Ini tanggapan Kepala SMPN 3 soal guru yang cabuli muridnya

Jumat, 18 Maret 2016 15:01 Reporter : Anisyah Al Faqir
Ini tanggapan Kepala SMPN 3 soal guru yang cabuli muridnya ilustrasi pencabulan. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Kepala SMPN 3 Manggarai Utara, Jakarta Selatan, Subarno angkat bicara terkait peristiwa asusila yang menimpa muridnya berinisial NS (14). Ia mengaku kaget saat mendengar hal itu, terlebih dilakukan oleh seorang oknum guru di sekolahnya.

"Saya tahunya tanggal 7 Maret 2016 kemarin, orang tuanya memberikan selembar kertas isinya tanda bukti penerimaan laporan itu atas dugaan pencabulan. Saya kaget ada laporan itu, waduh kok sudah ke polisi saja," cerita Subarno di SMPN 3, Jakarta Selatan, Jumat (18/3).

Mengetahui hal tersebut, Subarno langsung melakukan pemanggilan terhadap guru yang disangkakan tersebut. Namun, guru tersebut menyangkal telah melakukan pelecehan seksual terhadap NS.

"Kalau dari awal tak ada pelaporan ini dulu, mungkin akan saya panggil semuanya untuk klarifikasi. Maunya saya selesai di tingkat institusi, tapi sekarang sudah menjadi ranah kepolisian," keluh dia.

Subarno tidak membantah ER memang seorang guru bahasa inggris di sekolah yang baru dipimpinnya setahun terakhir itu. Namun, Subarno mengatakan kejadian pelecehan seksual di sekolahnya baru terjadi sekali.

"Ini laporan baru pertama. Sebelumnya tak ada laporan tentangnya (ER)," tandasnya.

Diketahui sebelumnya, seorang siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Manggarai, Jakarta Selatan, berinisial NS (14) diduga mengalami tindakan pelecehan seksual oleh seorang oknum guru bahasa inggris berinisial ER pada Kamis, 3 Maret 2016.

Karena tak tahan dengan perlakuan sang guru, NS melaporkan EW ke Polres Jakarta Selatan didampingi ayahnya, Sansi dan pengacara mereka Agung Mattauch.

"Kalau pengakuan kepada saya pada tanggal 3 Maret kemarin. Di mana putri saya ke sekolah karena datang telat, hukuman wajar sudah dijalani tapi ada hukuman lain oleh si predator kepada anak saya dan anak saya lari ke Polres Jakarta Timur," kata Sansi kepada wartawan di Polres Jakarta Selatan, Kamis (17/3).

Karena bukan wilayah hukum Polres Jakarta Timur, Sansi melaporkan hal ini ke Polres Jaksel. Perlakuan EW pun terungkap di depan polisi. Mawar mengaku sudah mendapat pelecehan sejak Juli 2015.

"Kalau pengakuan sebelumnya anak saya mau dilihat badan bagusnya dan disuruh buka jilababnya lalu anak saya kabur ke Polres Jakarta Timur. Dari Polres Jaktim ke Polres Jaksel karena wilayah Jaksel. Baru terungkap kalau anak saya mengalami pencabulan pada bulan Juli atau perbuatan pelecehan. Sentuhan, rabaan sampai perkataan berbuat seks," terang dia.

Mawar mengaku selama itu dia mendapat ancaman dari EW sehingga dia menutupi itu dari keluarga dan teman-temannya.

"Ada ancaman-ancaman. Ada omongan di ruang staf guru tidak ada CCTV kita bebas mau apa aja. Terus ada ucapan tidak akan naik kelas dan dapat nilai bagus," pungkas dia. [rhm]

Topik berita Terkait:
  1. Jakarta
  2. Guru Cabul SMPN 3 Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini