Imunisasi Rendah, Ancaman 'Gunung Es' di Serambi Mekkah

Kamis, 26 Desember 2019 08:31 Reporter : Afif
Imunisasi Rendah, Ancaman 'Gunung Es' di Serambi Mekkah imunisasi difteri. ©2017 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Yanti (38), duduk di samping SN, bayi berusia dua tahun yang tengah terbaring lemas di ranjang dengan infus tertancap di tangan mungilnya. Sudah dua malam bayi itu dirawat di ruang Cut Nyak Dhien 7 Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), Banda Aceh.

Anak perempuan semata wayangnya itu dilarikan ke rumah sakit karena demam tinggi. Kata dokter dia mengalami dehidrasi dan infeksi.

"Siang ini sudah bisa pulang bang," kata Yanti, mengawali perbincangan dengan merdeka.com saat berkunjung ke RSIA, Banda Aceh, Rabu (18/12).

Yanti merupakan salah seorang perempuan yang terinfeksi rubella sebelum hamil. Dokter menjelaskan, virus rubella sudah menjadi imun dalam tubuhnya.

Yanti mengaku awam dengan virus rubella sebelum menikah. Tak ada pemahaman sama sekali dengan virus tersebut. Apa lagi saat itu tidak ada gejala apapun dengan kesehatannya.

Sebelum menikah, ia diminta melengkapi vaksin tetanus, atau dikenal dengan nama toksoid tetanus karena itu menjadi prasyarat mengurus surat pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) di Banda Aceh.

Yanti tidak sedikit pun menduga. Ternyata dalam tubuhnya terdapat virus rubella, atau juga dikenal dengan Campak Jerman. Ia baru mengetahui setelah mengalami keguguran dua kali.

Semua pasangan suami istri (pasutri) yang sudah menikah tentunya berkeinginan memiliki si jabang bayi. Namun ia nyaris putus asa. Setelah positif hamil, kandungannya keguguran. Ia bahkan sampai dua kali kehilangan janin.

Awalnya Yanti tidak menaruh curiga keguguran kandungannya akibat dari rubella. Gejala awalnya cairan merah keluar sedikit-sedikit seperti wanita sedang datang bulan.

Saat itu dia mencoba berpikir positif saja dan berusaha menepis segala pikiran negatif. Apalagi dia belum mengetahui tentang virus rubella.

Namun keguguran kedua ternyata memiliki pola yang sama. Yanti mulai berpikir ada yang tidak beres dengan kandungannya.

Lantas Yanti memeriksa diri pada dokter kandungan. Saat itulah, Yanti sangat terkejut. Ternyata keguguran yang dialami selama ini akibat virus rubella. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, dalam tubuhnya terdapat virus rubella yang sudah menjadi imun, biasa disebut dengan imun rubella.

"Nah dari situ dibilang dokter, kamu kena rubella makanya kamu keguguran dua kali," kata Yanti.

Yanti mulai memperbaiki asupan gizinya untuk menghadapi program kehamilan ketiga kali meskipun imun rubella bersarang di tubuhnya. Dia berpikir tidak berpengaruh terhadap kehamilan maupun anaknya nanti.

Setiap malam, dia selalu berdoa agar anaknya nanti bisa lahir normal. Yanti meyakinkan diri imun rubella dalam tubuhnya tidak berpengaruh terhadap janinnya. Namun kekhawatiran tetap saja menghantui Yanti.

Apa yang dikhawatirkan ternyata benar. Menjelang dua minggu kelahiran. Bahkan dalam seminggu janinnya turun berat badan mencapai 1 kilogram.

Padahal dokter kala itu meminta kepada Yanti untuk menambah berat badan si jabang bayi dalam kandungan. Namun situasi berkata lain, justru terjadi sebaliknya.

Bayi mungil itu lahir pada 1 Agustus 2017 lalu secara normal. Akan tetapi, si buah hatinya itu lahir dalam kondisi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Kendati demikian, Yanti menyambut bayi itu dengan sukacita.

Sebelumnya seperti saran dokter, ia diminta untuk menambah berat badan bayi dengan memenuhi asupan gizi pada makanan yang ia konsumsi. Sayangnya bayi tetap lahir dalam kondisi BBLR, hanya berat 2,3 kilogram.

"Meskipun dinyatakan sudah jadi imun rubella, ternyata berdampak juga kepada anak saat lahir dengan BBLR," sebutnya. Terlepas dari itu semua ia bersyukur, anak perempuan pertamanya lahir tanpa cacat.

Kisahnya tidak sampai di situ. Setelah 6 bulan usia, SN juga terjangkit TBC (Tuberkulosis) yang juga dikenal dengan TB. TB adalah penyakit paru-paru akibat kuman mycobacterium tuberculosis.

Yanti kemudian harus mengobati si buah hatinya selama satu tahun. Berbagai upaya dilakukan agar anaknya bisa sembuh. Hingga akhirnya diperiksa ke klinik dengan merogoh kocek Rp 1 juta lebih demi kesembuhan anaknya.

"Lengkaplah penderitaan anak saya itu," ucapnya.

Yanti mengaku, sebelum hamil anak pertamanya itu, suaminya pernah terjangkit TB. Tetapi setelah menjalani pengobatan dokter menyatakan sembuh.

"Anak saya lahir setelah ayahnya sudah selesai berobat. Mungkin anak saya terjangkit TB waktu proses kehamilan," ungkapnya.

Setahun yang lalu kisah hampir sama juga pernah menimpa seorang ibu bernama Husna (27) asal Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen. Husna yang juga seorang bidan memiliki anak yang terinfeksi virus rubella sejak lahir.

Husna tak menyangka bintik-bintik merah di tubuhnya saat hamil membuat anaknya lahir tidak normal. Awalnya dia mengira itu hanya bintik-bintik biasa, sehingga diabaikan sampai bayi lahir. Sejak itu dia harus berjuang keras untuk mengobati si buah hatinya. Bahkan sejak dalam kandungan.

"Berat waktu lahir 2 kilogram," jelasnya.

Tiga bulan awal, anaknya tidak memperlihatkan gejala apapun. Husna pun tak memiliki firasat jika bayinya menderita rubella. Namun saat anak perempuannya berusia 3 bulan, dia mulai khawatir. Di bola mata tampak bintik merah.

Husna kemudian membawanya ke salah satu rumah sakit di Medan, Sumatera Utara untuk menjalani operasi katarak. Bersamaan dengan itu, dokter juga menyarankan untuk memeriksa Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes Simplex (TORCH).

Setelah uji laboratorium, Husna positif terinfeksi rubella. Sedangkan lainnya dinyatakan negatif. Saat itulah, Husna sadar, ternyata bayinya terinfeksi virus rubella sejak dalam kandungan.

"Ketika hasil tes keluar, saya positif kena virus rubella dan yang lainnya negatif. Virusnya sudah tidak aktif, tapi masih ada dalam badan saya," ungkapnya.

Pada usia 10 bulan anaknya kembali harus menjalani operasi mata kedua kali. Kali ini untuk pemasangan lensa pada matanya agar bisa melihat.

Tak hanya itu, anaknya juga mengalami gangguan pendengaran. Sehingga harus menggunakan alat bantu mendengar dengan biaya Rp 40 juta.

Anaknya adalah satu dari puluhan anak yang terlahir akibat terinfeksi virus rubella di Aceh. Mereka harus menjadi difabel akibat virus rubella. Imunisasi penting untuk mencegah segala penyakit dampak dari berbagai virus atau bakteri yang mewabah selama ini.

Husna maupun Yanti berharap, pemerintah Aceh agar bisa menginstruksikan kepada seluruh orang tua di Aceh supaya mau memberikan imunisasi lengkap, khususnya vaksin Measle-Rubella (MR). Melalui vaksin, metabolisme tubuh seseorang akan kuat sehingga bisa mencegah terinfeksi virus yang cukup berbahaya tersebut.

Vaksin imunisasi yang diberikan kepada anak usia 0-18 bulan bisa mencegah berbagai virus maupun bakteri yang menyerang kesehatan anak. Menurut dokter anak RSUD Pasar Rebo, dr Arifianto, Sp.A vaksinasi bisa memberikan antigen ke dalam tubuh untuk membentuk antibodi spesifik.

Vaksin merupakan zat yang merangsang kekebalan tubuh anak maupun orang dewasa. Oleh karena itu, anak tidak hanya cukup diberikan Air Susu Ibu (ASI) dan makanan bergizi saja, tetapi juga vaksinasi untuk melengkapi antibodi pada anak.

Penulis buku "Pro Kontra Imunisasi” itu menyebutkan, penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi adalah Hepatitis B, DPT, Japanese ebcepphalitis, Dengue, Hepatitis A, Campak, gondongan, rubella, cacar air, tuberkolosis, meningitis, pneumonia, tifoid, kanker serviks influenza dan polio.

Begitu juga dengan penyakit difteri yang cukup mematikan. Penyebabnya adalah bakteri corynebacterium diphtheriae yang menghasilkan toksin. Apa lagi difteri adalah virus yang sangat mematikan.

Gejala sakit difteri berupa pembengkakan tonsil (amandel), sampai miokarditis dan neuritis. Di Indonesia wabah difteri memuncak pada 2012 lalu. Begitu juga di Aceh setiap tahunnya terdapat kasus difteri, bahkan ada yang meninggal dunia.

"Difteri sangat menular, juga beberapa penyakit lain bisa dicegah dengan imunisasi," ucap Apin, sapaan akrab dokter anak tersebut.

Baca Selanjutnya: Capaian Imunisasi Aceh Rendah...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini