Jadi sarjana tapi jualan jamu, Satriyani kerap dicibir tetangga

Sabtu, 11 April 2015 10:35 Reporter : Kresna
Jadi sarjana tapi jualan jamu, Satriyani kerap dicibir tetangga Satriyani. ©2015 Merdeka.com/Kresna

Merdeka.com - Tidak mudah rupanya menyandang gelar sarjana lalu bekerja sebagai penjual jamu. Cibiran tetangga bertubi-tubi terasa menyayat telinga. Namun itu tidak digubris Sutriyani (23) sarjana pendidikan Fisika dengan IPK 3,49. Meski terkadang merasa sakit hati, namun hal itu dianggapnya angin lalu.

"Banyak yang bilang, sarjana kok cuma jualan jamu. Sakitnya tuh di sini," kata Tri, begitu sapaannya, lalu tertawa.

Semula tidak banyak tetangganya yang tahu jika dia adalah sarjana. Saat itu tidak banyak tetangganya yang berkomentar. Tapi begitu tahu bahwa Tri adalah sarjana, cibiran dari berbagai penjuru pun mulai membikin telinganya gatal.

"Ada yang bilang, kok bisa sarjana jadi bakul jamu. Saya tanya, anak njenengan kuliah? Semester berapa? Belum aja merasakan susahnya cari kerja," ujarnya.

Cibiran semacam itu bukan datang pertama kalinya. Saat dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas, sejumlah tetangganya pun juga banyak mencibirnya. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang berkekurangan, niat Tri untuk kuliah dianggap terlalu muluk-muluk.

"Saya mikir, lah orangtua saya saja tidak masalah, kenapa pada komentar. Ada yang bilang enggak tahu diri, hidup susah pakai kuliah lagi," ungkapnya.

Beruntung selama kuliah dia nyaris tidak membebani orangtua. Setiap semesternya dia selalu mendapat beasiswa hingga kuliahnya selesai.

"Cuma biaya masuk saja, itu pun dapat potongan, selebihnya dapat beasiswa, saya juga ngajar les anak-anak SMP dan SMA biar dapat uang tambahan," tandasnya. [tyo]

Topik berita Terkait:
  1. Kisah Inspiratif
  2. Yogyakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini