Jangan Represif, Perlu Cara Lain Sadarkan Masyarakat Tetap di Rumah Saat Wabah Corona

Kamis, 26 Maret 2020 18:16 Reporter : Didi Syafirdi
Jangan Represif, Perlu Cara Lain Sadarkan Masyarakat Tetap di Rumah Saat Wabah Corona Virus Corona. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Wabah virus corona (covid-19) telah menjadi bencana kemanusiaan yang menelan banyak korban. Pemerintah telah menerapkan kebijakan jaga jarak yang ternyata tidak berjalan mulus.

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati mengatakan, perlu kerjasama dari para tokoh masyarakat (aparat negara, tokoh agama, politisi, profesional, hingga para pengajar di berbagai jenjang pendidikan) untuk meyakinkan masyarakat tentang pentingnya melakukan physical distancing sehingga masyarakat dapat terhindar dari serangan virus Corona.

"Mengingat, pandemi Covid telah membuat banyak jatuh korban jiwa, untuk itu para tokoh masyarakat seyogyanya dapat menjadi kiblat bagi penyampaian informasi yang positif, konstruktif dan empiris berdasarkan data-data yang benar," ujar Devie dalam keterangannya, Kamis (26/3).

Devie melihat jaga jarak yang didengungkan untuk memastikan penyebaran virus corona terhenti, tidak sepenuhnya berhasil. Dan hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia.

"Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa misalnya, juga merasakan kesulitan yang besar untuk mengendalikan masyarakatnya untuk tidak melakukan aktivitas sosial bersama-sama di ruang publik," tuturnya.

Oleh sebab itu, mantan Kepala Program Studi Vokasi Komunikasi dan Humas UI ini menyampaikan bahwa memang dibutuhkan pendekatan struktural. Karena imbauan tidak akan cukup untuk mendorong publik mengubah perilaku sosialnya.

"Artinya memang harus ada upaya serius dari pemerintah untuk 'memaksa' warga ada di dalam rumah. Untuk kalangan menengah ke bawah jelas harus ada insentif ekonomi," ujarnya.

"Pendekatan persuasif dengan menyatakan bahwa bila seseorang tetap berada di rumah lalu mendapatkan tunjangan harian misalnya, saya optimis dapat membuat masyarakat patuh. Sebaliknya pendekatan represif dengan hukuman, belum tentu efektif juga dilakukan di Indonesia," tambahnya.

Dalam konteks Indonesia, dia melihat, ada tiga faktor yang menyebabkan kampanye ini tidak sepenuhnya diikuti oleh masyarakat, yaitu faktor sosial, kultural dan spiritual. "Secara sosial, masyarakat Indonesia memang masyarakat komunal, kepentingan sosial berada di atas kepentingan individual. Ini yang membuat, secara fisik pun, kedekatan sosial menjadi ruh bagi masyarakat kita," ungkapnya.

Oleh karenanya istilah 'jaga jarak' akan membuat masyarakat kita berpeluang menjadi terasing karena ini berarti melukai hakikat masyarakat timur yang sangat komunal. Ketika merasa terasing dapat menimbulkan frustasi. Hal ini tentu saja, yang mendorong masyarakat kemudian mengabaikan anjuran untuk jaga jarak.

"Saya melihat physical distancing menjadi lebih relevan. Karena hanya fisiknya yang berjarak, namun komunikasi sosial dapat terus dilangsungkan melalui berbagai saluran," seru Devie yang juga seorang peneliti isu-isu sosial dan digital.

Aspek kedua yaitu kultural, di mana masyarakat Indonesia masuk dalam kategori budaya short term society, yaitu masyarakat jangka pendek, di mana masyarakat kita tidak terbiasa melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi masa depan.

"Berbeda dengan masyarakat Barat yang sangat sistematis, dan terbiasa melakukan perencanaan tentang berbagai hal. Masyarakat kita terbiasa dengan hidup di masa sekarang, yang termanifestasi misalnya dari berbagai ungkapan seperti: 'yah gimana nanti aja'," tambah Devie.

Faktor ketiga yaitu spiritual yang kuat membuat masyarakat kita memiliki keyakinan bahwa segala sesuatunya sudah diatur oleh kekuatan lain. Sehingga masyarakat kita cenderung pasrah terhadap segala tantangan kehidupan.

Ketiga faktor tadi, lanjutnya, kemudian berkaitan dengan faktor ekonomi. Karena bagi masyarakat kalangan bawah, sulit bagi mereka untuk berdiam diri, mengingat mereka menggantungkan nasib pada pendapatan harian. Bila sehari saja mereka tidak melakukan aktivitas, otomatis mereka tidak dapat hidup hari ini.

"Beda lagi dengan kalangan menengah ke atas, yang karena kepemilikan harta yang cukup, mereka merasa yakin bahwa mereka dapat mempersenjatai dirinya dengan berbagai suplemen terbaik," tandasnya. [did]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini