Idrus dan Setya ubah keterangan di sidang Akil

Kamis, 24 April 2014 20:43 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Idrus dan Setya ubah keterangan di sidang Akil Sidang Akil Mochtar. ©2014 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Sekretaris Jenderal Partai Golkar , Idrus Marham serta Bendahara Umum Partai Golkar , Setya Novanto , mendadak mengubah kesaksian dalam sidang mantan Ketua Mahkamah Konstitusi , Akil Mochtar , hari ini. Keduanya kompak membantah Berita Acara Pemeriksaan, yang menyebutkan mereka pernah mendengar adanya permintaan dari Akil terkait sengketa pemilihan gubernur Jawa Timur pada 2013.

Jaksa Sigit Waseso awalnya mencecar Setya karena di dalam BAP-nya tercantum dia pernah mendengar Akil meminta 'sesuatu' kepada Ketua Dewan Pimpinan Daerah I sekaligus Ketua badan Pemenangan Pemilu Jawa III Partai Golkar , Zainudin Amali . Saat itu, lanjut Jaksa Sigit, Amali menyampaikan hal itu kepada Idrus di ruang fraksi Partai Golkar , di Gedung Nusantara II, Kompleks DPR, Senayan, Jakarta Pusat. Saat diminta menjelaskan, Setya langsung mengelak.

"Itu pas mau rapat, tapi makan siang terlebih dulu. Ya sebelum makan pak Amali sampaikan sengketa pilkada Jawa Timur gawat. Kata Pak Akil harus diurus. Langsung saya bicara, 'Ngapain pake diurus-urus. Benar pak Sekjen (Idrus)'," kata Setya saat bersaksi dalam sidang Akil, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (24/4).

Namun, Jaksa Sigit tidak mudah percaya. Dia lantas bertanya bila pengakuan Setya seperti itu, maka bertentangan dengan BAP. "Apakah keterangan saudara yang di BAP salah?" tanya Jaksa Sigit.

"Enggak. Saya sampaikan ini yang saya dengar dan saya alami," jawab Setya.

Mendengar jawaban Setya, Jaksa Sigit terus mencecarnya. Dia lantas bertanya ihwal alasan Setya mengubah kesaksian.

"Ini memang kenyataan yang seingat saya kejadiannya demikian. Tidak berbeda, karena kita tidak membicarakan hal-hal lain. Karena waktu itu kita cepat saja. Karena teman-teman yang lain sudah menunggu ingin makan," sambung Setya dengan suara terbata-bata.

"Tapi di BAP saudara menyebutkan meminta sesuatu," sergah Jaksa Sigit.

"Yang benar tidak demikian," jawab Setya dengan nada suara agak ragu-ragu.

Sama halnya dengan Setya, Idrus juga ikut-ikutan mengubah kesaksian. Dia menampik pernah mendengar kata 'permintaan sesuatu' dari Akil, dalam percakapan dengan Amali.

"Tidak ada yang mulia. Saya tidak mendengar," kata Idrus.

Keterangan keduanya bertolak belakang dengan dakwaan Akil. Mengacu pada dakwaan, pada 1 Oktober 2013, Akil berbincang dengan Ketua Dewan Pimpinan Daerah I Partai Golkar Jawa Timur, Zainudin Amali , melalui media BlackBerry Messenger. Zainudin juga Ketua Bidang Pemenangan Pilgub Jatim pasangan Soekarwo - Saifullah Yusuf.

"Terdakwa mengirim pesan, 'Gak jelas itu semua, saya mau batalin ajalah Jatim itu, pusing aja. Suruh mereka siapkan 10 M saja kl (kalau) mau selamat. Masak hanya ditawari uang kecil, gak mau saya.'," kata Jaksa Pulung saat membacakan dakwaan Akil.

Lantas, lanjut Jaksa Pulung, Zainudin menjawab permintaan Akil dan akan membicarakannya dengan tim sukses Soekarwo - Gus Ipul. Kemudian, keesokan harinya, Zainudin menyatakan permintaan Akil disetujui oleh tim sukses Soekarwo - Gus Ipul. Zainudin juga ingin segera menemui Akil di rumah dinas di Jalan Widya Chandra III nomor VII, Jakarta Selatan.

"Beberapa saat kemudian, terdakwa mengirim pesan kepada Zainudin Amali melalui BBM, 'Bisa ketemu saya sekarang di rumah,' dan 'darurat,' dan 'Kalau ga diulang nih Jatim',' ujar Jaksa Pulung.

Zainudin lantas menjawab akan segera bertandang ke rumah dinas Akil. Tetapi, pertemuan itu tidak terjadi lantaran pada pukul 21.00 WIB, tim penyidik KPK keburu menangkap Akil di rumah dinasnya bersama dengan Anggota Komisi II DPR fraksi Partai Golkar , Chairun Nisa, dan pengusaha Cornelis Nalau Antun terkait dugaan suap sengketa pilkada Kabupaten Gunung Mas. [tyo]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini