Jual Hewan Langka dan Dilindungi, Dede Ditangkap Polda Jabar

Senin, 28 Oktober 2019 13:53 Reporter : Aksara Bebey
Jual Hewan Langka dan Dilindungi, Dede Ditangkap Polda Jabar Penjual Owa dan Lutung ditangkap Polda Jabar. ©2019 Merdeka.com/Aksara Bebey

Merdeka.com - Dede Nurdin (29) meraup untung jutaan rupiah dalam menjalankan penjualan hewan langka dan dilindungi melalui media sosial. Namun, bisnis ilegal itu tak bertahan lama setelah ia ditangkap oleh jajaran Direskrimsus Polda Jabar .

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Trunoyudho Wisnu Andiko mengatakan pengungkapan kasus berhasil dilakukan bekerjasama dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar.

"Berdasarkan penyelidikan, kami berhasil menangkap satu tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di Pangandaran, kemarin (27/20/2019)," kata dia saat ungkap kasus di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Senin (28/10/2019).

Dalam penangkapan di Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran itu, pihak kepolisian menyita barang bukti berupa enam ekor lutung, dua ekor Surili, satu ekor Owa dan satu unit ponsel pintar.

Tersangka mendapatkan sejumlah satwa dari kenalannya yang berprofesi sebagai pemburu. Satu ekor lutung ia dapatkan dengan harga Rp 200 ribu, Surili Rp 300 ribu sedangkan seekor Owa didapatkannya dengan harga Rp 2 juta.

"Satwa ini kemudian ia jual sesuai pesanan melalui media sosial. Bisnisnya itu ia mulai sejak sekitar awal Bulan Oktober 2019," terang dia.

Di tempat yang sama, Wadirkrimsus Polda Jabar, AKBP Hari Brata mengatakan perbuatan tersangka melanggar Undang-Undang RI Nomor 5 tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

"Ancaman hukumannya selama lima tahun. Saat ini, yang bersangkutan kami tahan. Sedangkan satwa yang berhasil disita akan diserahkan BKSDA dan lembaga konservasi Aspinal untuk dirawat," kata dia.

Hari menegaskan, setelah proses penyidikan terhadap tersangka rampung, kasus ini akan terus dikembangkan dengan menangkap kurir, pemburu dan pembeli.

Sementara itu, Dede mengaku baru menjalankan bisnisnya selama hampir dua bulan setelah mendapatkan permintaan dari rekannya di Kabupaten Bogor. Karena tak punya pekerjaan tetap, permintaan itu ia sanggupi dan ditindaklanjuti dengan mencari pemburu yang biasa beroperasi di hutan perbatasan Ciamis-Tasikmalaya.

"Saya dapat kenalan seorang pemburu. Rata-rata mereka (pemburu) saya kasih upah Rp 200 ribu dari setiap ekornya. Kalau Owa memang lebih mahal. Saya jual lagi dengan selisih harga dua kali lipat," terang dia. [ded]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini