Hampir tiga juta orang tua di Indonesia hidup merana

Minggu, 26 Mei 2013 15:38 Reporter : Ramadhian Fadillah
Hampir tiga juta orang tua di Indonesia hidup merana Pemukiman Miskin. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Kepedulian dan perhatian terhadap lanjut usia merupakan tanggungjawab bersama. Kementerian Sosial menjalin kerja sama dengan berbagai pihak terkait untuk mewujudkannya.

"Kepedulian terhadap para lanjut usia (lansia), tidak hanya domain Kementerian Sosial (Kemensos). Tetapi, tanggungjawab kita semua," kata Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri di acara Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) di Kampung Kambing, Kecamatan Citeureup, Bogor, Jawa Barat, Minggu (26/5).

Dibutuhkan upaya sadar dan berkesinambungan agar masalah tidak terus bertumpuk. Mutlak harus dilakukan untuk mewujudkan Indonesia adil dan sejahtera. Masih terdapat puluhan masalah kesejahteraan sosial, termasuk konflik sosial dan kepedulian lansia.

Tahun ini, kata Mensos, peringatan HLUN harus bisa lebih bermakna daripada sekedar seremonial. Sejatinya mengingatkan semua pihak meningkatnya angka harapan hidup berbanding lurus dengan panjangnya usia hidup seseorang.

"Data badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, angka harapan hidup meningkat di atas lima tahun. Jadi, usia harapan hidup tertinggi orang Indonesia 68 tahun, menjadi 70 lebih," tandasnya.

Secara biologis, makin meningkatnya usia berdampak pada berkurangnya kapasitas gerak dan intelegensia. Sebuah keniscayaan bagi semua pihak untuk mempersiapkan berbagai layanan bagi lanjut usia, baik dalam keluarga maupun di luar keluarga.

Data Direktorat Pelayanan Lanjut Usia, Kemensos menyebutkan, saat ini, terdapat 18.043.717 penduduk berusia lanjut, lanjut usia terlantar 2.851.606 orang, serta rawan terlantar 4.658.280 orang.

"Banyak faktor menjadikan usia lanjut terlantar, mulai dari faktor ekonomi, gaya hidup maupun faktor budaya," ucapnya.

Saat ini, permasalahan kesejahteraan sosial beragam dan membutuhkan strategi dan tangan terampil mengatasinya. Cara klasik dan sektoral harus dikoreksi dengan cara integral dan holistik. Kemensos optimis, bisa melaksanakan dengan baik karena didukung lembaga lembaga kesejahteraan sosial (LKS) serta tenaga tenaga terlatih.

"Kemensos mendata dan melakukan verifikasi rumah-rumah lansia tidak layak huni secara spesifik kamarnya, karena memang perlu rancangan khusus disesuaikan sudut pandang psikologis. Misalnya, lansia sering sensitif dan sudut pandang biologis fisik terkait pengendalian metabolisme tubuh dari aspek regeneratif," jelas Mensos.

Program Asuransi Lanjut Usia (Aslut) bagi 26.500 lanjut usia di 33 provinsi. Juga bantuan bagi LKS, penyelengggara layanan lanjut usia sebanyak 12.500 LKS, untuk program daycare maupun homecare. Termasuk meningkatkan kompetensi tenaga pekerja sosial di dalam maupun di luar luar negeri.

Mulai dengan membedah 20 rumah di kecamatan Kecamatan Citeureup dari 100 rumah direncanakan, akan dibedah dengan bantuan masing-masing rumah Rp 10 juta rupiah.

Kemensos melakukan bedah rumah bagi lansia ini tidak hanya terbatas bagi terlantar saja. Bagi para lansia mantan perintis kemerdekaaan, mantan pejuang kemerdekaan. Mereka orangtua dan mereka berjasa mendirikan bangsa dan negara.

"Saya mengajak semua pihak terlibat. Lansia terlantar adalah orang orangtua kita, saudara kita. Keterbatasan dana, bukan halangan mewujudkan kamar lansia layak. Dengan semangat kesetiakawanan sosial, peduli dan berbagi, semuanya bisa terlaksana dengan baik," ujarnya. [ian]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Ekonomi Indonesia
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini