IDI: Eucalyptus Herbal, Belum Diuji Untuk Obat Covid-19

Kamis, 9 Juli 2020 08:01 Reporter : Rifa Yusya Adilah
IDI: Eucalyptus Herbal, Belum Diuji Untuk Obat Covid-19 Kementan luncurkan antivirus corona berbahan eucalyptus. Instagram/@Balaitani

Merdeka.com - Kementerian Pertanian mengklaim menemukan tanaman yang mampu menangkal Sars-Cov-2, virus penyebab Covid-19. Adalah tanaman atsiri atau eucalyptus yang disebut mampu membunuh virus influenza, Virus Beta dan Gamma Corona sebesar 80-100 persen.

Hal itu diungkap Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang didampingi Kepala Balitbangtan Fajry Jufri dan Sekretaris Jenderal Kementan Momon Rusmono.

"Balitbangtan membuat beberapa prototipe eucalyptus dengan nano teknologi dalam bentuk inhaler, roll in, salep, balsem, dan difusser. Kami akan terus kembangkan dengan target utamanya korban terpapar Covid-19," kata Mentan dalam peluncuran di ruang utama Agriculture War Room (AWR) Jakarta, Jumat (8/5).

Kepala Balitbangtan Fajry Jufri menjelaskan, penelitian ini sebenarnya adalah hasil identifikasi melalui beberapa tanaman herbal dan jamu-jamuan seperti temulawak, jahe, jambu biji, dan minyak atsiri.

Rencana produksi massal eucalyptus dalam bentuk kalung untuk menangkal Covid-19 pun menuai kontroversi. Banyak kalangan yang meragukan eucalyptus mampu menangkal virus mematikan tersebut.

merdeka.com mewawancarai Ketua Lembaga Riset IDI, dr. Marhaen Hardjo selaku. Marhaen dilibatkan dalam uji klinis temuan Kementan tersebut.

Kalung Eucalyptus ini melibatkan IDI?

Iya memang benar ada keterlibatan lembaga riset Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang kebetulan saya ketuanya dalam rangka untuk meneliti bahan aktif dari eucalyptus yang mempunyai efek antivirus. Departemen Pertanian selama ini sudah pernah melakukan penelitian laboratorium tentang eucalyptus itu pada berbagai jenis virus, di antaranya virus flu burung, virus influenza, dan beberapa virus yang lain.

Kementerian Pertanian (Kementan) punya hipotesis bahwa eucalyptus itu juga bisa efektif untuk Covid-19, tapi itu baru penelitian praklinis. Dari hasil penelitian Kementan, kita punya dasar untuk melakukan uji klinis.

Kalau uji klinis kan harus dilakukan pada manusia serta mempunyai tahapan-tahapan seperti uji klinik tahapan fase 1, 2, 3 dan 4. Kalau uji klinik fase 1, kita lihat keamanannya. Apakah eucalyptus itu aman untuk dikonsumsi sebagai obat, kalau sudah dinyatakan aman, maka pada fase 2 kita lihat pada pasien juga kita lihat apakah dia (eucalyptus) mempunyai manfaat. Kemudian fase 3 akan lebih spesifik lagi tentang bagaimana dosisnya, dosis pediatrik, dosis lethal, bahkan dosis toksik dan seterusnya.

Dengan demikian kalau semuanya sudah diketahui, kita melangkah ke fase 4 yang akan menilai secara multicenter, efek yang tidak diinginkan. Atau biasa namanya after effects-nya. Kalau semua ini sudah selesai barulah kita mengatakan bahwa ini bisa digunakan pada manusia dan bisa diproduksi setelah memperoleh izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Kalaupun masyarakat menggunakan minyak kayu putih atau eucalyptus itu sah-sah saja karena memang sudah dari turun-temurun yang mengatakan bahwa eucalyptus ini punya efek aromaterapi terhadap beberapa penyakit seperti radang, flu, tapi itu masih dalam kapasitas herbal belum bagai obat.

Jadi Eucalyptus itu sejenis jamu?

Ya semacam itu, tepatnya bahan herbal yang mungkin nanti mau ditingkatkan menjadi bahan obat.

Jadi Eucalyptus akan ditingkatkan menjadi obat?

Iya, yang kita teliti kan bahan aktif dari eucalyptus itu sendiri. Nanti untuk pembuatan obatnya, tentu ada bahan tambahannya. Misalnya kalau ingin dibuat tablet, maka ada tambahan amilum, glukosa. Nah terkait itu, nanti tahap berikutnya. Yang sekarang kita ingin teliti yaitu bahan aktif dari eucalyptus itu apakah ada efeknya atau tidak.

Jadi apakah benar eucalyptus bisa mengobati penyakit pernapasan?

Kalau dari zaman dulu minyak kayu putih terkenal sebagai obat masuk angin, tapi itu bukan dalam ilmu kedokteran, melainkan sebagai bahan herbal. Jadi sah-sah saja, karena BPOM juga sudah mengeluarkan izin edar untuk bahan herbal ini (eucalyptus), sehingga bisa diproduksi.

Eucalyptus disebut bisa menyembuhkan influenza karena diklaim ada antivirus dan antijamur bagaimana?

Iya itu sudah dibuktikan di uji laboratorium Balitbang Departemen Pertanian, tapi itu baru pengujian secara laboratorium belum secara klinis pada manusia. Oleh karena itu, kita mau melanjutkan karena kita harus memberikan apresiasi terhadap apa yang telah dilakukan oleh Kementan.

Bagaimana sistem kerja kalungnya itu?

Sebenarnya bukan kalungnya ya, tapi eucalyptus yang di kalung itu mengeluarkan aroma terapi ya. Itu yang dihirup sebagai inhaler yang kemudian bisa menyebabkan orang yang ada inflamasi jadi nyaman.

Sekarang proses penelitiannya sudah sampai mana?

Kita baru tadi menekan MoU dengan Kementan. Dalam hal ini Balitbangtan. Selanjutnya kita teruskan dengan perjanjian kerja sama khusus untuk eucalyptus ini dan kalau lancar kita akan lakukan tahapan-tahapan uji klinisnya. selanjutnya kita akan laporkan pada masyarakat pada setiap tahap.

Jadi masih dalam proses uji klinis ya? Lalu untuk kalung eucalyptus yang sudah beredar di pasaran karena terlanjur viral itu bagaimana?

Ya yang terlanjur beredar itu dalam kapasitas sebagai herbal.

Tidak masalah apabila beredar dalam kapasitas obat herbal?

Kalau herbalnya tidak masalah. Maksud saya eucalyptus memang hasil kekayaan negeri kita yang berupa obat herbal.

Nantinya, obat tersebut bentuk kemasannya seperti apa?

Ya jadi inikan tahapan untuk membuktikan bahan aktifnya, nanti kalau mau diproduksi, akan dipikirkan lagi apakah dalam bentuk inhaler atau dalam bentuk tablet, atau kapsul. Itu nanti di tahapan berikutnya.

Targetnya kapan selesai diteliti dan bisa diedarkan ke masyarakat?

Kalau kita lihat, kita akan berusaha secepat mungkin ya supaya masyarakat dapat menikmati hasil dari penelitian ini tapi kita juga tidak bisa melangkahi tahapan-tahapan yang ada, seperti fase 1, 2, 3, dan 4 ini. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa setiap fase bisa dilaksanakan secara paralel. Misalnya fase 1 dan 2 itu dapat sekali jalan, kemudian fase 3 dan 4 juga dapat sekali jalan sehingga dapat menghemat waktu. Itu tergantung pada kesiapan anggaran dari kementerian pertanian.

Berapa anggaran yang dianggarkan untuk pengujian tersebut?

Saya kira hal itu bisa ditanyakan langsung ke kementeriannya, karena PB (IDI) dalam hal ini hanya bisa menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk tenaga-tenaga penelitinya dan rumah sakit untuk tempat penelitian. untuk anggaran itu, pasti IDI tidak punya.

Dimana tempat pengujiannya?

Yang di Balitbang Kementan itu akan dilaksanakan untuk klinikal trialnya. Sekarang bukan lagi di Departemen Pertanian. Melainkan bisa dilakukan di Litbangkes, di universitas, bisa juga di research center. Bisa dimana-mana kalau itu sih. Tergantung nanti IDI akan bekerja sama dengan lembaga-lembaga riset mana.

Saat ini, IDI sudah menjalin kerjasama dengan FKUI ya?

Ya, itu yang universitas ya. Seperti di FKUI, Farmasi Universitas Hassanudin juga.

Kedua Universitas tersebut sudah pasti dok?

Iya, masing-masing sudah menjalankannya sendiri-sendiri. Namun, untuk uji klinikal trial, nanti kita akan dibicarakan dalam perjanjian kerja sama dengan Balitbang Pertanian.

Jadi kalung eucalyptus tidak bisa disebut sebagai antivirus, karena belum terbukti secara ilmiah dan belum ada jurnal ilmiahnya?

Kita tidak ada urusan dengan kalung, cincin, atau gelang ya, yang kita lihat bahan aktif dari eucalyptus itu apakah mempunyai efek terhadap virusnya.

Berarti itu nanti kalungnya ada tempat untuk membukanya atau bagaimana?

Sekali lagi, saya tidak mau terjebak dalam pembicaraan tentang kalung. kita mau fokus pada bahan aktif dari eucalyptus itu saja. [rhm]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini