Hasyim Muzadi yang ingin selalu dekat dengan para santri

Kamis, 16 Maret 2017 08:55 Reporter : Wisnoe Moerti
Hasyim Muzadi yang ingin selalu dekat dengan para santri Wantimpres Hasyim Muzadi. ©2015 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Kabar duka datang Kamis (16/3) pagi. Sekitar pukul 06.15, KH Hasyim Muzadi menghembuskan napas terakhir. Mantan Ketua Umum organisasi Islam terbesar di negeri ini Nadhlatul Ulama ( NU) sempat bolak balik menjalani perawatan intensif di RS Lavalette, Malang sebelum akhirnya dia meminta pulang ke Pondok Mahasiswa Al Hikam, Kota Malang. Sebenarnya tim dokter belum memperbolehkan pulang lantaran Hasyim Muzadi sebenarnya masih perlu menjalani masa pemulihan di rumah sakit.

Namun takdir berkata lain. Hasyim meninggal di sana, Pondok Mahasiswa Al Hikam, tempat yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya. Hasyim seolah ingin memberikan pesan betapa dia sungguh mencintai para santrinya.

"Kiai Hasyim ingin menjalani masa pemulihan di kediamannya agar lebih dekat dengan santri-santrinya," ucap Kepala RS Lavalette, Abdul Rokhim.

Pondok pesantren dan para santri adalah bagian dari hidup Kiai yang lahir pada 8 Agustus 1944 ini. Setidaknya dua pondok pesantren dibangunnya, yakni Pesantren Mahasiswa Al Hikam di Kota Malang dan Depok. Dia sengaja membidik mahasiswa sebagai santrinya karena selama ini mereka tidak banyak tersentuh pendidikan agama secara intensif. Pendidikan agama di fakultas umum dinilai tidak terlalu efektif.

Dia tidak ingin mahasiswa hanya menjadikan agama sebagai pengetahuan saja, tapi pegangan hidup. Saat didirikan pertama kali, pesantren ini hanya diisi empat orang santri mahasiswa. Namun lambat laun, banyak mahasiswa berbondong-bondong mondok di pesantren yang didirikannya.

Pesantren menjadi bagian dari perjuangannya membela agama dan akidah. Tidak heran Hasyim marah besar ketika pondok pesantren dan santrinya dikait-kaitkan dengan aktivitas radikalisme dan terorisme.

"Beberapa pesantren tidak kesusupan radikalisme," kata Hasyim di Kantor ICIS, Jalan Prapanca Buntu No 118 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (3/12/2014).

Hasyim dikenal sebagai salah satu tokoh muslim yang moderat dan toleran dan tidak pernah meninggalkan prinsip-prinsip agama yang jadi pegangan hidupnya. Namun dia selalu mengecam keras tindakan radikalisme yang berlindung di balik perjuangan jihad Islam. Dia tak setuju jika jihad dimasukkan dalam kategori teror dalam UU Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

"Jihad adalah perjuangan dan teror bukan perjuangan, tapi merusak. Jadi dikembalikan saja jihad sebagaimana aslinya. Kalau teror, yang tidak berdosa, tidak tahu apa-apa ikut diserang, dibunuh," ujar Hasyim, Kamis (23/6/2016).

Seperti ulama besar NU lainnya, sederet pengalaman organisasi yang dijalaninya menjadikan Hasyim sebagai seorang pemimpin. Sebelum memimpin PBNU, Hasyim juga tercatat pernah memimpin organisasi kepemudaan berbasis NU yakni Gerakan Pemuda Ansor (GP-Ansor) dan organisasi kemahasiswaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Perjalanan karir Hasyim Muzadi dimulai dari lingkup lokal Jawa Timur hingga ke tingkat nasional. Ulama kelahiran Bangil Tuban, Jawa Timur ini pernah menjadi anggota DPRD Kota Malang, DPRD Provinsi Jawa Timur, hingga Ketum PBNU. Kiprahnya cukup cemerlang hingga karir tertingginya sebagai dewan pertimbangan presiden yang diembannya sampai dia meninggal.

Kepemimpinan Hasyim yang diakui secara nasional sempat membuatnya dilirik PDI Perjuangan untuk menjadi cawapres mendampingi Megawati Soekarnoputri di Pilpres 2004. Tak sedikit yang menyayangkan langkah Hasyim terjun ke politik praktis, termasuk Gus Dur. Namun saat itu dia menjawab keraguan itu dengan bijak.

"Saya ingin menyatukan antara kaum nasionalis dan agama," ujar Hasyim saat deklarasi pasangan capres dan cawapres Megawati-Hasyim Muzadi.

Pemikiran-pemikiran Hasyim banyak dijadikan pegangan. Dia selalu mengajak ulama ahlussunnah wal jamaah bangkit menyelamatkan agama dan negara dengan menghindarkan terjadinya tabrakan antara keduanya. Ulama harus mengajarkan kepada masyarakat Islam ahlussunnah wal jamaah yang benar, aktif mengisi forum-forum pengajian di masjid dan musala.

"Jangan sampai agama rusak ditekan negara dan negara rusak karena tidak didukung agama," kata Hasyim, Minggu (18/9/2016).

Ulama juga harus pandai mengemas ajaran agama yang sebenarnya ajaran lama dengan kemasan baru yang lebih menarik.

"Sekali lagi, ulama jangan diam. Sekarang agama memanggil untuk mengajarkan syariat yang benar, juga negara yang kini dilanda berbagai problema," tegasnya.

Segala pemikiran dan keteladanan yang ditunjukkan Hasyim Muzadi akan selalu dikenang rakyat Indonesia, khususnya kaum Nahdliyin.

Innalillahi wainnailaihi rojiun, selamat jalan Kiai Hasyim Muzadi.

[noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini