Isu panas Ruhut soal demo sopir taksi dibayar Rp 100 ribu

Kamis, 24 Maret 2016 09:02 Reporter : Angga Yudha Pratomo
Isu panas Ruhut soal demo sopir taksi dibayar Rp 100 ribu Demo sopir taksi. ©2016 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Demo anarkis ribuan sopir taksi menuntut penghapusan transportasi berbasis aplikasi membuat suasana DKI Jakarta mencekam pada Selasa (22/3). Mereka bahkan saling serang hingga menghancurkan kendaraan dengan pengemudi ojek online. Ada dugaan demo itu menjadi anarkis lantaran dibayar hingga Rp 100 ribu per orang.

Isu demo bayaran itu dilontarkan Politikus Demokrat Ruhut Sitompul. Menurut dia, setiap perusahaan taksi membayar para sopir untuk lakukan demo menuntut pelarangan transportasi berbasis aplikasi.

Ruhut mengaku tahu informasi bayaran itu dari sopir taksi yang ditumpanginya saat perjalanan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bahkan, informasi itu dia peroleh 10 hari sebelum terjadi demo sopir taksi ini. Dalam penuturan sopir taksi ditumpanginya, para pendemo bahkan diancam bakal dipecat bila tidak mengikuti perintah perusahaannya.

"Mereka dipaksa ikut demo. Kalau enggak ikut diancam diberhentikan," kata Ruhut kepada merdeka.com, Rabu (23/3) kemarin.

Ucapan anggota komisi III DPR itu membuat publik makin gemas kepada para sopir taksi. Kepolisian Polda Metro Jaya mengetahui informasi itu, kini mengaku tengah melakukan penyelidikan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Muhammad Iqbal menegaskan, bila terbukti benar bahwa perusahaan membayar Rp 100 ribu per sopir untuk melakukan demo, maka mereka melanggar hukum.

"Kalau misalnya kita lidik, terbukti bahwa dia melawan hukum, pasti kita akan panggil. Kita akan selidiki dulu," kata Iqbal, kemarin.

Polisi, kata dia, juga tidak segan mempidanakan para perusahaan sopir taksi. Ini guna memberikan efek jera kepada mereka. Apalagi demo sopir taksi sudah membuat masyarakat terganggu.

"Kalau terbukti melawan hukum pasti akan diproses pidana," cetus dia.

Salah satu perusahaan taksi, PT Blue Bird, membantah telah membayar para sopirnya untuk melakukan demo. Mereka berdalih demo sopir taksi itu di luar kewenangannya.

PT Blue Bird mengaku, sebelum demo terjadi pihaknya telah mengeluarkan surat imbauan kepada pengemudi untuk tidak melakukan aksi. Meski begitu, surat itu tidak ampuh melarang para sopir untuk turun demo.

"Kalau dari Blue Bird Group kami bisa meyakinkan bahwa kami tidak memberikan pembayaran terhadap pedemo. Sama sekali tidak," tegas Komisaris PT Blue Bird, Noni Sri Aryati Purnomo.

Meski membantah membayar sopir taksi untuk berdemo, PT Blue Bird justru memberikan promo. Mereka memberikan fasilitas naik taksi gratis seharian ke mana pun di area Jabodetabek. [rnd]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini