Idrus Marham Tutup Pledoinya dengan Puisi Berjudul 'Keadilan Sebuah Keniscayaan'

Kamis, 28 Maret 2019 15:55 Reporter : Hari Ariyanti
Idrus Marham Tutup Pledoinya dengan Puisi Berjudul 'Keadilan Sebuah Keniscayaan' Sidang Idrus Marham. ©2019 Liputan6com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Terdakwa kasus suap proyek PLTU Riau-1, Idrus Marham menyampaikan pledoinya setebal 85 halaman. Pledoi itu ditulis dalam enam bab. Nota pledoi itu ditutup dengan sebuah puisi dan dibacakan langsung oleh Idrus. Puisi lima bait tersebut berjudul "Keadilan Sebuah Keniscayaan". Idrus mengatakan puisi tersebut merupakan karyanya sendiri.

"Majelis Hakim Yang Mulia, izinkan saya di akhir pledoi ini membacakan sebuah puisi yang berjudul Keadilan Sebuah Keniscayaan," ujarnya di Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat, Kamis (28/3).

Saat membacakan pledoi, Idrus sempat ditegur Ketua Majelis Hakim karena yang disampaikan tidak sesuai dengan yang tertulis dalam nota pledoi. Dalam pledoi enam bab itu, Idrus memamerkan berbagai prestasinya sejak masih di sekolah dimana dia mengaku kerap menjadi juara kelas. Selain sebagai politikus Golkar, dia juga mengatakan menjadi dosen di beberapa kampus, salah satunya di Universitas Tarumanegara.

Mantan Menteri Sosial ini mengatakan dirinya bukan orang yang berkepentingan dengan proyek PLTU Riau-1. Termasuk membantah tak memiliki kepentingan politis atas pelaksanaan Munaslub Partai Golkar pada akhir 2017.

"Karena saya bukan calon ketua umum," ujarnya.

Seperti diketahui, aliran dana suap proyek PLTU Riau-1 diduga mengalir untuk kepentingan Munaslub Golkar dimana saat itu Idrus menjabat sebagai Sekjen Partai Golkar. Idrus juga mengklaim hubungannya dengan terpidana Eni Maulani Saragih hanya hubungan biasa seperti hubungannya dengan para kader muda Golkar.

"Oleh karena itu, saya memohon kepada Majelis Hakim Yang Mulia untuk menolak semua dakwaan dan tuntutan JPU, dan membebaskan saya dari dakwaan dan tuntutan, memulihkan nama baik, harkat dan martabat saya. Jika Majelis Hakim Yang Mulia memiliki keyakinan lain, saya mohon keadilan yang seadil-adilnya," ujarnya.

Ini puisi yang dibacakan Idrus Marham:

Saya tidak mengerti mengapa

Saya harus berdiri di sini...

Saya hanya tahu hari ini, saya berdiri di insan berhati nurani...

Di tempat hakim yang mulia, memutus atas nama Tuhan...

Atas nama Zat yang Maha Adil...

Maka dengan segala kerendahan hati...

Izinkan kepala saya untuk tegak ...

Sebagai tanda keyakinan akan keadilan yang saya perjuangkan...

Saya tidak mengerti mengapa saya harus berdiri di sini...

Yang saya tahu hari ini kita semua berdiri atas nama Tuhan...

Atas nama Zat yang Maha Tahu...

Maka izinkan saya berbicara atas nama kebenaran...

Atas nama pertanggungjawaban yang akan saya emban sampai ke Yaumil

Mahsyar...

Sampai ke hadapan Allah, Tuhan Yang Maha Adil...

Saya tidak mengerti mengapa saya harus berdiri di sini...

Yang saya tahu, ini tempat bermartabat...

Tempat mengungkap kebenaran berdasarkan fakta...

Bukan tempat fiksi...

Bukan tempat menegakkan rekayasa hukum..

Ini setulus tulusnya ruang keadilan...

Tempat kebenaran menemukan niscaya...

Saya tidak mengerti mengapa saya harus berdiri di sini...

Yang saya tahu, ini Pengadilan Negeri Jakarta Pusat...

Tempat keadilan berbicara adil...

Tempat kebenaran bicara benar...

Tempat keberanian bicara berani...

Saya percaya pengadilan ini bisa membuat sejarah...

Bisa menjadi sejarah bicara sejarah...

Saya Tidak mengerti mengapa saya harus berdiri di sini...

Tapi saya percaya dan yakin...

Di sini ada hati nurani...

Nurani bicara kebenaran...

Nurani bicara keadilan...

Keadilan sebuah Keniscayaan... [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini