Hasil Inovasi Anggrek Pria Lumajang Terkenal Hingga ke Inggris

Sabtu, 26 November 2022 08:05 Reporter : Darmadi Sasongko
Hasil Inovasi Anggrek Pria Lumajang Terkenal Hingga ke Inggris Eko Yudi Purnomo Patenkan 17 Spesies Anggrek. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Makin tua makin jadi. Istilah yang cocok menggambarkan Eko Yudi Purnomo (50). Seorang pembudidaya anggrek asal Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Dia berhasil berinovasi melalui spesies tanaman anggrek. Bahkan, dia telah mematenkan 17 spesies anggrek baru hasil persilangannya dengan nama serba Lumajang.

Eko yang telah bertahun-tahun menggeluti dunia tanaman hias, berhasil menyilangkan beberapa jenis anggrek menjadi spesies baru, terutama anggrek Dendrobium. Hingga kini sudah ada 17 jenis anggrek hybrid baru hasil eksperimennya melalui persilangan tanaman anggrek Dendrobium dengan beragam jenis lain. Bahkan, 17 anggrek hybrid hasil silangannya itu telah terdaftar di Orchid Roots, sebuah lembaga paten internasional yang berpusat di Inggris.

Perjalanan eksperimen itu berawal pada tahun 2018. Eko yang saat itu berprofesi sebagai petani melihat adanya potensi yang bisa digali dan dikembangkan seputar dunia tanaman anggrek di Lumajang.

Berbekal ilmu merawat tanaman hias yang dimilikinya saat bekerja di kebun Handoyo Budi Orchids (HBO) Malang pada 2015, Eko mencoba menyilangkan tanaman anggrek jenis Enobi Purple dengan Phalaenopsis. Hasilnya, tumbuh anggrek Dendrobium varian baru. Kemudian dipatenkan dengan nama 'Pesona Lumajang'.

"Pesona Lumajang ini hasil silangan pertama saya," kata Eko.

eko yudi purnomo patenkan 17 spesies anggrek
©2022 Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Dari percobaan itu, dia mulai rajin bereksperimen menyilangkan sejumlah tanaman anggrek Dendrobium. Hingga akhirnya berhasil menciptakan 17 spesies anggek dengan corak dan motif baru.

Dia merupakan orang pertama di Kabupaten Lumajang yang berhasil menyilangkan tanaman anggrek dan mematenkan spesies baru dari hasil silangan ke lembaga resmi. Bahkan, beberapa jenis anggrek yang berhasil ia silangkan diberi nama dengan menyematkan objek alam di Lumajang seperti Ranu Kumbolo, Mini Regulo.

Selain itu, nama-nama anggrek hasil silangannya itu diberi nama dengan menyematkan tempat kelahirannya itu seperti Mini Lumajang, Lumajang Exsotik, Lumajang Unique dan lain lain.

"Nama-nama yang saya daftarkan beberapa menggunakan ciri khas lokal Lumajang. Tujuannya biar mengangkat nama Lumajang dan bisa dikenal masyarakat luas lewat anggrek," jelasnya.

Bahkan, yang terbaru, Eko memberi nama anggreknya Rumini, salah satu korban erupsi Semeru yang meninggal dalam kondisi memeluk sang nenek.

Eko pun mendaftarkan ke-17 anggrek hasil silangannya itu ke lembaga resmi sebagai apresiasi atas kerja keras dan keuletannya dalam melakukan teknik penyilangan tanaman anggrek.

Selain itu, pematenan itu juga untuk melindungi hak cipta sebagai bentuk penghargaan terhadap karya intelektual.

Menurut pria yang juga sebagai Ketua PAI (Perhimpunan Anggrek Indonesia) Lumajang itu, kontribusinya dalam pertanian khususnya persilangan tanaman anggrek diharapkan dapat menambah minat petani lokal untuk membudidayakan anggrek lokal tersebut.

Teknik persilangan pada tanaman anggrek tak hanya untuk menciptakan jenis baru namun juga dapat meningkatkan mutu anggrek.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini