JK minta maaf atas macet mudik & 17 orang meninggal di Tol Brebes

Selasa, 12 Juli 2016 13:51 Reporter : Faiq Hidayat
JK minta maaf atas macet mudik & 17 orang meninggal di Tol Brebes Jusuf kalla. ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan pemerintah meminta maaf atas kemacetan parah saat mudik Lebaran Idul Fitri. Padahal pemerintah sudah bekerja maksimal untuk memberikan pelayanan pemudik pada tahun 2016 ini.

"Jadi pertama, pemerintah minta maaf, menyesalkan ini semua. Saya kira sudah beberapa pejabat minta maaf. Bahwa pemerintah sudah berusaha melayani sebaik-baiknya dan masyarakat yakin akan itu tetapi semua orang terlalu yakin. Akhirnya pikiran yang sama terjadi," kata Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jakarta, Selasa (12/7).

Mengatasi macet mudik, kata dia, sudah pernah dibahas dalam rapat kabinet di Istana Presiden. Ketika itu, ada usulan bahwa karcis tol dijual di minimarket agar tak ada antrean panjang di pintu jalan tol.

"Macam-macam usulan di rapat kabinet. Ada usulan bebaskan jalan tol. Saya usulkan waktu itu agar karcis tol dijual di depan di minimarket. Karena saya hitungkan dibutuhkan 15 detik orang membayar tol, apalagi kalau menukar uang. Kalau sejuta kali 15 detik, berapa itu? 15 juta detik hilang. Kalau hanya 15 juta detik dia punya gerbangnya, berapa waktu dihemat kalau tinggal lempar ajah tuh karcis. Tapi tidak dilakukan juga," jelas dia.

Selain itu, lanjut dia dalam usulan rapat kabinet tersebut juga mengatur hari cuti lebaran. Bahkan nomor polisi kendaraan ganjil dan genap dalam arus mudik lebaran ini.

"Kita punya usul juga karena empat hari liburkan. Empat ini dibagi nomor ganjil sabtu senin pula. Nomor genap minggu dan selasa. Bisa lagi diatur nomor genap satu sampai sekian hari ini, bisa atur. Cuma kita optimis terlalu yakin bahwa jalan tol ini membantu. Ternyata orang berpikiran sama. Terjadilah musibah ini (17 orang meninggal akibat macet Tol Brebes)," tuntasnya.

Dia menambahkan, selama mudik Lebaran pasti ada hambatan kemacetan karena permintaan lebih besar. Apabila dicontohkan pada tahun 1970-an, pendapatan masyarakat masih belum tinggi.

"Sampai kapanpun mudik itu selalu punya hambatan-hambatan. Sampai kapanpun. Karena selama permintaan lebih besar daripada ketersediaan infrastruktur akan tetap begitu. Kalau tahun 70-an 80-an selalu Anda tulis permasalahannya di bus, selalu orang menunggu terminal Pulogadung dan Kampung Rambutan, bus belum kembali sehingga orang tunggu dan marah di bus. Apa artinya? Artinya waktu itu pendapatan masyarakat belum tinggi, oleh karena itu hampir semuanya masih menunggu angkutan umum dan jalan belum bagus," tandasnya. [dan]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini