai profesinya, mereka mengedepankan sumpah mereka untuk bekerja melayani masyarakat dengan tulus. Mereka menyadari tidak bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarga. Itu memang menjadi tantangan berat, bagaimana meyakinkan keluarga yang di rumah bahwa Lebaran kali ini memang tidak bisa bersama-sama," ungkapnya.

2 dari 2 halaman

Yurianto menambahkan penanganan pandemi Covid-19 bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri, melainkan harus bersama-sama dengan mematuhi anjuran pemerintah.

"Mari kita patuhi semua arahan yang telah diberikan oleh pemerintah, karena kalau tidak kita lakukan ini maka beban masalah akan besar dan berkepanjangan. Kita ubah paradigma kita, menjadi normal yang baru yang selalu memperhatikan perilaku hidup bersih dan sehat, serta mencuci tangan dengan menggunakan sabun, selalu menggunakan masker mana kala keluar dari rumah, dan tidak memaksakan keluar rumah kalau tidak ada kepentingan, serta hindari tempat keramaian," tutupnya.

Reporter: Yopi Makdori
Sumber: Liputan6.com

[fik]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini