Jejak ISIS di Balik Bomber Kartasura Hingga Penusukan Wiranto

Jumat, 27 Desember 2019 07:05 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah
Jejak ISIS di Balik Bomber Kartasura Hingga Penusukan Wiranto Wiranto diserang. ©2019 twitter.com

Merdeka.com - Aksi terorisme masih menghantui tanah air sepanjang tahun 2019. Rentetan serangan teroris itu tercatat memakan korban mulai aparat hingga pejabat negara.

Dari hasil penyelidikan Densus 88, aksi teroris ini berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Mereka menyerang aparat karena menganggap polisi sebagai thogut karena merupakan pihak paling depan yang selalu menghadapi teror. Berikut aksi teroris dilakukan dengan jaringan ISIS.

1 dari 3 halaman

Peledakan Pospol Kartasura

Seperti aksi teroris di Pos Pantau Polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin (4/6) malam. Pelaku berinisial RA (22) meledakkan diri di depan pos pengamanan mudik hari raya Idul Fitri dijaga tiga polisi. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun pelaku RA, mengalami luka berat.

Dua orang berinisial AA dan S ditangkap Densus 88 di sejumlah tempat diduga terlibat bom bunuh diri dilakukan RA. Penyelidikan Densus 88, tiga terduga teroris ini berbaiat langsung dengan pimpinan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Abu Bakar Al-Baghdadi.

"Kemudian kaitan dengan jaringan berdasarkan pengembangan dari pemeriksaan yang ada mereka ini sama-sama simpatisan dari ISIS dan berbaiat langsung kepada Abu Bakar Al-Baghdadi," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (10/6).

Asep mengatakan, AA dan S membaiatkan diri melalui media sosial. Peran dari kedua tersangka ini yakni AA berperan untuk mengetahui tentang rencana aksi yang akan dilakukan oleh RA.

"Dia berbaiat ini tidak secara langsung, melalui media sosial jadi dengan metode atau dengan sarana itu mereka menganggap itu sudah bagian daripada mereka berbaiat," kata Asep.

2 dari 3 halaman

Penusukan Wiranto

Mantan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkum HAM), Wiranto ditusuk saat kunjungan di Pandeglang, Banten, Kamis (11/10). Insiden penusukan terjadi saat Wiranto hendak pulang usai menghadiri acara di Universitas Mathla'ul Anwar (Unma) untuk memberikan kuliah umum di hadapan para mahasiswa dan peresmian gedung perkuliahan.

Wiranto harus menjalani operasi akibat tikaman tersebut. Kondisi mantan ketum Hanura itu saat ini telah membaik setelah menjalani perawatan.

Pelaku penusukan sendiri yakni Syahril Alamsyah alias SA alias Abu Rara (31), langsung diringkus aparat usai melancarkan aksinya. Istrinya berinisial FA (21), turut diamankan yang saat itu berada di lokasi kejadian.

Mereka diduga terpengaruh paham radikalisme ISIS. Dugaan itu hasil pemeriksaan dilakukan penyidik Polres Pandeglang, Polda Banten dan Densus 88.

Kepala BIN Budi Gunawan mengaku sudah lama memantau pelaku penusukan Menko Polhukam Wiranto. Dia menyebutkan Abu Rara kerap berpindah-pindah tempat tinggal.

"Dari dua pelaku ini, kita sudah bisa mengindentifikasi bahwa pelaku adalah dari kelompok JAD Bekasi. Kita tahu bahwa saudara Abu Rara ini, dulu adalah dari sel JAD Kediri, kemudian pindah. Sudah kita deteksi pindah ke Bogor, kemudian karena cerai dengan istri pertama pindah ke Menes," kata Budi di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (10/10).

Budi Gunawan menyebut nama Abu Syamsuddin sebagai pihak yang memfasilitasi Abu Rara untuk pindah ke sana Banten. Budi Gunawan mengatakan jaringan Menes telah masuk daftar operasi BIN.

"Difasilitasi oleh salah satu (jaringan) Abu Syamsuddin, JAD dari Menes untuk tinggal di sana," ungkap Budi.

Puluhan terduga teroris ditangkap usai penikaman dialami Wiranto. Total terduga teroris ditangkap 36 termasuk dua Polwan. Salah satu Polwan itu adalah Bripda Nesti Ode Samili (NOS). Dia dipecat dari institusinya karena terbukti menjadi simpatisan kelompok teroris ISIS.

3 dari 3 halaman

Bomber Mapolretabes Medan

Ledakan bom bunuh diri terjadi di Polrestabes Medan, Rabu (13/11). Ledakan terjadi sekitar pukul 08.45 WIB. Insiden itu menyebabkan pelaku Rabbial Muslim Nasution alias Dedek (24), tewas dan enam orang luka-luka.

Polisi menyebut pelaku terpapar radikal dari istrinya, DA. Hasil penyelidikan polisi DA kerap berkomunikasi dengan salah satu narapidana teroris yang sedang menjalani hukuman di Lapas Klas 2 Medan. Komunikasi terakhir di media sosial terjadi pada semalam. Selain itu, DA juga sering bertemu secara langsung dengan Napiter I di Lapas tersebut.

Tim Densus 88 Antiteror Polri juga menangkap 74 terduga teroris usai peristiwa penyerangan bom bunuh diri di Polrestabes Medan, Sumatera Utara. Tiga di antaranya tewas.

"Sudah kami tangkap 74 orang. Meninggal dunia tiga orang," tutur Kapolri Jenderal Idham Azis saat rapat bersama Komisi III DPR di Gedung DPR MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/11).

Idham menyebut, penangkapan puluhan terduga teroris itu juga menjadi langkah antisipasi pengamanan Hari Raya Natal 2019 dan Tahun Baru 2020.

"Berdasarkan hasil penyelidikan, para pelaku tergabung dalam kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi pada ISIS," jelas Idham.

Para terduga teroris itu ditangkap di berbagai wilayah. Secara rinci 30 orang diringkus di Sumatera Utara, 11 orang di Jawa Barat, 11 orang di Jawa Tengah, lima orang di Pekanbaru, lima orang di Banten, empat orang di Kalimantan Timur, tiga orang di Jakarta, dua orang di Aceh, satu orang di Jawa Timur, dan dua orang di Sulawesi Selatan. [gil]

Baca juga:
Dunia Soroti Kamp Penahanan Muslim Xinjiang di China
Akhir Riwayat Sang Khalifah ISIS
Tahun 2019 dan Kapolri Berganti, Kasus Novel Baswedan Masih Mandek
Deretan Fitur Canggih WhatsApp yang Dirilis di 2019
Terhimpit Masalah Berat, Ekonomi Indonesia 2019 Mampu Bertahan Tumbuh Positif
Kebijakan-kebijakan Kontroversi Pemerintahan Jokowi di 2019

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini