Ini 7 Penyelam Kopaska yang Temukan FDR Black Box Sriwijaya Air

Rabu, 13 Januari 2021 14:38 Reporter : Nur Habibie
Ini 7 Penyelam Kopaska yang Temukan FDR Black Box Sriwijaya Air Black Box Sriwijaya Air. ©2021 Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Tim SAR Gabungan telah menemukan Flight Data Recorder (FDR) milik pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang diperkirakan jatuh di sekitar perairan pulau Laki dan pulau Lancang Kepulauan Seribu, sekitar pukul 14.39 Wib, Sabtu (9/1). FDR itu ditemukan pada Selasa (12/1) kemarin.

Panglima Koarmada I TNI AL Laksamana Muda TNI Abdul Rasyid mengatakan, FDR tersebut ditemukan oleh tujuh orang penyelam yang tergabung dalam tim dari Dislambair Kopaska TNI AL.

"FDR ditemukan Dislamb Kopaska TNI AL, dimana yang menemukan saat itu tim yang turun ada tujuh orang dan yang sentuh yang menemukan barang itu adalah KLK Rohman. Tujuh penyelam itu KLK Rohman, Kopda Ulul, Kopda Miftah, Kopda Dedi, KLK Hamzah, KLK Rohadi dan Kopda Agus," kata Rasyid kepada wartawan, Rabu (13/1).

Untuk meyakinkan temuan tersebut, mereka pun langsung mengkonfirmasi ke pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

"Tim penyelam TNI AL menemukan serpihan FDR, waktu itu kita belum yakin, nah untuk meyakinkan itu kita konfirmasi ke KNKT dan informasi dari beliau, beliau menyatakan bahwa itu adalah betul serpihan FDR, black box," jelasnya.

Penemu Acoustic Beacon

Tak hanya menemukan FDR, para penyelam juga menemukan Acoustic Beacon. Namun, yang menemukan barang tersebut bukanlah tujuh orang penemu FDR melainkan penyelam lainnya.

"Sedangkan penemu Acoustic Beacon yaitu Kapten Eko itu yang menyentuh langsung pada penyelaman itu, dimana pada tim itu terdiri Kopda Arifudin, kemudian di tim itu ada dua orang yang turun langsung. Kemudian penemu black box FDR itu pada pukul 14.50 Wib adalah Kelasi Satu Wdi," ungkapnya.

"Dimana tim yang turun saat itu empat orang, yang tertua adalah Mayor Irwan, KLK Farid, KLK Prananda," sambungnya.

Selanjutnya, apa yang para penyelam temukan tersebut langsung dilaporkan kepada Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Yudo Margono yang dilanjutkan kepada Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

"Itu sekilas kronologis terkait penemuan yang sudah disampaikan. Bahwa prosedur yang saya lakukan saat itu apa yang saya temukan saya laporkan kepada Kasal, Kasal sampaikan ke Panglima TNI, Panglima sampaikan ke Kabasarnas. Itu rantai komando yang kita lakukan," tutupnya.

Kotak Hitam pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Ditemukan

Penyelam TNI AL berhasil menemukan kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ-182. Kotak hitam ditemukan sekitar pukul 16.40 Wib.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menuturkan, dari dua bagian dalam black box, yang sudah ditemukan adalah Flight Data Recorder (FDR). Sementara cockpit voice recorder (CVR) belum ditemukan.

"Cockpit Voice Recorder perlu dicari," ungkap Panglima TNI di JICT Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (12/1).

Namun, pencarian CVR harus dilakukan tanpa petunjuk dari underwater locator beacon atau sinyal pandu untuk menemukan black box. Sebab, kedua underwater locator beacon sudah ditemukan bersamaan dengan FDR.

"Underwater locator beacon ditemukan sebanyak dua. Artinya satu lagi cockpit voice recorder perlu dicari tanpa bantuan underwater. Namun kami yakin bahwa cockpit voice recorder akan segera ditemukan," katanya.

Untuk diketahui, Kotak hitam dimasukkan ke dalam boks yang berisi air berwarna cokelat. Selanjutnya, dibawa menggunakan Sea Rider oleh beberapa penyelam di antaranya Kopaska dan Dislambair.

Kotak hitam itu dibawa oleh Dansatgasla Operasi SAR Sriwijaya Air Laksamana Pertama Yayan Sofyan dan Direktur Operasional Puskopaska Kolonel Laut (P) Johan Wahyudi.

Kotak hitam (black box) adalah sekumpulan perangkat yang digunakan pada transportasi, merujuk kepada perekam data penerbangan (flight data recorder; FDR) dan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder; CVR) dalam pesawat terbang.

Fungsi dari kotak hitam untuk merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) serta untuk mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan.

Kotak hitam terdiri dari alat perekam suara di ruang kemudi pilot (Cockpit Voice Recorder) dan alat rekam data penerbangan (Flight Data Recorder).

Pesawat Sriwijaya Air bernomor register PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada Sabtu (9/1) pukul 14.40 Wib dan jatuh di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak pada posisi 11 nautical mile di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pukul 14.36 Wib. Jadwal tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya 13.35 Wib. Penundaan keberangkatan karena faktor cuaca.

Berdasarkan data manifest, pesawat yang diproduksi tahun 1994 itu membawa 62 orang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru. Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, tiga bayi. Sedangkan 12 kru terdiri atas, enam kru aktif dan enam kru ekstra.

Keberadaan pesawat itu tengah dalam investigasi dan pencarian oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Koordinasi langsung dilakukan dengan berbagai pihak, baik Kepolisian, TNI maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. [rhm]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini