Jejak langkah dan karya 13 gubernur Jakarta

Kamis, 20 September 2012 07:52 Reporter : Henny Rachma Sari
monas. shutterstock

Merdeka.com - 1. Raden Suwiryo (1945-1947 dan 1950-1951)

Raden Suwiryo bersama wakilnya Baginda Dahlan Abdullah ditunjuk menjadi Wali Kota pertama DKI Jakarta saat perpindahan kekuasaan Jepang ke Republik Indonesia, pada tanggal 23 September 1945. Suwiryo merupakan Walikota pertama yang ditunjuk pada masa pendudukan Jepang. Dia ikut mendesak agar Soekarno dan Mohammad Hatta segera mengumumkan proklamasi kemerdekaan RI.

Saat Belanda kembali melancarkan aksinya, Suwiryo tetap berada di Jakarta. Walaupun saat itu Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta hijrah ke Yogyakarta. Suwiryo memberikan instruksi kepada seluruh pegawai pamong praja tetap tinggal dan beraktifitas seperti biasa.

Pada 21 Juli 1947 saat Belanda melancarkan aksi militernya, Suwiryo diculik pasukan NICA di rumahnya, Menteng, Jakarta Pusat. Selama lima bulan dia disekap di daerah Jl Gajah Mada, dan kemudian November 1947 diterbangkan ke Semarang untuk kemudian ke Yogyakarta. Penculikan yang berlangsung dari tahun 1947-1949 itu sempat membuat Suwiryo terputus dari jabatannya untuk sementara dan dialihkan ke Daan Jahja.

Tahun 1949, Suwiryo kembali menapaki tanah jakarta dan Presiden Soekarno pun mengembalikan jabatannya sebagai Walikota Jakarta pada 17 Februari 1950 hingga 1951. Setelah berjuang melawan sakit yang diderita, akhirnya pada 27 Agustus 1967 Suwiryo menghembuskan nafas terakhir dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

2. Daan Jahja (1948 - 1950)

Saat Raden Suwiryo diculik oleh tentara Belanda dan diasingkan di Semarang lalu Yogyakarta, Daan Jahja lah yang untuk sementara mengambil alih kursi Jakarta 1 pada saat itu. Jahja merupakan seorang Mantan Gubernur Militer Jakarta berpangkat Letnan Kolonel TNI.

Tidak banyak informasi yang didapatkan tentang biografi pria kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Januari 1925. Namun, perannya dalam memberantas aksi kapten Westerling yang akan merebut kekuasaan negara karena tidak menerima penyerahan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 27 Desember 1949 cukuplah penting. Sebagai seorang administrator, jahja berhasil mengembalikan pemerintahan Jakarta ke pola keIndonesiaan.

Letnan Kolonel H Daan Jahja wafat pada 20 Juni 1985 tepat pada Hari Raya Idul Fitri 1405 Hijriah. Beliau wafat sepulang dari mesjid Sunda Kelapa, Jakarta usai melaksanakan salat Ied.

3. Sjamsuridjal (1951-1953)

Sebelum dikenal sebagai walikota Jakarta, Sjamsuridjal menjabat sebagai wali Kota Bandung dan Solo. Saat menduduki Jakarta satu, Sjamsuridjal dikenal dengan kebijakan terkait permasalahan kesejahteraan rakyat, seperti, listrik, masalah air minum, pelayanan kesehatan, pendidikan dan kebijakan tanah.

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) pun dibangun Sjamsuridjal di kawasan Ancol guna mengatasi permasalahan listrik yang kerap padam saat itu. Tidak hanya itu, pria yang menjabat sebagai Wali Kota Jakarta selama dua tahun ini juga membangun penyaringan air di karet, penambahan pipa, peningkatan suplai air di Bogor untuk meningkatkan penyediaan air minum. Pengembangan Universitas Indonesia pun menjadi perhatian Sjamsuridjal.

4. Sudiro (1953-1960)

Sudiro memimpin pemerintahan jakarta yang saat itu bernama 'Kota Praja Jakarta Raya' sejak tahun 1953 sampai 1960. Sudiro adalah seorang pendidik dan guru.

Kebijakannya yang masih tetap dipakai hingga kini ialah, pemecahan wilayah terkecil, Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Kampung (RK) yang kemudian berubah menjadi Rukun Warga (RW). Tidak hanya itu, Sudiro juga memecah Jakarta menjadi tiga wilayah administratif dengan sebutan Kebupaten yang dikepalai oleh seorang patih. Tiga wilayah tersebut meliputi, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan.

Di bawah pimpinan Sudiro lah tercetus ide pembangunan Monumen Nasional (Monas). Hal tersebut pun didukung Presiden Soekarno. Namun, pelaksanaannya baru dilakukan saat kepemimpinan Soemarmo. Keinginan Sudiro yang lain, ialah melestarikan gedung-gedung serta sejumlah monumen bersejarah. Desember 1959, Sudiro memutuskan untuk tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai kepala pemerintahan Jakarta.

5. Soemarno (1960-1964) dan (1965-1966)

Pada masa kepemimpinan Soemarno di tahun 1959, Jakarta yang berstatus Kotapraja berganti menjadi Daerah Tingkat I dengan dikepalai oleh seorang Gubernur. Presiden Soekarno langsung mengangkat Dr Soemarno menjadi Gubernur pertama Jakarta.

Pembangunan demi pembangunan dilakukan saat pria kelahiran Rambipuji, Jember, Jawa Timur 24 April 1911 menjabat sebagai orang nomor satu di Jakarta. Monumen Nasional (Monas), Patung Selamat Datang yang menjadi ciri khas di kawasan Bundaran HI saat ini, Patung Pahlawan yang terletak di kawasan Menteng pun mulai dibangun di bawah kepemimpinan Dr Soemarno.

Soemarno yang merupakan seorang dokter dan militer juga menggagas konsep rumah minimum warga seluas 90 meter persegi di atas tanah 100 meter persegi.

Di masa kepemimpinannya, landmark-landmark Jakarta dibangun. Sebut saja Monas yang merupakan gagasan dari pemimpin sebelumnya, Sudiro, Patung Selamat Datang di Bundaran HI yang ditujukan untuk menyambut peserta Asian Games IV juga Patung Pahlawan di Menteng. Program lain yang dilakukannya saat itu antara lain, membangun rumah minimum. Proyek pertama rumah minimum dibangun di Raden Saleh, Karang Anyar, Tanjung Priok dan Bandengan Selatan.

Setelah menjadi gubernur, Soemarno menjadi Mendagri. Kemudian merangkap menjadi Gubernur Jakarta kembali karena menggantikan gubernur Henk Ngantung yang karena alasan kesehatan mundur dari jabatan itu.

6. Henk Ngantung (1964-1965)

Pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 1 Maret 1921 ini bernama lengkap Hendrik Hermanus Joel Ngantung. Sebelum menjabat sebagai orang nomor satu di jakarta, Henk Ngantung kerap akrab dengan dunia seni, terlebih seni lukis. Bersama Chairil Anwar dan Asrul Sani, ia turut mendirikan "Gelanggang". Ngantung juga pernah menjadi pengurus Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok, 1955-1958. Seniman yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) ini merupakan pemrakarsa berdirinya Sanggar Gotong Royong.

Presiden Soekarno yang menginginkan Jakarta menjadi kota budaya, menunjuk langsung Ngantung sebagai Jakarta satu, karena melihat bakat artistik yang dimilikinya.

Hanya menjabat setahun, Henk mundur karena masalah kesehatannya, yakni digerogoti penyakit jantung dan glukoma hingga buta. Soemarno kemudian melanjutkan masa jabatan Henk.

Patung Selamat Datang adalah hasil sketsa Henk, setelah digagas oleh Bung Karno. Henk pula yang membuat lambang DKI Jakarta dan Kostrad. Salah satu pengalaman yang barangkali menarik ialah tatkala presiden memanggilnya ke istana hanya untuk mengatakan bahwa pohon-pohon di tepi jalan yang baru saja dilewati dikurangi. Masalah pengemis yang merusak pemandangan Jakarta tak lepas dari perhatian Ngantung. Tetapi, semua upaya untuk itu tak berhasil.

7. Ali Sadikin (1966-1977)

Sosok Ali Sadikin tidak akan pernah dilupakan warga Jakarta. Pasalnya, di tangannya lah Jakarta berhasil menjadi kota yang setara dengan taraf Internasional. Bahkan, Jakarta menjadi kota kebanggaan bagi penduduknya kala itu. Sejumlah pasar, masjid, puskesmas, sekolah, serta gedung yang menjulang tinggi kerap dibangun Bang Ali, begitu sapaan akrabnya.

Dibawah kepemimpinannya berhasil dibangun Kebun Raya Ragunan, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Museum Fatahilah, Museum Tekstil. Keramik dan Wayang. Juga pengembalian fungsi Gedung Joeang 1945 dan gedung Sumpah Pemuda.

Dari segi Seni dan Olahraga, pria kelahiran Sumedang, 7 Juli 1927 ini pun berhasil membangun sejumlah gelanggang remaja dan olah raga di lima wilayah Kota Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Pelestarian Budaya Betawi di Kawasan Condet, Pusat Perfilman Usmar Ismail, Penyelenggaraan Abang None Jakarta, serta menjadi Tuan rumah dan juara umum Pekan Olahraga Nasional (PON).

Tidak hanya itu, pria yang mengenyam pendidikan di Sekolah Pelayaran Tinggi di Semarang sebelum akhirnya masuk BKR-Laut yang sekarang dikenal dengan TNI-AL ini juga melakukan pembangunan dari segi ekonomi. Sejumlah proyek ia kerjakan seperti, pembangunan Proyek Senen, Kota Satelit di Pluit, menyelenggarakan Pekan raya Jakarta, menetapkan pajak tinggi bagi bisnis hiburan malam seperti klub malam dan perjudian. Langkah kontroversial yang dilakukan Bang Ali ialah saat membuka kawasan lokalisasi prostitusi di Kramat Tunggak.

Berkat karismatiknya, sang Gubernur menerima hadiah Magsaysay dari Filipina, 1971. "Kepemimpinan tidak dapat bekerja hanya dengan kharisma, pemimpin harus menjadi orang yang siap untuk bekerja," katanya.

Pimpinan yang dicintai warganya ini akhirnya menghembuskan nafas terakhir di Singapura, 20 Mei 2008 karena sakit yang diderita.

8. Tjokropranolo (1977-1982)

Tjokropranolo, lahir di Temanggung, Jawa Tengah, 20 Mei 1924. Sebelumnya, dirinya menjadi asisten Ali Sadikin selama setahun. Selain itu, saat berpangkat kapten dia pernah menjadi pengawal pribadi Panglima Besar Sudirman. Dia pula turut meloloskan Pak Dirman dari maut serangan Belanda, yang berkali-kali melakukan percobaan pembunuhan.

Pria yang akrab disapa Nolly ini dilantik sebagai Gubernur Jakarta pada Juli 1977. Di masanya, Nolly berhasil menjadikan Jalan Jenderal Sudirman dan MH Thamrin dibebaskan tiap hari sabtu dan minggu pagi, sehingga jalur tersebut bisa digunakan warga untuk berolah raga dan jalan kaki. Dirinya juga melanjutkan program Ali Sadikin untuk menekan angka urbanisasi di Jakarta dengan menyatakan Jakarta tertutup bagi pendatang baru.

Tak hanya itu, pria yang dikenal sebagai pekerja keras dan berpandangan lurus ini kerap menaruh perhatian terhadap nasib buruh dan usaha kecil. Dirinya mengalokasikan sekitar 425 tempat untuk 46 ribu pedagang kecil agar dapat berdagang secara legal. Walau begitu, kemacetan lalu lintas dan kesemrawutan transportasi kota menjadi masalah yang sulit dipecahkan. Perda yang mengatur pedagang jalanan tidak efektif, sehingga mereka masih berdagang di wilayah terlarang, menempati badan jalan, dan memacetkan lalu lintas.

Nolly menghembuskan nafas terakhir pada 22 Juli 1998 di usia 74 tahun.

9. Raden Soeprapto (1982-1987)

Pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 12 Agustus 1924 ini mempunyai latar belakang kemiliteran. Atas dasar pertimbangan itulah, dirinya dinilai mampu mengatasi masalah Jakarta yang kompleks. Sistem keterbukaan, refungsionalisasi aparatur, ketegasan, dan penegakan disiplin aparatur dan masyarakat pun diterapkan di era nya.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta pun berhasil dibangun pria yang pernah menjadi Komandan Kompi PETA dalam pertempuran di front Srondol, Semarang saat Agresi Militer belanda terjadi.

Pria yang pernah menjabat Danmen Taruna Akmil, Asisten 2/OPS Kodam VII Diponegoro, Kasdam XVII/Cenderawasih, sampai Panglima Kodam XVI/Udayana juga dikenal sebagai penggagas Master Plan DKI Jakarta terkait rencana Umum Tata Ruang dan Rencana Bahagian Wilayah Kota.

10. Wiyogo Atmodarminto (1987-1992)

Pria kelahiran Yogyakarta, 22 November 1922 ini dikenal dengan panggilan Bang Wi. Selain itu, dirinya juga dikenal sebagai sosok gubernur yang open mind dan berdisiplin tinggi ini kerap berkunjung ke berbagai tempat di Jakarta secara rutin.

Dari tangan pria yang sebelumnya menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Jepang ini berhasil direalisasikan sejumlah program, diantaranya, pembebasan kawasan becak, Swastanisasi kebersihan, pembangunan dan perluasan jalan arteri, jalan layang dan underpass. Selain itu, Bang Wi juga yang memindahkan Pekan Raya Jakarta yang semula diselenggarakan di Monas ke Kemayoran. Lalu, memindahkan Terminal Cililitan ke Kampung Rambutan juga pengembalian kelestarian Ciliwung.

Bang Wi yang merupakan salah satu pelaku dari Serangan Umum 1 maret ini menawarkan konsep Jakarta Bersih, manusiawi dan wibawa alias BMW.

11. Soerjadi Soedirdja (1992-1997)

Soerjadi Soedirdja lahir di Jakarta, 11 Oktober 1938. Pada era nya sudah mulai dibangun rumah susun, ruang terbuka hijau dan memperbanyak daerah resapan air. Dirinya juga mencanangkan Rencana Strategis Pembangunan DKI Jakarta.

Mengusung konsep Jakarta Teguh beriman, Soerjadi mempunyai sembilan target, yakni, pengendalian ke[endudukan, penanganan pemukiman kumuh, pembinaan sektor informal, peningkatan pelayanan masyarakat, pembinaan aparatur, peningkatan penerimaan daerah, kebersihan, kesehatan lingkungan serta penghijauan, lalu lintas dan angkutan umum dan keterpaduan pembangunan sosial kemasyarakatan.

Dirinya juga menerqapkan peningkatan disiplin dan kualitas sumber daya aparat dalam Lima Pedoman kerja Aparat Pemerintah DKI Jakarta. Penghargaan 'Samya Krida Tata Tenteram Karta Raharja' diperoleh Jakarta saat posisi gubernur dijabat oleh Soerjadi Soedirja. Penghargaan itu merupakan apresiasi atas hasil karya tertinggi dalam melaksanakan Pembangunan Lima Tahun Kelima, sehingga memberikan kemanfaatan luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan DKI Jakarta khususnya, serta Republik Indonesia pada umumnya.

Di masanya terjadi peristiwa politik Kerusuhan 27 Juli 1996.

12. Sutiyoso (1997-2007)

Sutiyoso lahir di Semarang, Jawa Tengah, 6 Desember 1944. pria yang kerap disapa Bang Yos ini menjabat sebagai gubernur DKI selama 2 periode, yakni 1997-2002.

Bang Yos mendapat julukan pemimpin bertangan besi bersarung tangan beludru oleh Mantan Menristek Kusmayanto Kadiman.

Penambahan lajur busway dan pemagaran Monas merupakan kebijakan keras, tanpa kompromi dan kontroversial yang dibuat oleh Bang Yos. Sistem transportasi busway dengan 10 koridor yang menghubungkan Jakarta merupakan salah satu proyek yang berhasil di bawah kepemimpinannya, untuk sedikit memecahkan masalah kemacetan di Jakarta.

13. Fauzi Bowo (2007- sekarang)

Setelah Sutiyoso, penggantinya adalah wakilnya yakni Fauzi Bowo. Fauzi Bowo yang menang dalam Pilgub DKI 2007-2012 kini mencalonkan kembali menjadi gubernur DKI periode 2012-2017. Fauzi Bowo merupakan birokrat karir di Pemprov DKI Jakarta. [ian]

Topik berita Terkait:
  1. Gubernur Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini