Habib Rizieq minta hakim bebaskan Abu Bakar Baasyir

Selasa, 26 Januari 2016 20:14 Reporter : Chandra
Habib Rizieq minta hakim bebaskan Abu Bakar Baasyir Habib Rizieq. ©kapanlagi.com

Merdeka.com - Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq memberikan kesaksian ketiga dalam proses persidangan Abu Bakar Baasyir dalam sidang peninjauan kembali (PK) di Pengadilan Negeri (PN) Cilacap Jawa Tengah, Selasa (26/1). Rizieq pun meminta meminta kepada majelis hakim agar mempertimbangkan untuk membebaskan Abu Bakar Baasyir.

"Sangat tidak masuk akal Syekh Abu Bakar Baasyir dituduh terlibat pelatihan militer di Aceh, ini sangat tidak masuk akal. Karena itu kami minta beliau dibebaskan dari semua tuduhan," ujar Rizieq, Selasa (26/1).

Menanggapi hal tersebut, tim jaksa penuntut umum menyampaikan keterangan yang diberikan Habib Rizieq cukup menarik dan baik. Namun, tim jaksa penuntut umum menanyakan kedudukan Habib Rizieq dalam kapasitasnya sebagai saksi dalam sidang peninjauan kembali tersebut.

"Dari dasar memori PK sebelumnya, tidak dijelaskan di situ Habib Rizieq sebagai apa? Apakah saksi biasa atau saksi ahli. Jika langsung berubah dari saksi biasa menjadi saksi ahli ini luar biasa, karena tidak sesuai dengan memori PK. Dan semua yang disampaikan sudah diungkapkan saksi-saksi saat di PN Jakarta Selatan," kata ketua tim jaksa penuntut umum, Mayasari.

Rizieq menambahkan, apa yang dialami Abu Bakar Baasyir sama dengan yang dialami dengan dirinya. "Apa yang dialami Syekh Abu Bakar Baasyir sama dengan yang dialami saya. Tetapi bedanya, beliau sudah dipesan, saya belum jadi pesanan," katanya di hadapan majelis hakim yang disambut tawa hadirin.

Diakui Habib Rizieq, pelatihan militer di Pegunungan Jalin Janto, Aceh telah merekrut dua dari 10 anggota FPI cabang Aceh yang sebelumnya telah mengikuti latihan militer. Menurut kronologis yang dibacakan Habib Rizieq, pelatihan militer tersebut kali pertama dilaksanakan dengan tujuan untuk persiapan menghadapi kemungkinan serangan musuh Islam seperti yang terjadi di Palestina kala itu, sekitar tahun 2009.

"Saat itu FPI mengirimkan 125 relawan jihad yang dipersiapkan untuk diberangkatkan ke Palestina di Pondok Pesantren Darul Mujahidin di Aceh. Saat itu, kegiatan seleksi tersebut diketahui pengurus FPI pusat, dan mendapat izin dari pemprov Aceh, Kodam, dan polres setempat," jelasnya.

Dalam kronologis yang disampaikannya, Habib Rizieq mengatakan ada seorang bernama Sofyan Tsauri yang mengaku veteran perang Afghanistan dan pernah mendirikan kamp di Pulau Mindano Filipina untuk menjadi pelatih relawan Aceh yang akan berjihad di Palestina.

"Kemudian sekitar 23 Januari hingga 25 Januari 2009 Sofyan kami terima sebagai pelatih dengan memberikan materi berupa beladiri, fisik hingga pertahanan tanpa senjata api dan kami menggunakan senjata dari kayu untuk latihan perang," jelasnya.

Kemudian pada akhir Januari 2009, DPD FPI Aceh mengirimkan 10 orang terbaik dalam pelatihan tersebut untuk bisa ditampung, diberi rumah, uang saku dan latihan tembak di Jakarta. "Permintaan tersebut disampaikan Sofyan Tsauri itu tanpa pemberitahuan kepada pengurus FPI pusat. Latihan ," ucapnya.

Menurut Habib Rizieq, 10 orang tersebut diberi tempat tinggal yang terletak di belakang kampus Universitas Gunadarma Depok selama dua bulan. Sedangkan latihan menembak dilaksanakan di Mako Brimob. Selain itu, Sofyan yang menurut Habib Rizieq disebut sebagai di belakang layar pelatihan militer di Jalin Janto, melakukan kontak dengan DPD FPI Aceh untuk ditawarkan latihan perang dengan menggunakan senjata sebenarnya.

"Namun DPD FPI Aceh menolak dan tanpa sepengetahuan DPD FPI Aceh dan pengurus FPI Pusat, Sofyan membujuk 10 anggota FPI Aceh yang pernah mengikuti pelatihan menembak di Mako Brimob," jelasnya.

Dari 10 orang yang dibujuk, dua di antaranya, yakni Tengku Mukhtar dan Abu Rimba ikut Sofyan. Dari data yang dimiliki Habib Rizieq, tempat latihan perang, amunisi dan berbagai fasilitasnya sudah tersedia di hutan Jalin tersebut. "Namun yang aneh, setelah itu Sofyan malah pergi dan latihan tersebut terendus Densus 88 serta pasukan dari Brimob, hingga akhirnya terjadi baku tembak dan memakan korban," jelasnya.

Diakui Habib Rizieq, tidak hanya dari FPI saja yang merasa kecolongan karena anggotanya ikut dalam latihan tersebut. Ia menyebut organisasi yang dipimpin Abu Bakar Baasyir juga kecolongan, karena anggotanya ada yang ikut latihan tersebut tanpa persetujuan dan pemberitahuan.

Dalam kesempatan tersebut, Habib Rizieq menyimpulkan bahwa Abu Bakar Baasyir tidak terkait sama sekali dengan kegiatan pelatihan militer di Jalin Janto tersebut. "Aktor utama yang merencanakan pelatihan tersebut adalah Muhammad Sofyan Tsauri yang juga merekrut anggota FPI Aceh tanpa sepengetahuan kami," jelasnya.

Ia mengemukakan selama ini, Abu Bakar Baasyir tidak pernah mengajarkan untuk melanggar aturan agama dan negara atau menganjurkan ajaran terorisme. Masih menurut Habib Rizieq, selama ini Abu Bakar Baasyir tidak menginginkan adanya latihan perang dengan menggunakan senjata, karena saat pertemuan di sebuah restoran pemimpin Jemaah Anshorut Tauhid tersebut menganjurkan pelatihan militer secara fisik saja.

"Suatu hari saya bertemu dengan Syekh Abu Bakar Baasyir, saya katakan kami akan membuat latihan perang, kemudian dia bertanya latihannya menggunakan senjata atau tidak, saya jawab tidak dan latihannya hanya fisik saja. Saat itu, beliau bilang Alhamdulillah dan setuju, karena kalau menggunakan senjata benar, akan mendapat hukuman berat dari pemerintah," jelasnya. [eko]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini