JIS sebut sidang gugatan perdata kasus sodomi banyak kejanggalan

Rabu, 27 Mei 2015 01:10 Reporter : Dieqy Hasbi Widhana
JIS sebut sidang gugatan perdata kasus sodomi banyak kejanggalan JIS. ©AFP PHOTO

Merdeka.com - Kuasa Hukum Jakarta Internasional School, Judiati Setyoningsih menyatakan tidak ada pelecehan seksual yang terjadi di sekolah tersebut. Hal itu mereka perkuat dengan bukti-bukti yang dimilikinya.

"Jadi sampai detik ini berdasarkan bukti-bukti yang diajukan oleh penggugat kami berkeyakinan bahwa sodomi itu tidak ada," kata Judiati Setyoningsih usai sidang gugatan perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (26/5).

Dalam sidang tersebut membahas pernyataan dari Rumah Sakit Pondok Indah dan dari Dokter Osmina sendiri. Pada intinya mereka mempertanyakan dasar medis si anak itu mengalami sodomi di sekolah.

Menurut Dokter Osmina dalam pernyataannya, kata-kata itu bukan dia yang membuat. Tetapi atas keinginan ibu si anak dari penggugat.

"Waktu itu dikatakan pada Osmina bahwa ia (ibu si anak) membutuhkan surat itu untuk penggantian pengobatan rumah sakit. Dia tidak mengatakan bahwa ini untuk kepentingan pembuktian," ujarnya.

Namun, dia menyatakan ternyata surat yang diberikan Osmina yang berdasarkan permintaan ibu korban dijadikan sebagai bukti di pengadilan. Surat ini yang mendasari tergugat dikenai denda sebesar Rp 1,6 triliun.

"Memo, surat keterangan. Jadi si ibu ini minta surat keterangan kepada Dokter Osmina kemudian dijadikan bukti di pengadilan," tuturnya.

Lanjut dia, selain itu surat ini pula yang memvonis korban mendapat pelecehan seksual berupa perilaku sodomi. Padahal surat yang diberikan oleh Osmina hanya berupa memo.

"Surat keterangan itu menyatakan bahwa si anak diperkosa oleh pedofil di sekolah. Kemudian disampaikan bantahan oleh Rumah Sakit Pondok Indah dan juga dokter Osmina dan ada surat pernyataan bermaterai, disampaikan pada kami. Itu kami ajukan sebagai bukti," ungkapnya.

Sedangkan dari fakta persidangan selama ini, JIS berpendapat sodomi itu tidak pernah terjadi. Karena JIS menganggap semua bukti yang diajukan oleh penggugat telah mereka patahkan. Penguatan mereka didukung oleh beberapa dokter yang hadir.

"Narain adalah dokter pertama yang memeriksa korban, yang tidak menemukan tanda-tanda kekerasan seksual sekecil apa pun, lecet sekecil apa pun, luka sekecil apa pun, robekan atau apa pun tidak ditemukan. Lutfi pun tidak menemukan itu," jelasnya.

Lebih jauh, kata dia, jika dirunut perkara memunculkan fakta disodomi berulang-ulang oleh beberapa orang dewasa. Pelecehan itu berlangsung kurang lebih 13 kali. Maka bisa dianggap jika korban mengalami perobekan pada bagian anusnya.

"Kalau dari forensik enggak satu atau dua minggu. Kalau cuma lecet-lecet bisa satu atau dua minggu. Kalau robek enggak satu atau dua minggu, bisa satu bulan," pungkasnya. [efd]

Topik berita Terkait:
  1. Pelecehan Seksual Di JIS
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini