Jalur Pendakian Gunung Dempo Segera Dibuka Kembali, Brigade Matangkan Persiapan
Balai Registrasi Gunung Merapi Dempo (Brigade) mematangkan rencana pembukaan kembali jalur pendakian Gunung Dempo di Sumatera Selatan, menargetkan realisasi sebelum akhir Mei 2026, didukung penurunan aktivitas vulkanik.
Balai Registrasi Gunung Merapi Dempo (Brigade) tengah mempersiapkan pembukaan kembali jalur pendakian Gunung Dempo, Sumatera Selatan. Rencana ini ditargetkan dapat terealisasi sebelum akhir Mei 2026, setelah melalui serangkaian koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait. Langkah ini diharapkan dapat kembali menggairahkan sektor pariwisata di wilayah tersebut.
Keputusan untuk membuka kembali jalur pendakian Gunung Dempo didasari oleh laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang menunjukkan adanya penurunan aktivitas erupsi. Laporan tersebut mencakup periode 1 April hingga 15 Mei 2026, memberikan sinyal positif bagi keselamatan para pendaki. Dukungan penuh juga telah diberikan oleh Pemerintah Kota Pagar Alam.
Pembukaan jalur ini tidak hanya bertujuan untuk mengakomodasi minat para pendaki, tetapi juga diproyeksikan untuk menarik wisatawan menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Kota Pagar Alam pada Juni 2026 serta peringatan HUT RI dalam tiga bulan ke depan. Selain itu, langkah ini diharapkan dapat mengatasi masalah pendaki ilegal dan penumpukan sampah yang sempat terjadi sebelumnya.
Koordinasi Intensif untuk Keamanan Pendaki
Rencana pembukaan kembali jalur pendakian Gunung Dempo telah melalui proses koordinasi yang matang antara Brigade dan berbagai pemangku kepentingan. Sekretaris Brigade, Desta Ndruru, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah melakukan audiensi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Pagar Alam, DPRD, serta Kepolisian Resor (Polres) Pagar Alam.
Wakil Wali Kota Pagar Alam, Bertha, memberikan dukungan penuh dalam pertemuan yang berlangsung pada Jumat (22/5). Pemkot Pagar Alam bahkan langsung berkoordinasi dengan UPT KPH Wilayah X Dempo Sumatra Selatan untuk membahas teknis pembukaan jalur ini. Dukungan ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah terhadap pengembangan pariwisata yang aman.
Sebelumnya, Brigade juga menggelar audiensi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pagar Alam pada Senin (18/5), yang diterima langsung oleh Wakil Ketua DPRD Kota Pagar Alam, Syahrol Effendy. Pihak legislatif sangat mendukung pembukaan resmi ini, mengingat penutupan jalur pada 7 April 2026 lalu menyebabkan banyak pendaki nekat menerobos secara ilegal. Dampaknya, terjadi penumpukan sampah yang dibuang sembarangan di sepanjang jalur akibat minimnya pengawasan.
Penurunan Aktivitas Vulkanik dan Potensi Wisata
Penurunan aktivitas vulkanik Gunung Dempo menjadi dasar utama usulan pembukaan jalur pendakian. Laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan tren positif sepanjang periode 1 April hingga 15 Mei 2026. Hal ini memberikan keyakinan bahwa kondisi gunung sudah cukup aman untuk dikunjungi.
Gunung Dempo merupakan destinasi wisata unggulan yang memiliki daya tarik besar, terutama bagi para pendaki dan pecinta alam. Pembukaan kembali jalur ini diharapkan dapat mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan, khususnya menjelang perayaan HUT ke-25 Kota Pagar Alam pada Juni 2026 dan peringatan HUT RI. Momen-momen tersebut seringkali menjadi pemicu peningkatan aktivitas pariwisata.
Kebijakan ini juga sejalan dengan pernyataan Gubernur Sumsel Herman Deru sebelumnya yang menyatakan bahwa seluruh destinasi wisata di Gunung Dempo sudah mulai dibuka kembali. Ini menandakan adanya keselarasan visi antara pemerintah daerah dan provinsi dalam mengembangkan potensi pariwisata di kawasan tersebut.
Peran Aparat dan Mitigasi Risiko
Selain dukungan dari eksekutif dan legislatif, Brigade juga mengantongi dukungan dari aparat penegak hukum. Pertemuan dengan Kapolres Pagar Alam yang diwakili oleh Kabag OPS Polres Pagar Alam, AKP Ramsi, menegaskan pentingnya aspek keamanan.
Dalam pertemuan tersebut, pihak kepolisian mengingatkan Brigade agar tetap menjaga koordinasi yang ketat dengan PVMBG dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) sebelum meresmikan pembukaan jalur. Koordinasi berkelanjutan ini krusial untuk memantau kondisi gunung secara real-time dan memastikan keselamatan para pendaki.
Langkah-langkah mitigasi risiko ini dinilai sangat penting guna meminimalisasi segala kemungkinan bahaya dan memastikan keamanan para pendaki selama berada di kawasan Gunung Dempo. Dengan pengawasan dan koordinasi yang baik, diharapkan pengalaman mendaki dapat berjalan lancar dan aman bagi semua pengunjung.
Sumber: AntaraNews