Jenderal Gatot: TNI tidak bisa jaga negara tanpa ulama dan santri

Senin, 5 Juni 2017 07:48 Reporter : Purnomo Edi
KPK dan TNI umumkan tiga tersangka pengadaan heli AW-101. ©2017 merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Muhammadiyah menggelar dialog kebangsaan dan pengajian di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan menghadirkan pembicara Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo. Menanggapi kehadiran Gatot di tengah-tengah puluhan ribu massa dan jamaah Muhammadiyah ini, Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam sambutannya mengatakan, hadirnya Gatot ibarat prajurit yang pulang ke kampung halaman.

"Atas nama PP Muhammadiyah, kami ucapkan selamat datang panglima di ibu kota Muhammadiyah di Yogyakarta, yang merupakan pusat perang gerilya di era kemerdekaan," sambut Haedar, Minggu (4/6).

Haedar menuturkan, sejak sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah bersama umat Islam lainnya telah berjuang jihad fisabilillah untuk kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, kata Haedar, banyak tokoh pejuang yang merupakan kader dari Muhammadiyah.

"Panglima TNI pertama adalah kader Muhammadiyah yaitu Jenderal Soedirman. Di awal kemerdekaan, Soedirman tidak hanya tercatat sebagai kader Muhammadiyah, tapi juga tokoh sentral TNI. Maka bagi kami, TNI adalah bagian dari Muhammadiyah dan umat Islam. Umat Islam serta Muhammadiyah juga merupakan bagian tak terpisahkan dari TNI," urai Haedar.

Dalam sambutannya, Haedar menuturkan, ada sebuah momen khusus antara Muhammadiyah dengan Gatot. Satu tahun yang lalu saat ramai isu komunisme, kata Haedar, Gatot sempat mengirimkan utusan ke PP Muhammadiyah untuk menegaskan bahwa sikap TNI sama dengan sikap Muhammadiyah.

"Saat PP Muhammadiyah bertemu Presiden Jokowi untuk membahas komunisme, Gatot merupakan orang pertama yang menyatakan dukungannya pada sikap PP Muhammadiyah," kata Haedar.

Menanggapi sambutan Haedar, Gatot menyebut kalau apa yang disampaikan Haedar benar. Jika kedatangannya ke Yogyakarta seperti pulang ke kampungnya sendiri.

"Apa yang dikatakan Ketua benar, bahwa panglima pertama TNI itu adalah kader Muhammadiyah. Mengapa saya harus berbicara di sini, karena Muhammadiyah adalah cikal bekal perjuangan bangsa," paparnya.

Gatot melanjutkan, jika bangsa Indonesia sejak awal kemerdekaannya, tidak bisa dilepaskan dari Muhammadiyah. Oleh sebab itu, tidak cukup kalau usaha menjaga kesatuan bangsa diserahkan ke TNI saja, melainkan harus didukung ulama, santri, dan para kader Muhammadiyah.

"TNI tidak bisa menjaga negara tanpa ulama, santri, dan para kader Muhammadiyah," pungkas Gatot. [rnd]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.