Ini bahasa komunikasi dan tempat tongkrongan Gay di Jakarta

Kamis, 19 November 2015 18:58 Reporter : Nur Fauziah
Ini bahasa komunikasi dan tempat tongkrongan Gay di Jakarta Ilustrasi Gay. ©shutterstock.com/Viorel Sima

Merdeka.com - Kehidupan kaum lelaki suka lelaki (LSL) secara umum tak jauh berbeda dengan pasangan lain. Mereka melebur dan berkomunikasi seperti biasa. Hanya saja memang ada beberapa tingkah mereka yang berbeda. Misalnya dari cara bicara. Mereka biasa menggunakan bahasa sendiri. Semisal saja untuk mengatakan bahwa mereka lapar, kosakata yang dipakai adalah 'Minahasa'. Dan untuk kata haus, istilah yang digunakan adalah 'Australia'.

DF, yang biasa bergaul dengan LSL menuturkan, umumnya para LSL memang berbeda dengan waria secara fisik. LSL tidak suka memakai pakaian yang berbau kewanitaan. Justru mereka cenderung memakai pakaian seperti pria umumnya.

"Kaos ketat iya. Tapi ada juga yang nggak pakai kaos ketat," katanya, Kamis (19/11).

Komunitas LSL tertutup secara umum. Namun kalau di sosial media mereka sudah terhitung vulgar. DF menuturkan, kaum LSL banyak beredar di kawasan Jakarta (Atrium Senen, Tebet). Selain di pusat perbelanjaan, mereka juga biasa berkumpul di pusat kebugaran. "Hampir seluruh gym ada," tutur pria yang berkulit putih ini.

DF berprofesi sebagai penari freelance. Dia sering menemui para LSL di dunia yang digelutinya. Dirinya bahkan pernah menjadi korban LSL. Dia pernah diintai dan diikuti LSL di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

"Diintip di toilet. Pas lagi buang air kecil tau-tau dia ngeliatin saya," ceritanya.

Dalam dunia LSL juga ada usaha yang dilakukan. Biasanya mereka berbisnis untuk menghidupi dirinya masing-masing.

"Banyaknya sih buka pijat. Ada yang pijat plus-plus," katanya. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Gay
  3. Depok
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini