Jabar Klaim Punya Alat Baru Pendeteksi Virus, Lebih Akurat dan Murah

Kamis, 14 Mei 2020 16:38 Reporter : Aksara Bebey
Jabar Klaim Punya Alat Baru Pendeteksi Virus, Lebih Akurat dan Murah Pedagang Pasar Kebon Kembang Bogor Tes Swab. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Akademisi beserta ilmuwan dari berbagai universitas di Jawa Barat mengklaim berhasil membuat dua alat tes pendeteksi virus corona. Alat baru ini diklaim lebih murah, lebih akurat dan mudah digunakan. Dibandingkan Rapid Test maupun PCR yang selama ini digunakan.

Diketahui, selama ini pemerintah melakukan masif testing deteksi virus corona dengan rapid test untuk mencari orang yang berpotensi terinfeksi virus corona, SARS-CoV-2 dengan menggunakan sampel darah. Rapid test bekerja dengan mendeteksi immunoglobulin dengan hasil bisa keluar hanya dalam waktu 15-20 menit dan bisa dilakukan di mana saja.

Namun, kelemahannya bisa menghasilkan 'false negative' yakni ketika hasil tes tampak negatif meski sebenarnya positif jika pengetesan dilakukan kurang dari 7 hari setelah terinfeksi.

Lalu, ada PCR (Polymerase Chain Reaction) adalah metoda untuk menemukan partikel virus pada tubuh setiap individu dan menempatkan urutan gen Coronavirus tertentu. Liur dari hidung dan tenggorokan digunakan sebagai sampel. Pemeriksaan PCR membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan hasil karena hanya dapat dilakukan di laboratorium yang sudah ditunjuk pemerintah.

1 dari 2 halaman

Made in Jabar

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan ilmuwan dan akademisi dari universitas sudah berhasil memproduksi alat tes baru di luar PCR dan Rapid Test. alat tersebut bernama Rapid Test 2.0 dan pembaruan dari PCR.

"Jabar dengan ilmuwannya, Unpad sebagai leading sektor bekerjasama dengan ITB dan lain-lain. Hari ini bisa memproduksi dua jenis alat tes di luar pcr dan rapid test. Yang pertama rapid test 2.0. Kecepatannya sama, seperti rapid tes darah tapi akurasinya 80 persen, tidak menggunakan darah," kata dia, Kamis (14/5).

Alat ini akan diproduksi pada bulan Juni sebanyak 5.000 test kit dulu dengan industri biotek di jabar. Pembuatan tahap berikutnya sebanyak 50 ribu unit test kit di bulan Juli.

"Harganya lebih murah, maksimal Rp120.000, (Rapid Test) yang dulu Rp300.000," kata dia.

"Lalu, penelitian Unpad dan ITB menghasilkan alat tes baru seperti PCR tapi tidak perlu laboratorium (untuk pengujiannya), hanya butuh laptop dan benda seperti aki motor isinya delapan sampel, bisa dibawa mobil, bisa mengetes di pasar, tempat pariwisata di mana pun. Akurasinya sama seperti PCR, harganya Rp 200 juta," terangnya.

2 dari 2 halaman

Penjelasan Tim Ahli

Ketua Tim Riset Diagnostif COVID-19 Unpad Muhammad Yusuf menjelaskan alat ini lebih cepat mendeteksi virus karena tidak perlu menunggu pembentukan antibodi saat tubuh terinfeksi patogen. Proses pembentukan antibodi bisa memakan waktu berminggu-minggu.

Lain halnya dengan deteksi melalui antigen. Ketika seseorang mulai terinfeksi, muncul gejala, bisa langsung disampling dengan diambil swabnya. Hasilnya bisa dilihat dari garis merah dalam alat jika ada virusnya.

"(Pendeteksian) tidak harus menunggu antibodinya terbentuk,"katanya.

Cara kerjanya, sampel swab dari terperiksa tinggal dibubuhkan di permukaan alat rapid tes 2.0 ini. Hasilnya akan keluar dalam rentang waktu 10 – 15 menit. Pihaknya sudah bekerjasama dengan TMC dan Pakar Biomedika Indonesia untuk proses penyempurnaan alat tersebut.

Alat pendeteksi virus kedua hasil kerjasama Unpad, ITB dan BPPT bernama Surface Plasmon Resonance (SPR). Alat ini memiliki detektor portabel berukuran dan berbentuk seperti ACCU sepeda motor ini. Alat ini bisa memeriksa hingga 8 sampel sekaligus dengan cepat.

"Seperti detektor, jadi dia sebetulnya dalam alat SPR itu ada plat, dia nanti kita kasih senyawa yang bisa bereaksi terhadap COVID-19. Kalau di situ ada virus, ada ikatan si antibodi dengan virusnya akan mengubah sudut pembacaan, sehingga akan menunjukkan sinyal yang berbeda," imbuhnya.

Rapid tes 2.0 masih dalam tahap validasi. Rencananya dalam waktu dekat, alat-alat ini akan diujikan ke real sample sesuai dengan etika medis yang berlaku. Ia berharap, bulan Juni bisa memvalidasi sampel.

"Semua metode perlu validasi, untuk validasi kita lakukan 5.000 – 10.000 produksi untuk kepentingan validasi, bila alat ini ingin tambah produksinya, tentunya perlu peningkatan validasinya," tutupnya. [noe]

Baca juga:
Layanan Swab Test Drive Thru untuk Deteksi Covid-19
Pemprov DKI Lakukan Tes PCR 2.886 Orang, 55 Dinyatakan Positif Covid-19
Dua Pedagang Pasar Jadi OTG, Ini 5 Skema Baru Penanganan Covid-19 di Bekasi
Pemkot Surabaya Dapat Bantuan 1.000 VTM Swab
Gugus Tugas: Tren Kasus Positif Covid-19 Meningkat Karena Test Semakin Masif

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini