Hakim Konstitusi Guntur Hamzah Terbukti Langgar Etik Terkait Perubahan Putusan

Senin, 20 Maret 2023 17:24 Reporter : Merdeka
Hakim Konstitusi Guntur Hamzah Terbukti Langgar Etik Terkait Perubahan Putusan Gedung Mahkamah Konstitusi. merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Ketua Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) I Dewa Gede Palguna menyatakan Hakim Konstitusi Guntur Hamzah terbukti melanggar Kode Etik dan Perilaku Hakim Konstitusi akibat mengubah Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 103/PUU-XX/2022.

"Menyatakan hakim terduga terbukti melakukan pelanggaran terhadap Kode Etik dan Perilaku Hakim Konstitusi sebagaimana tertuang dalam Sapta Karsa Hutama, dalam hal ini bagian dari penerapan prinsip integritas," ucap I Dewa Gede Palguna dalam Sidang Putusan MKMK, Senin (20/3).

MKMK menjatuhkan sanksi berupa teguran tertulis kepada Guntur Hamzah.

2 dari 3 halaman

Hal Memberatkan

Hal-hal yang memberatkan Guntur Hamzah adalah perbuatannya dalam suasana publik yang masih memperdebatkan keabsahan pemberhentian mantan Hakim Konstitusi Aswanto.

Kondisi ini mengakibatkan perbuatan Guntur Hamzah dipersepsikan sebagai upaya untuk menyelamatkan diri dari prasangka ketidakabsahan pengangkatannya sebagai hakim konstitusi.

Meskipun secara hukum Guntur Hamzah berhak mengajukan usul perubahan terhadap putusan, kata dia, pertimbangan etik seharusnya mencegah untuk melakukan tindakan tersebut.

"Sebab hakim terduga tidak ikut memutus perkara Nomor 103/PUU-XX/2022," ucap Palguna, dilansir dari Antara.

Selain itu, Palguna mengatakan seharusnya Guntur Hamzah, yang saat itu baru menjabat sebagai hakim konstitusi, bertanya mengenai prosedur yang harus ditempuh ketika hendak mengusulkan perubahan terhadap naskah putusan.

3 dari 3 halaman

Hal Meringankan

Terdapat hal-hal yang meringankan Guntur Hamzah. Seperti Guntur Hamzah berterus terang sejak awal memberikan keterangan kepada Majelis Kehormatan.

Perbuatan Guntur Hamzah sesungguhnya merupakan praktik lazim di Mahkamah Konstitusi sepanjang mendapatkan persetujuan majelis hakim (setidaknya hakim drafter), ketiadaan SOP, hingga lambatnya respons MK terhadap dampak dari perbuatan Guntur.

Seandainya MK merespons dengan cepat, Palguna mengatakan bahwa permasalahan ini tidak seharusnya menjadi berkepanjangan, bahkan Majelis Kehormatan pun tidak perlu dibentuk.

Oleh karena itu, selain menjatuhkan sanksi berupa teguran tertulis, Majelis Kehormatan juga memberikan rekomendasi kepada MK untuk membuat SOP bagi hakim konstitusi yang hendak mengusulkan perubahan terhadap putusan yang sedang diucapkan atau dibacakan dalam sidang pengucapan putusan yang terbuka untuk umum.

"Demi kepastian hukum, Mahkamah Konstitusi perlu segera membuat renvoi terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 103/PUU-XX/2022," ucap Palguna.

Putusan yang berlaku adalah putusan yang menggunakan frasa ‘dengan demikian’. Putusan 103/PUU-XX/2022 merupakan putusan MK terkait uji materi Pasal 23 ayat (1) dan (2) serta Pasal 27 A ayat (2) Undang-Undang tentang MK. Putusan itu dibacakan pada tanggal 23 November 2022.

Permasalahan dalam putusan tersebut adalah perubahan substansi yang dinilai memiliki konsekuensi hukum yang jauh berbeda. Substansi yang berubah dalam putusan ini hanya melibatkan dua kata, yakni dari kata ‘dengan demikian’ seperti dibacakan Hakim Konstitusi Saldi Isra dalam sidang menjadi ‘ke depan’ seperti tertulis dalam salinan putusan dan risalah persidangan.

[tin]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini