Imbau umat muslim hormati yang tidak berpuasa, Menag dikecam

Rabu, 10 Juni 2015 20:56 Reporter : Moch. Andriansyah
Imbau umat muslim hormati yang tidak berpuasa, Menag dikecam Lukman Hakim Saifuddin. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Imbauan Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, agar umat Islam yang berpuasa Ramadan, harus menghormati umat lain yang tidak puasa, dikecam tokoh agama di Jawa Timur. Pernyataan menteri asal Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang membolehkan warung-warung makanan tetap buka selama Ramadan, dinilai ngawur.

Ditegaskan Ketua Umum Forum Dakwah Islamiah Jawa Timur, Ali Badri Zaini, imbauan Lukman tidak berlaku di Jawa Timur. Sebab menurutnya, aturan menghormati ibadah puasa itu, sudah berlaku sejak dari dulu. Dan baru oleh menteri agama aturan itu dibalik: Umat Islam yang berpuasa harus menghormati hak yang tidak berpuasa dengan membiarkan warung-warung makanan tetap buka.

"Saya baca di korban pagi tadi. Apa ndak salah menteri agama itu? Tidak ada ceritanya, yang mayoritas mengalah pada yang minoritas. Islam di Indonesia ini kan mayoritas, dan selalu melindungi yang minoritas," tegas salah satu tokoh masyarakat di Jawa Timur itu, Rabu (10/6).

Jika imbauan ini tetap diberlakukan, kata Ali Badri, sangat tidak fair. Sebab, Islam yang menjadi agama Rahmatan lil Alamin, selama ini menjadi menjadi pelindung serta menghormati ajaran lain yang minoritas.

"Kita lihat, saat perayaan Natal, umat Islam ikut membantu pengamanan gereja-gereja. Saya contohkan lagi. Di Bali, mayoritas beragama Hindu. Ketika Nyepi, umat Islam ikut menjaga dan menghormati dengan tidak bersuara keras, meski suara adzan," keluh tokoh asal Madura tersebut.

"Sekarang giliran umat Islam yang menjalankan ibadah, kenapa juga diperintahkan harus menghormati yang tidak berpuasa? Jika ini diteruskan, Islam yang mayoritas akan ditindas," tegasnya lagi, sembari memberi contoh kasus Rohignya, di Myanmar.

"Di Myanmar, umat Islam itu minoritas, tapi ditindas yang mayoritas, kasus Rohingya itu contohnya. Tapi di Indonesia ini kan tidak, Islam yang mayoritas selalu melindungi yang minor, karena Islam itu agama Rahmatan lil Alamin."

Dari berbagai asumsi ini, Ali Badri yang juga salah satu pentolan ormas Islam di Jawa Timur, meminta penganut agama lain, bergantian menghormati kaum muslim. "Saya tantang itu menteri agama. Imbauannya tidak berlaku di Jawa Timur. Saya akan temui Pakde Karwo (Gubernur Jatim, Soekarwo) untuk tidak perlu mengindahkan imbauan yang ndak masuk akal," lagi-lagi Ali Badri menegaskan.

Namun, Ali Badri tetap mempersilakan para pemilik usaha makanan tetap beroperasi. Dengan catatan, tidak dibuka transparan. "(warung-warung) Silakan buka asal tidak terang-terangan. Restoran-restoran di hotel-hotel, juga silakan buka. Tidak dilarang. Hanya saja, tetap hormati Ramadan, jangan paksa kita yang menghormati yang tidak puasa," akunya.

Sebelumnya, Selasa kemarin, Menag, Lukman Hakim Saifuddin, mengimbau pihak yang berpuasa harus menghormati hak pihak lain yang tidak berkewajiban dan tidak sedang berpuasa. Artinya, selama Ramadan nanti, restoran atau rumah makan diperbolehkan tetap beroperasi.

"Warung-warung tak perlu dipaksa tutup. Kita harus hormati juga hak mereka yang tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa. Jangan saling memaksa satu kepada yang lain," kata alumni Pondok Pesantren Gontor ini.

Namun, pasca-merilis imbauan ini, dan mendapat kecaman, Lukman kemudian meluruskan imbauannya dalam akun twitternya: @lukmansaifuddin.

Pada akun twitternya itu, Lukman menilai pernyataannya sudah dipelintir. "Berikut ini tanggapan atas twit saya yang telah diubah kalimatnya sedemikian rupa sehingga berubah makna," kicaunya.

"Twit saya itu muncul sebagai tanggapan atas adanya pandangan yang kehendaki agar warung-warung ditutup saja di bulan puasa."

"Ada 2 hal yang ingin saya sampaikan lewat twit itu. Pertama; tak perlu ada paksaan untuk menutup warung di bulan puasa."

"Bila ada yang sukarela menutup warungnya, tentu kita hormati. Tapi muslim yang baik tak memaksa orang lain menutup sumber mata pencahariannya demi tuntutan hormati yang sedang puasa. Saling menghormati adalah ideal. Tapi jangan paksa satu kepada yang lain."

"Kedua; kata 'juga' pada 'kita harus hormati juga' secara implisit mengandung makna: selain menghormati yang sedang berpuasa, kita juga dituntut hormati hak mereka (dalam mendapatkan makanan/minuman) yang tak wajib berpuasa karena bukan muslim."

"Juga menghormati hak muslim/ah yang tak sedang berpuasa karena keadaan (musafir, sakit, perempuan haid, hamil, menyusui)."

"Tapi kalau kalimat twit saya itu diubah jadi: "Kita harus hormati yang tak puasa", tentu maknanya jadi berbeda sama sekali."

"Saya tak tahu penyebab pengubahan kalimat twit saya itu karena ketidaktahuan, ketaksengajaan, atau memang ada motif lain."

"Apapun penyebabnya, saya maklum. Moga ini bisa bikin terang konteks dan maksud dari twit saya yang diplintir itu. Sekian," pungkasnya. [hhw]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini