Jogja Garuk Sampah, Gerakan Rawat Bumi Tiap Rabu

Rabu, 8 Juli 2020 15:15 Reporter : Purnomo Edi
Jogja Garuk Sampah, Gerakan Rawat Bumi Tiap Rabu Gerakan Jogja Garuk Sampah. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Yogyakarta menjadi salah satu kota besar yang terus bertransformasi menjadi kota metropolitan. Permasalahan perkotaan pun semakin kompleks dirasakan di Yogyakarta. Dari masalah sampah, tata ruang hingga polusi.

Berawal dari keprihatinan terhadap permasalahan sampah di Yogyakarta, lahirlah sebuah gerakan yang dinamai Jogja Garuk Sampah. Gerakan solidaritas warga ini aktif mengatasi masalah sampah yang oleh pemerintah tak digarap dengan serius.

Masih lekat dalam ingatan koordinator Jogja Garuk Sampah, Bekti Maulana bagaimana awal mula berdirinya Jogja Garuk Sampah di tahun 2015. Bekti yang masih duduk di bangku SMA ini ikut ke dalam gerakan yang diinisiasi oleh seorang mahasiswa bernama Wilian.

Sebelum bernama Jogja Garuk Sampah, gerakan solidaritas warga ini dulunya bernama Resik-resik kota yang diinisiasi oleh seorang pesepeda bernama Willian. Mahasiswa asal Blora ini mengajak komunitas pesepeda dimana Bekti menjadi salah satu anggotanya.

Gerakan yang berawal dari rasan-rasan para pesepeda yang tak terima melihat situasi Kota Yogyakarta yang kian semrawut setiap harinya. Sampah di tempat wisata berserakan hingga minimnya jumlah tempat sampah di ruang publik.

"Awalnya kita hanya fokus pada daerah wisata seperti Malioboro dan Kawasan Titik Nol Kilometer. Kita bersihkan sampah-sampah di sana. Kita juga bikinkan tempat sampah dari bambu. Tujuannya biar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan," ujar Bekti di Maguwoharjo, Selasa (7/7).

Bekti menerangkan, Willian kemudian harus berpindah kota karena melanjutkan studi di Bandung. Kemudian gerakan bersih-bersih sampah ini sempat vakum. Akhirnya dengan penuh kesadaran dan semangat kebersamaan, Bekti pun menghidupkan kembali kegiatan bersih-bersih sampah di perkotaan ini.

"Saya tergerak. Mas Willian yang orang Blora saja mau masak saya yang orang Jogja enggak bisa meneruskan. Akhirnya saya teruskan karena memang tujuannya baik," ucap Bekti.

Bekti menerangkan di tahun 2016, Jogja Garukan Sampah melebarkan sayap dalam kegiatan. Kali ini tak hanya menyasar sampah di area wisata saja namun mulai menggarap sampah visual berupa iklan berbentuk poster maupun spanduk yang dipasang asal dan mengganggu pemandangan.

"Bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional tanggal 21 Februari 2016. Kita mulai memerangi sampah visual yang asal dipasang di pohon, tembok hingga melintang di jalan," papar Bekti.

1 dari 1 halaman

Rabu: Rawat Bumi

Bekti mengungkapkan awalnya gerakan Garuk Sampah ini bergerak setiap ada waktu luang. Namun karena ada permintaan dari relawan agar kegiatan terjadwal maka dipilihlah aktivitas Jogja Garuk Sampah di hari Rabu malam.

"Kita pilih hari Rabu karena akronim dari Rawat Bumi. Kita bergerak setiap hari Rabu malam menyasar titik-titik yang sebelumnya telah kita survei dulu. Kita bersihkan bersama relawan-relawan Jogja Garuk Sampah. Setiap kegiatan ya ada 50 sampai 100 relawan," urai Bekti.

Bekti menuturkan untuk relawan ini lintas latar belakang. Adanya yang mahasiswa, pelajar, dosen, pegawai negeri maupun ibu hamil. Para relawan ini bersama-sama bergerak untuk membersihkan Yogyakarta. Hanya saja selama pandemi virus Corona, relawan yang ikut patroli sampah dibatasi hanya maksimal 10 orang saja.

Bekti menyebut awalnya memang gerakan Jogja Garuk Sampah hanya berfokus pada Kota Yogyakarta. Namun belakangan gerakan diperluas hingga Kabupaten Sleman yang dinilai semakin semrawut penataannya.

Bekti memaparkan jika gerakan Jogja Garuk Sampah ini murni berasal dari pendanaan masyarakat. Baik itu urunan maupun donasi lewat nomor rekening yang ada. Bekti menyebut setiap kegiatan, selalu diusahakan agar saldo rekening dipakai semua sehingga tidak menjadi kendala ke depannya.

"Ya kita bentuknya solidaritas bersama. Urunan, selkileran atau apapunlah namanya. Kita tidak mau ada pendanaan yang mengikat. Kalau mau donasi ya donasi saja. Banyak sebenarnya yang mau nawari kerja sama pendanaan dengan nilai yang tak main-main. Tapi kita lebih memilih berdonasi bersama saja," ungkap Bekti.

Bekti menjabarkan selain melakukan gerakan bersih-bersih di jalan, Jogja Garuk Sampah juga melakukan edukasi pada masyarakat melalui media sosial. Melalui akun media sosialnya ini, Jogja Garuk Sampah mengajak masyarakat untuk bergerak menjaga lingkungannya dari sampah.

Suka Duka

Bekti menuturkan banyak suka duka yang dialaminya selama berkegiatan di Jogja Garuk Sampah. Berbagai intimidasi pernah dialami oleh Bekti. Bahkan Bekti pernah pula menjadi sasaran pengeroyokan karena mengingatkan tentang masalah sampah.

Bekti menceritakan tahun 2017 lalu dirinya sempat menjadi sasaran pengeroyokan anak SMA yang memasang pamflet dengan sembarangan di daerah Simpang Empat Sagan. Waktu itu Bekti mencoba mengingatkan namun justru para pelajar itu mengeroyoknya. Tak hanya dengan tangan kosong namun Bekti juga dipukul dengan bambu.

Peristiwa serupa pernah pula terjadi saat Bekti bergabung awal di Jogja Garuk Sampah. Saat itu Bekti masih duduk di bangku kelas 3 SMA harus berhadapan dengan sekelompok mahasiswa yang tak terima saat ditegur karena memasang spanduk sembarangan.

Bekti sempat dicari bahkan sempat pula diserang melalui media sosial. Baik itu Whatsapp, akun Facebook hingga Line.

"Pernah juga dulu awal-awal saya masih nakal-nakalnya. Jadi dulu kita sering bersihkan sampah di Malioboro tapi tak pernah dapat perhatian dari pemerintah. Bahkan mau pinjam alat milih Dinas Lingkungan Hidup juga susah. Kemudian kita kumpulkan semua sampah lalu kita lemparkan ke depan rumah dinas Wali Kota," ucap Bekti.

"Gara-gara itu saya sempat dicari. Karena dikira kita partisan dari kubu sebelah yang tak mendukung Wali Kota. Padahal kita sama sekali tidak ada kaitan politik, ini murni kekesalan kita sebagai warga kepada Walikota terkait masalah sampah," imbuh Bekti.

Bekti menuturkan setelahnya memang ada komunikasi yang baik dengan pemerintah. Akhirnya ada tempat sampah yang memadai di kawasan Malioboro.

Bekti menambahkan saat ini harapan terbesarnya yang belum diraih adalah ingin agar gerakan Jogja Garuk Sampah ini segera dibubarkan. Bekti menyebut kesadaran masyarakat terhadap masalah sampah menjadi kunci kesuksesan pembubaran gerakan Jogja Garuk Sampah.

"Harapan kami semoga Garuk Sampah segera bubar! Iya bubar. Bubar dengan catatan gerakan ini tergantikan oleh kesadaran masyarakat yang semakin tinggi akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, juga mulai adanya ketegasan dari pemerintah terhadap penanganan permasalahan sampah yang ada di wilayah masing-masing," pungkas Bekti. [cob]

Baca juga:
Mengolah Sampah Jadi Berkah
Ikhtiar Cak Oyong Mengolah Sampah Minyak Jelantah
Merawat Lingkungan ala Anak Milenial
Inspirasi dari Bekas Bungkus Kopi
Si Sarjana Pengubah Wajah Bantaran Kali Cisadane
Dianggap Gila karena Urusi Sampah

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini