Jalan Hijrah Anak-Anak Punk Depok

Kamis, 16 Mei 2019 10:50 Reporter : Nur Fauziah
Jalan Hijrah Anak-Anak Punk Depok Anak punk di Depok belajar Alquran. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Keberadaan anak Punk di jalanan kerap menjadi momok bagi masyarakat. Mereka dianggap sebagai kelompok yang meresahkan dan terindikasi berkaitan dengan kejahatan jalanan. Dengan tampilan yang terlihat urakan dan lusuh, membuat anak Punk ini menjadi termarjinalkan. Mereka kerap terlihat di pinggir jalan mengamen ataupun tidur di emperan toko.

Melihat kondisi tersebut, Wirawan Yosh selaku pendiri Komunitas Seniman Terminal (Senter) Depok pun merasa terpanggil untuk mengajak anak Punk hijrah ke jalan yang benar. Di tangannya, ratusan anak Punk, pengamen dan anak jalanan diajak dan dibawa menuju jalan Tuhan.

Komunitas Senter mengajak anak Punk belajar mengaji dan mendalami ilmu agama. Diakui Wawan, begitu biasa disapa, memperkenalkan anak Punk menuju jalan Tuhan memang tidak mudah. Perlu strategi tersendiri agar anak-anak Punk itu mau datang berkumpul dan akhirnya belajar agama.

"Pertama saya pakai metode sebar beras. Jadi saya carter gerobak bakso dan saya panggil anak-anak itu. Terus mereka ngumpul di kelas dan saya panggil ustaz. Nah mulailah mereka dikenalkan dengan agama perlahan-lahan," katanya kepada merdeka.com baru-baru ini.

Kebiasaan hidup di jalanan dan ketika menimba ilmu agama memang berbeda jauh. Wawan mengingat betul bagaimana perilaku anak-anak tersebut ketika pertama kali diajak berkumpul untuk belajar agama dengan imbalan makan bakso.

"Yah namanya anak jalanan. Pas di kelas ada yang tiduran ada yang sambil ngelakuin apa aja. Tapi saya bilang ke ustaznya ini jihad kita dan Alhamdulillah dimengerti," ceritanya.

Singkat cerita, kelamaan anak-anak jalanan itu pun menjadi terbiasa berkumpul dan belajar agama. Sehingga tanpa imbalan makan bakso pun mereka sudah datang dengan sendirinya untuk mengaji. Kegiatan ini kata Wawan sudah dimulai sejak Komunitas Senter berdiri di tahun 2010. Hingga akhirnya kegiatan ini berkembang pesat.

"Namun di tahun 2014-2015 terjadi kendala. Sehingga saya meminta mereka untuk kembali sendiri-sendiri. Mereka ada yang ke jalanan lagi dan dengan kehidupan yang lalu. Di tahun 2018 kemarin ternyata mereka rindu untuk belajar agama lagi. Mereka meminta saya untuk kembali mengaktifkan pengajian. Dan dengan Bismillah kami jalan lagi sampai sekarang," tuturnya.

Aktivitas mengaji Komunitas Senter ini mulanya digelar pada Kamis malam di Masjid Sekolah Terminal (Master) Depok. Di sana mereka bersama-sama membaca Surat Yasin. Namun sekarang pengajian digelar pada Jumat malam.

"Jadi mereka sama-sama membaca Alquran dengan dibimbing oleh relawan kami. Alhamdulillah ada beberapa relawan yang dengan sukarela mau berbagi ilmu dengan teman-teman di sini," tukasnya.

Selain mengaji, Komunitas Senter ini juga memiliki segudang kegiatan keagamaan. Mulai dari buka bersama, berbagi takjil, santunan dan zakat. Wawan memiliki harapan agar jejak kecil yang dilakukannya bersama teman-temanya ini bisa bermanfaat bagi anak-anak yang hidup di jalanan. Kemudian dapat mengubah pandangan masyarakat bahwa anak Punk itu menyeramkan dan cenderung kriminal.

"Ini yang kami ingin ubah mengenai stigma negatif anak Punk. Kalau kita sudah bergaul dengan mereka kita bisa mendapatkan nilai positifnya, di mana solidaritas mereka sangat kental dan bisa bertahan hidup dengan kondisi apapun itu. Ini yang seharusnya kita ambil pelajaran dari mereka," paparnya.

Mengajarkan Alquran pada anak-anak tersebut kata Wawan memang bukan hal mudah. Sehingga harus dilakukan secara perlahan. Namun setidaknya anak-anak jalanan tersebut sudah memiliki niat dan kemauan untuk hijrah ke jalan yang lebih baik.

"Kami juga ada kerja sama dengan komunitas lain. Kami ada program hapus tato dengan syarat bayar dengan hapalan Surah Ar Rahman. Intinya kami ingin membawa mereka ke jalan lebih baik," katanya.

Edo, salah satu anak Punk yang ikut mengaji mengaku hidupnya kini lebih tenang dan nyaman. Dia seolah merasakan hal berbeda setelah 10 tahun tidak menyentuh dan membaca Kitab Suci. Edo adalah anak Punk asal Padang yang datang ke Depok 10 tahun lalu.

"Pertama kali baca Alquran lagi ada rasa sedih. Saya nyesal kenapa dulu saya tinggalkan Alquran," katanya.

Edo adalah mantan hafiz (penghapal Alquran). Dulu dia sudah menghafal empat juzz. Bahkan dulu dia sering mengajarkan keluarganya untuk membaca Alquran. Kini Edo hanya berharap jalan hijrah yang dipilihnya dapat membawa keberkahan dan ketenangan baginya dan keluarga kecilnya. "Saya sudah berkeluarga jadi saya berharap bisa lebih baik lagi," pungkasnya. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini