Ikhtiar Cak Oyong Mengolah Sampah Minyak Jelantah

Rabu, 8 Juli 2020 14:26 Reporter : Muhammad Permana
Ikhtiar Cak Oyong Mengolah Sampah Minyak Jelantah Nurul Hidayah alias Cak Oyong. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Sebagai pecinta lingkungan, Nurul Hidayah alias Cak Oyong tidak hanya aktif mengkampanyekan pengurangan sampah. Belakangan, dia juga mulai membiasakan diri dengan gaya hidup alami. Salah satunya dengan memproduksi sendiri tempe yang ia konsumsi bersama keluarganya.

"Konsep zero waste itu tidak sekadar mengurusi sampah, tetapi lengkap. Termasuk juga penghijauan. Karena sampah organik ini kita olah jadi pupuk kompos. Kalau tidak ada tanaman kan percuma, ini juga terkait dengan ketahanan pangan," papar Cak Oyong, inisiator komunitas Sobung Sarka di Jember. Sobung Sarka berasal dari bahasa Madura yang artinya sampah habis. Senin kemarin.

Tempe yang dihasilkan Cak Oyong bukan sembarang tempe, karena menggunakan kedelai lokal Indonesia. Terdapat ciri fisik yang mencolok, antara kedelai lokal dengan kedelai impor yang selama ini menjadi bahan baku pembuatan tempe. Kedelai impor dari sisi tampilan terlihat lebih bersih dan ukurannya lebih besar ketimbang kedelai lokal. Selain itu dari segi harga, kedelai impor jauh lebih murah ketimbang kedelai lokal.

"Kalau kedelai lokal kira-kira per kilogram harganya Rp 15 ribu. Sedangkan kedelai impor, per kilogram hanya Rp 7 ribu," tutur Cak Oyong.

Kedelai impor lebih murah dan tampilan fisiknya lebih menarik karena menggunakan benih kedelai hasil rekayasa genetik atau lebih dikenal dengan kedelai Genetically Modified Organisme (GMO). Sedangkan kedelai lokal Indonesia masih menggunakan benih alami.

"Ya memang di kalangan ahli masih terjadi perbedaan pendapat mengenai tingkat keamanan kedelai GMO ini. Tetapi di pasaran internasional, justru permintaan kedelai lokal Indonesia itu sangat tinggi," tutur alumnus Akademi Perikanan Sidoarjo ini.

Tingginya peluang pasar kedelai lokal Indonesia di pasar internasional ini, seiring dengan meningkatnya tren gaya hidup alam (back to nature) terutama di negara-negara maju. "Jadi memang terbalik. Meski masih minim yang menanam, kedelai lokal Indonesia sebenarnya sangat potensial untuk komoditas ekspor. Di Jember sendiri, baru ada dua kecamatan yang terdapat komunitas petani kedelai lokal," papar Cak Oyong.

Karena tidak memiliki latar belakang sebagai pengerajin tempe, bukan hal yang mudah bagi Cak Oyong untuk memproduksi makanan khas tradisional Indonesia itu. "Saya beberapa kali uji coba. Dari enam kali uji coba, baru empat kali yang berhasil," tutur Oyong dengan senyum.

Tak ingin terbuang sia-sia, Cak Oyong juga mengolah tempe sisa menjadi terasi. "Terasi dengan bahan baku tempe ini, tidak kalah gurih. Tetapi bau amisnya tidak setajam terasi yang berbahan baku ikan laut," tutur suami dari Inayatul Hasanah ini.

1 dari 1 halaman

Olah Limbah Minyak Goreng Jadi Sabun Cuci Piring

Tidak sekedar bahan makanan, Cak Oyong juga mengembangkan kebiasaan mengolah minyak jelantah menjadi sabun cuci piring. Minyak jelantah atau minyak goreng sisa yang sudah tidak layak digunakan menggoreng, selama ini kerap dibuang begitu saja oleh masyarakat ke parit atau saluran air. Padahal, limbah minyak jelantah ini bisa mengalir jauh hingga ke sungai dan berpotensi mencemari lautan. Pembuangan minyak jelantah secara massif, berdasarkan penelitian para ahli, telah berkontribusi pada rusaknya habitat di sungai dan menyebabkan kepunahan beberapa mikroorganisme. Sebab, lemak minyak goreng yang mengambang di permukaan air, akan menutupi cahaya matahari dan sirkulasi oksigen di sungai.

Langkah-langkah mengolah minyak jelantah menjadi sabun ini dimulai dari mengoksidasi minyak menggunakan arang yang dipanaskan. Lalu disaring menggunakan soda api. Kemudian, larutan tersebut dicampur dengan air kopi. "Pakai air ampas kopi saja, jangan minuman kopi. Biar tidak sayang," jelas Cak Oyong.

Penggunaan larutan kopi ini bertujuan memberikan aroma harum kopi pada sabun yang akan dihasilkan. "Sebagai alternatif, bisa juga memakai daun pandan. Karena aromanya sama-sama sedap," tutur Cak Oyong.

Larutan tersebut kemudian diberi soda api dan dibiarkan hingga mengental. Setelah satu jam, larutan olahan minyak jelantah akan memadat. "Setelah itu kita harus simpan selama satu bulan. Biar Ph-nya normal," papar Cak Oyong.

Keterampilan mengolah minyak jelantah menjadi sabun cuci piring ini sudah disebarkan Cak Oyong dalam serangkaian pelatihan Ecobricks yang digelar komunitas Sobung Sarka.

"Memang mengolah minyak jelantah menjadi sabun, lebih ribet dan lebih mahal daripada kita langsung membeli sabun di toko. Tetapi ini demi ikhtiar mengurangi sampah yang dibuang, zero waste," pungkas Cak Oyong. [cob]

Baca juga:
Mengolah Sampah Jadi Berkah
Merawat Lingkungan ala Anak Milenial
Inspirasi dari Bekas Bungkus Kopi
Si Sarjana Pengubah Wajah Bantaran Kali Cisadane
Dianggap Gila karena Urusi Sampah

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini