Ikhlas Menolong Meski Butuh Pertolongan

Minggu, 26 April 2020 07:11 Reporter : Moh. Kadafi
Ikhlas Menolong Meski Butuh Pertolongan endang astuti. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Endang Astuti Bunga (33), berdarah Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) memilih ikut berpartisipasi menjadi relawan penanggulangan pandemi Covid-19. Dia dipercaya menjadi Koordinator Aliansi Bali Lawan Covid-19 untuk membantu warga masyarakat yang kesusahan karena terdampak Covid-19 di Bali.

Kendati, ia harus membagi waktunya sebagai ibu rumah tangga dan mengurusi kedua anaknya yang masih kecil. Namun, lewat dukungan penuh suaminya, ia memiliki semangat dengan rekan-rekannya untuk membentuk Aliansi Bali Lawan Covid-19, dan kini segala upaya untuk membantu warga pun dijalaninya dengan suka maupun duka.

Endang, tak jarang dengan rekan-rekannya berada di Posko Relawan Aliansi Bali Lawan Covid-19. Tepatnya, di belakang deretan pertokoan di Jalan Thamrin, Denpasar, Bali, Gang 1, Nomor 8. Di Posko itu, tempat mereka membahas atau menyusun rencana bagi warga masyarakat yang harus dibantu.

Posko sederhana itu, sebenarnya adalah tempat Kantor Seketariat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang, Denpasar. Namun, sementara waktu menjadi tempat sentral para relawan dari berbagai latar belakang mulai dari mahasiswa, pelajar hingga warga yang menjadi relawan untuk membantu para warga masyarakat yang terdampak Covid-19.

"Terbentuknya aliansi ini, karena keresahan dari kami para mahasiswa Bali, saat pandemi Covid-19 mulai menyebar di Indonesia," kata Endang, selaku Koordinator Aliansi Bali Lawan Covid-19, Sabtu (25/4) sore kemarin.

Aliansi Bali Lawan Covid-19 tergabung dari beberapa organisasi, dari PMKRI Cabang Denpasar, PD KMHDI, Gada Bali, Narmada Bali, Permata Universitas Warmadewa, BEM Universitas Ngurah Rai, KMK Dwijendra, Rumah Pelangi dan Duta Hijau Bali. Mereka, memiliki anggota sekitar 30 orang relawan dan visi-misinya tentu membantu warga yang terdampak Covid-19.

"Kami sepakat, kalau kita membuat satu gerakan yang dimana bisa bermanfaat, kayak misi kemanusiaan. Kami punya hashtag, Warga Bantu Warga dengan Solidaritas Tanpa Batas," imbuh Endang, yang juga seorang mahasiswi Fakultas Hukum ini.

1 dari 5 halaman

Bantu Korban PHK

Para relawan ini, menyasar dengan memberikan bantuan kepada para karyawan hotel atau restoran yang dirumahkan atau di PHK. Para kaum disabilitas, lansia, buruh harian, Panti Asuhan, dan warga yang sangat membutuhkan uluran tangan karena terkena dampak Covid-19.

Selain itu, dalam sebulan ini mereka sudah membagikan water dispenser atau tempat cuci tangan di tempat-tempat umum seperti di Pasar Kreneng, Pasar Badung, dan tempat umum lainnya dan juga tempat indekos agar para warga bisa hidup sehat dan terhindar dari virus corona.

Mereka juga membagikan sembako, hand sanitizer, vitamin dan juga masker. Sementara, untuk masker mereka memproduksi 1000 masker dengan memanfaatkan para penjahit rumahan yang terkena dampak dari Covid-19.

"Sembako itu kami bagikan ke enam wilayah yang ada di Denpasar, kami fokuskan kepada masyarakat yang terdampak dari Covid-19. Kami juga bekerja sama dengan penjahit rumahan yang terkena dampak dari efek corona ini yang tidak mendapatkan penghasilan lagi. Kami membelikan kain dan karet, kemudian kami memberikan ongkos jahit Rp 2.000 (per masker)," ujarnya.

"Kami juga mendapatkan bentuk donasi beras, mie, telor itu dari para pelajar. Mereka, mendominasikan ke aliansi untuk didistribusikan ke masyarakat yang benar-benar membutuhkan," sambung Endang.

Para relawan Aliansi Bali Lawan Covid-19 mempunyai strategi tersendiri, untuk memberikan bantuan kepada warga masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Mereka, membentuk

Satgas dan berkeliling ke kampung-kampung atau wilayah untuk mendapatkan informasi para warga yang memang butuh bantuan dan kesusahan karena imbas Covid-19. Setelah mendapatkan informasi, mereka melakukan survei dan langsung mendatangi warga tersebut untuk memberikan bantuan yang diperlukan selama wabah virus corona ini.

2 dari 5 halaman

Kehabisan Bensin

rev1

Para relawan Aliansi Bali Melawan Covid-19 tidak digaji dan mereka mendistribusikan sembako hanya bermodal sepeda motor pribadi dengan berboncengan. Walaupun, kadang kehabisan bensin di tengah perjalanan menurut Endang itu sudah hal biasa.

"Kita tidak pakai mobil dan kita pakai motor. Kita boncengan ke rumah-rumah. Relawan ini, tidak dibayar sepersepun dan pernah kita sampai turun (lapangan) ada yang bensinnya habis di Jalan. Bahkan, kita kalau makan di sini kita patungan Rp 10 ribuan buat masak atau beli nasi bungkus. Karena, pertama kita membentuk ini, tidak memikirkan mendapatkan apa. Tapi alhamdulillah sampai saat ini kami tetap makan kok," terang Endang.

Endang, yang merupakan anak pensiunan tentara ini juga bercerita, dalam menjadi relawan tentu ada suka dan dukanya. Ia melihat, para warga yang kesusahan bermukim di tempat-tempat yang tak layak huni. Selain itu, untuk makan sehari-hari pun masih kebingungan semenjak pandemi Covid-19.

"Masih banyak saudara-saudara kita yang masih membutuhkan. Kami melihat di Denpasar ini yang terlihat Kota tidak sedikit masyarakat tingal di tempat-tempat yang tak layak huni dan mereka (untuk) makan pun susah," ujarnya.

Selain membantu warga di sekitar Denpasar, dalam satu bulan ini mereka juga memberikan bantuan pada beberapa masyarakat di wilayah Kabupaten Karangasem, Tabanan, Jembarana dan tempat lainnya.

Ia mengharapkan, Pemerintah sedapat mungkin memperihatinkan masyarakat yang terdampak Covid-19. Terutama, para pekerja yang di PHK atau pekerja harian yang pengasilannya mulai berkurang semenjak adanya Covid-19.

"Khususnya yang terdampak. Seperti yang kehilangan pekerjaan atau di PHK. Istilahnya, pekerja harian yang mungkin sehari-hari pemasukannya mulai berkurang. Kami ingin Pemerintah untuk memperhatikan mereka," ungkapnya.

3 dari 5 halaman

Meneteskan Air Mata

Endang juga pernah merasakan pengalaman sedih, saat dirinya mendatangi warga kurang mampu yang terkena dampak Covid-19. Saat itu, dirinya mendata para warga dan memberikan hand sanitizer, masker dan vitamin. Para warga merasakan masih ada orang yang peduli akan nasib mereka dan ada yang bertanya.

”Kok mau yah mbak ke sini, saya seperti ini keadaannya tidak apa-apa mbak," tanya salah satu warga. Sehingga warga itu merasa terharu dan meneteskan air mata.

Mengalami peristiwa itu, Endang merasa sangat sedih dan dirinya masih mengingat bahwa para warga merasa bersyukur masih ada yang memperhatikannya.

"Waktu itu, belum dikasih sembako cuma mendata. Kami memberikan hand sanitizer sama masker dan vitamin. Itu langsung (warga) merasa ada orang yang memperhatikannya dan juga ada beberapa yang nangis meneteskan air mata," ungkapnya.

"Sampai mereka bilang, syukurlah masih bisa bertahan beberapa hari. Itu, yang membuat sedih apalagi saya seorang Ibu bagaimana kalau itu terjadi sama anak-anak saya. Saya juga terkena dampaknya dan alhamdulilah saya masih bisa makam. Sedangkan, mereka itu adalah pekerja harian mau makan pun mungkin satu hari sekali," ucapnya.

4 dari 5 halaman

Butuh Pertolongan Juga

juga

Endang juga mengaku, semenjak adanya wabah Covid-19 semua orang merasakan imbasnya, sebenarnya ia juga butuh pertolongan. Endang memiliki usaha kecil-kecilan dengan membuat kornet tahu lalu menjajakanya pada tetangga atau kawan-kawannya. Kini orderan kornet tahu tak seramai dulu.

Selain itu, dalam kondisi wabah Virus Corona semua orang merasa takut atau khawatir terjangkit Covid-19. Endang pun merasakan hal yang sama. Apalagi, dirinya tak jarang turun ke lapangan membantu warga yang membutuhkan. Namun, ia mengaku selama ini ketika mendatangi warga untuk menyerahkan bantuan selalu menggunakan masker dan perlengkapan lain-lainnya hingga merasa aman.

"Takut sih iya. Kalau kita berbicara tentang takut, terus diam di rumah lalu siapa yang akan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan atau saudara kita yang memang sekarang lagi terpuruk. Tapi, kami turun dengan APD lengkap,” jelas dia.

5 dari 5 halaman

Terinspirasi Orangtua dan Suami

Endang juga mengaku, semangatnya menjadi relawan dan membantu para warga yang terdampak Covid-19 terinspirasi dari sosok ibu tercintanya dan dukungan suaminya selama ini.

"Kalau dari pribadi saya sendiri dari pengalaman orang tua. Ibu saya memang janda berpisah sama bapak. Kami, dari kecil memang sudah diajarkan cukup makan, cukup minum. Tapi melihat perjuangan Ibu saya yang selalu mengajarkan, ketika kamu susah jangan pernah mengeluh, ketika kamu susah jangan pernah menyusahkan orang lain. Jika kamu punya rezeki lebih, bantu. Jadi, Ibu selalu mengajarkan kita membantu walaupun kita susah," tuturnya.

"Suami saya dagang jam di Pasar Kreneng. Saya tidak bisa seperti ini tanpa dukungan suami dan dukungan suami sangat luar biasa. Yang penting pesannya satu jangan lupakan ibadah dan shalat dan jaga diri sebelum turun (lapangan) pastikan aman dulu. Karena, membantu orang, kalau kita sendiri tidak aman bagaimana kita membantu orang lain," ujarnya.

Endang juga menyampaikan, bahwa harapan terbesarnya adalah pandemi Covid-19 cepatberlalu dan keadaan seperti biasa lagi. Namun, dalam situasi wabah corona ia juga memetik pelajaran betapa berharganya solidaritas tanpa batas untuk membantu warga yang terdampak Covid-19.

"Tapi saya ingin semua orang dapat pelajaran lewat pandemi ini. Kita bisa lebih dekat lagi dan solidaritas kita tetap terjaga. Kemudian jangan corona saja kita membantu, setelah corona kita tetap membantu. Kita tetap memperhatikan suadara-saudara kita yang memang membutuhkan uluran tangan," harapnya. [rnd]

Baca juga:
Pasien RSD Wisma Atlet Bertambah 14 Jadi 840 Orang
Langgar Aturan Corona, Warga Sragen Kapok 'Nginap' di Gudang Tua Angker
Jalankan PSBB, Satpol PP Bubarkan dan Segel Lapak Berjualan di Lokasi Terlarang
Hasil Uji Ulang Swab, Pasien di Banyuwangi Dinyatakan Negatif Covid-19
Pemda Jabar Borong Ventilator Buatan Lokal untuk Tangani Covid-19, Ini Faktanya

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini