Jejak bomber Dita, ahli IT yang jadi penyandang dana aksi teror

Rabu, 16 Mei 2018 12:45 Reporter : Bruriy Susanto
Dita dan keluarga. ©2018 Liputan6.com

Merdeka.com - Sejak Minggu (13/5) hingga Rabu (15/3), tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri, terus memburu sel jaringan teroris dari kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) maupun Jamaah Ansharut Daullah (JAD), terkait bom bunuh diri di sejumlah tempat di Kota Surabaya.

Di Surabaya, ledakan bom bunuh diri terjadi di tiga titik, gereja yakni Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Jalan Ngagel Jaya, lalu GKI Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Jalan Arjuno.

Bom bunuh diri tersebut dilakukan satu keluarga, yakni Dita Oepriarto (DT) di Gereja Pantekosta, istrinya yang membonceng kedua perempuan meledakan bom di GKI Diponegoro. Kemudian kedua anak laki-lakinya meledakan bom di SMTB.

Lalu siapa DT ini? Dalam penelusuran informasi didapat, dia ini mempunyai peran yang sangat kompleks di dalam sel jaringan JAT/JAD. Polisi berhasil mengidentifikasi DT, setelah melakukan olah TKP bersama tim Labfor Mabes Polri cabang Polda Jatim dan Inafis.

DT diketahui ahli IT (Informasi Teknologi), penyuplai pendanaan untuk operasional kelompok JAT/JAD. "Dia ini orang kepercayaan dari pimpinan," kata sumber merdeka.com yang enggan disebutkan namanya.

Kepercayaan itu, karena DT mempunyai afiliasi kedekatan dengan salah seorang jihadis senior dari kelompok Jamaah Islamiyah (JI). Mandat kepercayaan tersebut setelah DT ini berangkat ke Suriah. Namun terkendala dan harus dideportasi. Hal itu terjadi di tahun 2016.

"Sebenarnya dia ini sudah masuk bergabung pada tahun 2014. Tapi, tidak langsung ikut jihad, bergabung berangkat ke Syria. Baru di tahun 2016 inilah berangkat, tapi dideportasi," tutur dia.

Begitu DT dideportasi, kembali ke Indonesia, langsung mendapatkan mandat kepercayaan. Dia langsung diminta oleh sosok imam atau pimpinan JAT/JAD wilayah Jawa Timur supaya membantu rekan-rekannya dengan memberikan, penyuplaian pendanaan untuk operasional kegiatan ataupun untuk aksi teror.

Dia dikabarkan sempat bergabung melakukan teror di Jakarta namun batal. DT diketahui juga pernah berkomunikasi dengan bomber Mapolrestabes Surabaya Tri Murtiono serta Anton, terduga teroris yang tewas saat merakit bom di Rusunawa Wonocolo, Sepanjang, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo.

Dari instens komunikasi inilah, mereka juga selalu bersama-sama membesuk saudaranya (pelaku) yang ditangkap tim Densus 88 di penjara. Dari sana, relasi ketiganya dengan para pimpinan kelompok radikal meluas.

Di antara lembaga pemasyarakatan (Lapas) yang pernah dikunjungi adalah Klas I Surabaya di wilayah Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo, Lapas Tulungagung, Rutan Mako Brimob, Depok Jabar.

Dari situlah, mereka intens melakukan komunikasi, hingga akhirnya DT mendapatkan kepercayaan supaya membantu pemimpin kelompok radikal lainnya.

Berbagai ilmu pengetahuan. Terlebih lagi sudah mempunyai keahlian dalam IT, yang kemudian dimanfaatkan digunakan mencari informasi bagaimana cara merakit bom. Dengan melihat tutorial di media sosial maupun melalui media lainnya.

Paham cara merakit bom, DT itupun mengajarkan keahlian ke kelompok radikal. Selanjutnya, bagaimana cara bom itu dibawa, disimpan hingga diledakan untuk melakukan bunuh diri, yang menjadi titik sasarannya.

Seperti halnya dilakukan pada istrinya yang meledakan bom bunuh diri di GKI Diponegoro, dan anaknya di SMTB Jalan Ngagel Jaya. Termasuk bom bunuh diri dilakukan Tri Murtiono di Mapolrestabes Surabaya.

Sumber merdeka.com menuturkan, sebelum kejadian kemarin, TM diketahui pernah berupaya mengebom Mapolrestabes Surabaya namun batal lantaran ada masalah teknis.

"Malamnya itu sudah dicoba, tapi tidak bisa meledak. Baru keesokan harinya melakukan peledakan bom bunuh diri itu berhasil," ucap sumber merdeka.com.

Namun yang masih menjadi tanda tanya adalah mengapa di Kota Surabaya. Sumber merdeka.com yang dimintai pendapat juga enggan menyebutkan alasan pastinya. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini